<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370</id><updated>2011-12-11T14:04:11.685+07:00</updated><category term='Asas-asas Hukum PIdana'/><category term='7. M. Fajrul Falah'/><category term='8. Frans H. Winata'/><category term='2. J.E Sahetapy'/><category term='Anticorruption'/><category term='Sistem Peradilan'/><category term='5. Sudikno Mertokusumo'/><category term='4. Andi Hamzah'/><category term='1. Mardjono Reksodiputro'/><category term='Terrorism'/><category term='Reformasi KUHAP'/><category term='Criminal Justice Models'/><category term='10. Harkristuti Harkrisnowo'/><category term='Jodi Santoso'/><category term='KUHP dan UU Perubahannya'/><category term='6. Adnan Buyung Nasution'/><category term='Reformasi KUHP'/><category term='3. Romli Atmasasmita'/><category term='Press Release'/><category term='9. Suhadibroto'/><category term='Fundamental Norm'/><title type='text'>M jodi santoso</title><subtitle type='html'>Indonesian Criminal Justice Reform</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>152</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-8831099553580770862</id><published>2011-08-22T20:13:00.000+07:00</published><updated>2011-08-22T20:14:34.015+07:00</updated><title type='text'>Negara Kekeluargaan: Soepomo Vs Hatta</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fpages%2FFB-Hukum%2F116324598418427&amp;amp;layout=button_count&amp;amp;show_faces=false&amp;amp;width=450&amp;amp;action=like&amp;amp;font=arial&amp;amp;colorscheme=light&amp;amp;height=21" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:21px;" allowTransparency="true"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;p&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Bur Rasuanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompas, Rabu, 8 September 1999&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KINI sudah menjadi keyakinan umum bahwa cita-cita reformasi mustahil akan terealisasi tanpa mengamandemen UUD 1945. Tulisan ini tidak membicarakan pasal-pasal yang seyogianya diamandemen, melainkan membicarakan konsep yang mendasari pembentukan UUD 1945 itu sehingga perlu diamandemen, yaitu kekeluargaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekeluargaan diterima sebagai dasar karena dianggap menggambarkan corak pergaulan hidup asli masyarakat di Nusantara. Dalam wacana gerakan kebangsaan pro-proklamasi, kekeluargaan diartikan sama dengan kolektivisme, sebagai lawan individualisme yang telah melahirkan kapitalisme dan imperialisme/kolonialisme yang mereka perangi. Ada beberapa interpretasi kekeluargaan. Bung Karno misalnya, lebih memilih "gotong-royong" karena dianggapnya lebih dinamis. Hatta memberi arti etis, tetapi Soepomo memberi arti organis-biologis. Kekeluargaan organis Soepomo inilah yang mendasari batang-tubuh UUD 1945, yang memang disusun tim yang dipimpin Soepomo sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batang-tubuh UUD harusnya merupakan penjabaran ideal-ideal Pembukaan. Pembukaan yang dilahirkan Panitia-9 - Hatta, Yamin, Soebardjo, Maramis, Soekarno, Kahar Moezakir, Wachid Hasjim, Abikoesno, Agoes Salim - merupakan konsensus fundamental pertama yang mengandung tidak hanya komitmen politik tetapi lebih-lebih komitmen moral masyarakat Indonesia. Disusun dalam bahasa Indonesia yang ekspresif dan indah, Pembukaan menegaskan tujuan negara mewujudkan keadilan sosial berdasarkan kedaulatan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soepomo sependapat untuk membentuk UUD yang berdasar aliran pikiran dalam Pembukaan. Konsekuensinya, "Dalam Undang-undang Dasar kita tidak boleh memasukkan pasal-pasal yang tidak berdasar aliran kekeluargaan" (Risalah Sidang BPUPKI, Setneg, Jakarta, 1995, 265)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi pengertian kekeluargaan Soepomo bertentangan dengan Pembukaan yang orientasi dan semangatnya adalah demokrasi dan egaliter. Batang-tubuh UUD 1945 itu menetapkan prioritas eksekutif dengan kekuasaan dan masa jabatan praktis tak terbatas, mencegah dimasukkannya secara eksplisit sejumlah usul, seperti: komitmen tegas terhadap hak asasi, hak-hak politik, dan desentralisasi, menteri-menteri bertanggung jawab kepada parlemen, hak uji yudisial Mahkamah Agung, pemisahan tegas kekuasaan legislatif-eksekutif-yudikatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari maksud baik Soepomo, UUD yang ia susun itu telah memberi dasar legalitas bagi doktrin seperti Dwifungsi ABRI dan militer terjun dalam politik, sentralisasi kekuasaan, berkuasanya rezim represif otoriter demokrasi terpimpin, moderat maupun konsekuen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang moderat adalah demokrasi terpimpin di bawah Presiden Soekarno yang masih memberi secara terbatas ruang perbedaan dengan membiarkan hidupnya partai-partai dengan ideologi berbeda-beda, dan berniat membangun sosialisme. Yang konsekuen adalah demokrasi terpimpin Presiden Soeharto yang menggabungkan politik kekerasan dengan menghapuskan sama sekali perbedaan pendapat, dan ekonomi kekerasan dengan membebaskan persaingan kapitalisme semuanya, didukung kekerasan militeristik dan mesin birokrasi yang korup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kosmologi Jawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan kekeluargaan Soepomo bertolak dari pemahamannya mengenai negara. Soepomo menjelaskan ada tiga teori negara: teori kontrak dari Hobbes, Locke dan Rousseau; teori kelas dari Marx; dan teori integralistik yang katanya dari Spinoza, Adam Muller, Hegel. Soepomo menolak dua teori pertama dan menganut teori ketiga karena dianggapnya cocok dengan pikiran ketimuran.&lt;br /&gt;Menurut teori itu, negara merupakan susunan masyarakat yang integral, di mana hubungan antarwarga merupakan "persatuan masyarakat yang organis. Negara tidak untuk menjamin kepentingan perseorangan atau golongan melainkan untuk "menjamin kepentingan masyarakat seluruhnya" (Risalah, 33).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh negara integralistik adalah Jerman Nazi dan kekaisaran Dai Nippon. Dasar totaliter negara Jerman Nazi adalah persatuan antara pemimpin dan rakyat; dasar negara Jepang adalah kekeluargaan, yaitu hubungan lahir batin di bawah keluarga Kaisar Tenno Heika. Menurut Soepomo "Dasar persatuan dan kekeluargaan ini sangat sesuai dengan corak masyarakat Indonesia" (Risalah, 35).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sama seperti keluarga dipimpin seorang bapak, "Dasar kekeluargaan menghendaki sistem pemerintahan, yang menganggap Pemerintah pada umumnya dan Kepala Negara pada khususnya sebagai Kepala Keluarga besar, yang terdiri atas seluruh rakyat." Maka sistem parlementer harus ditolak karena "Pemerintah harus diberi kepercayaan untuk memegang kekuasaan yang tetap, yang tidak digantungkan kepada kekuasaan Dewan Perwakilan Rakyat." (Risalah, 274).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam negara kekeluargaan integralistik, rakyat dan pemimpin itu satu, dan kesatuan itu dipahami dari perspektif kosmologi Jawa. Soepomo mengklaim "Semangat kebatinan, struktur kerohanian dari bangsa Indonesia bersifat dan bercita-cita penentuan hidup, persatuan kawulo dan gusti, yaitu persatuan antara dunia luar dan dunia batin, antara makrokosmos dan mikrokosmos, antara rakyat dan pemimpinnya." (Risalah, 35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga yang mempersoalkan hak dianggap mencurigai pemerintah. Soepomo menentang usul Hatta agar hak berkumpul dan hak berserikat dicantumkan eksplisit dalam UUD. "Tuan Hatta bertanya", kata Soepomo, "bagaimana haknya orang seorang untuk bersidang jikalau dilanggar oleh pemerintah. Pertanyaan ini berdasar atas kecurigaan kepada pemerintah yang dalam menyelenggarakan kepentingan negara dianggap selalu menentang kepentingan orang seseorang. Dengan lain perkataan pernyataan Tuan Hatta timbul dari sikap individualisme, yang kami tolak (Risalah, 275-76).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah dasar kekeluargaan Soepomo, ide totaliter yang menggabungkan paham persatuan Nazi Jerman, kekeluargaan kekaisaran (militerisme) Jepang dan kosmologi Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan fundamental&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekeluargaan organis Soepomo menderita kelemahan fundamental dan fatal sekurang-kurangnya karena:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kekeluargaan Soepomo mengingkari fakta etno-historis bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa pluralistik dengan aneka suku-bangsa, agama, anutan nilai yang berbeda-beda, bahkan mungkin bertentangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum ada dua cara melihat kesatuan politik yang disebut rakyat (baca: bangsa): unitaris dan pluralis. Pandangan unitaris memahami rakyat atau bangsa sebagai kumpulan atau agregasi individu-individu lepas atau atomis dan baru dipersatukan oleh dan mendapat makna dari organisasi yang disebut negara. Pandangan pluralis, sebaliknya memahami bangsa sebagai kesatuan individu-individu yang masing-masing sudah dalam konteks jaringan ikatan loyalis tertentu (suku, agama, wilayah tradisionalnya). Paham pluralis merumuskan bangsa dari fakta sosial atau etno-historis; paham unitaris merumuskan bangsa dari konsep abstrak apriori. (BR, Rakyat, Kompas, 16/7/96).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekeluargaan Soepomo mereduksi fakta etno-historis (pluralis), ke konsep abstrak apriori (unitaris). Ikatan-ikatan dibongkar, warga dilucuti dari loyalitas dan ikatan lokal-tradisionalnya. Aceh, Minang, Banjar, Irian, semua itu tidak lagi riil dan sudah masa lalu. Tetapi persatuan kawulo dan gusti secara konsepsional bukan hanya menggambarkan hubungan rakyat dan pemimpin, melainkan juga menggambarkan supremasi puak kultural dominan sebagai gusti atas yang selebihnya sebagai kawulo.&lt;br /&gt;Kekeluargaan organis melenyapkan keunikan individualitas unsur-unsur. Konflik diingkari, tak perlu belajar berbeda. Yang diakui hanya bersatu. Hatta akan menyebutnya persatoean, persatuan ala Sumpah Palapa yang mudah menjadi ideologi dominasi dan penindasan. Setelah setengah abad, bukan persatuan yang makin kukuh, melainkan tuntutan berpisah yang meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, anggapan memasukkan HAM dan hak-hak politik dalam UUD berarti menganut individualisme, sukar dipertahankan. Hatta dan Yamin sudah membantah dengan argumen-argumen yang sudah amat modern. Bagi Hatta pencantuman hak-hak politik untuk mencegah negara menjadi negara kekuasaan, negara penindas, dan bukannya negara pengurus. Dan Yamin menegaskan, "Aturan dasar tidaklah berhubungan dengan liberalisme, melainkan semata-mata suatu keharusan perlindungan kemerdekaan, yang harus diakui dalam Undang-undang Dasar", (Risalah, 293).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengakuan terhadap HAM tidak ada hubungan dengan individualisme, melainkan semata-mata sebagai penghormatan terhadap martabat manusia sebagai makhluk moral tanpa membedakan etnis, agama, keyakinan politik, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, anggapan bahwa kepala negara sama dengan posisi bapak dalam keluarga mengacaukan konsep politik dengan konsep antro-biologis. Negara dan posisi pemimpin negara tak mungkin disamakan dengan keluarga dan posisi pemimpin keluarga. Hubungan, hak, dan tanggung jawab seorang bapak terhadap anggota keluarganya, sama sekali berbeda dari hubungan, hak, dan tanggung jawab pemimpin dengan rakyatnya. Kekacauan konsepsional ini melahirkan konsekuensi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1). Justru karena posisi pemimpin adalah Bapak yang menentukan segalanya, negara kekeluargaan mudah sekali menjadi negara (untuk) keluarga. Gambaran lengkap diperlihatkan rezim Orde Baru kemarin. Nepotisme, juga kolusi dan korupsi, dijamin Keppres dan Inpres. Jabatan-jabatan publik, departemen, BUMN, proyek-proyek pemerintah, kredit bank, dan berbagai rente ekonomi dibagi-bagi antara keluarga dan kroni. DPR/ MPR tak ubahnya badan musyawarah sanak keluarga di mana bapak, istri, anak-anak, keponakan, mertua, cucu, diangkat menjadi anggota melalui proses kolusi dan nepotisme. Bukan kebetulan tokoh sejarah terpenting Orde Baru, sesudah Soeharto bukan Hatta, apalagi Soekarno, melainkan Soepomo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2). Identifikasi kepala negara sebagai Bapak itu mengandung kerancuan gender (patriarchal bias). Apabila harus diartikan harafiah, maka yang memimpin Republik Indonesia selamanya seorang Bapak, tidak pernah seorang Ibu. Mereka yang tidak menghendaki RI dipimpin seorang presiden perempuan dapat menemukan dalih konstitusionalnya dalam kekeluargaan Soepomo. Sebaliknya apabila identifikasi Bapak negara tidak harus ditafsirkan harafiah, maka konsep kekeluargaan organis itu dengan sendirinya runtuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara daulat rakyat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontras dengan paham Soepomo adalah paham kekeluargaan Hatta. Bertentangan dengan Soepomo yang menganggap hanya ada satu corak pergaulan hidup asli dan itu pun selalu dikembalikan ke model persatuan kawulo dan gusti, bagi Hatta, dan juga Soekarno, pergaulan hidup asli masyarakat Indonesia itu tidak satu melainkan dua. Yaitu pergaulan hidup kaum ningrat dan raja-raja yang hierarkhis, dan pergaulan hidup rakyat yang simetris di luar lingkungan istana/keraton. Kekeluargaan adalah khas pergaulan hidup rakyat, tidak di lingkungan istana. Dalam arti inilah kekeluargaan identik dengan kolektivisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dari Soepomo, Hatta memahami kolektivisme itu dalam interaksi sosial dan proses produk di pedesaan. Isinya adalah tolong-menolong. Kolektivisme mengandung dua elemen: milik bersama dan usaha bersama. Dalam masyarakat desa tradisional, hal itu dicerminkan pada tanah yang dimiliki bersama dan dikerjakan bersama. Jadi kolektivisme Hatta diterjemahkan dalam milik kolektif atas alat-alat produksi, yang diusahakan bersama untuk memenuhi kebutuhan bersama. (Kumpulan Karangan, Bulan Bintang, 138-44)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Hatta, kolektivisme ada dua: tua dan muda. Dalam kolektivisme muda tanah sudah menjadi milik perorangan, artinya sudah melahirkan individualisme. Namun tidak menghancurkan sendi-sendi kolektivisme karena usaha bersama justru makin diperlukan akibat spesialisasi pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kolektivisme baru satu dari tiga elemen dari yang disebut Hatta demokrasi asli. Dua lainnya adalah rapat, di mana utusan rakyat bermusyawarah, dan massa protest, cara rakyat menolak tindakan tidak adil penguasa. Negara kekeluargaan Hatta, yang disebutnya negara pengurus, adalah transformasi demokrasi asli itu ke konteks modern: elemen rapat dijelmakan dalam badan-badan perwakilan rakyat, tradisi massa protest menjadi dasar hak kebebasan berkumpul dan menyatakan pendapat, dan kolektivisme diwujudkan dalam koperasi. Jadi di atas rapat dan massa protest dibangun demokrasi politik, di atas kolektivisme dibangun demokrasi ekonomi dan sosial. Itulah gambaran negara Hatta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Individualisme, menurut Hatta, jangan dibendung dengan kembali ke kolektivisme tua, melainkan dengan "mendudukkan cita-cita kolektivisme itu pada tingkat yang lebih tinggi dan modern, yang lebih efektif dari individualisme" (Hatta, Demokrasi Kita..., UI Press, 1992, 147)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soepomo justru melakukan itu: melawan individualisme dengan menetap di masa lalu. Sehingga sementara negara kekeluargaan Hatta hendak menjadi negara pengurus, negara daulat rakyat, negara kekeluargaan Soepomo ternyata merupakan negara kekuasaan, negara daulat tuanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(* Bur Rasuanto, Pengarang, doktor dalam filsafat sosial.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/12/kajian-terhadap-ruu-kuhap-i.html"&gt;CATATAN AWAL TENTANG R KUHAP (I)&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/perpu-bukan-hak-tanpa-batas-dari.html"&gt;Memburu Teroris&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/04/catatan-singkat-politik-hukum-pembaruan.html"&gt;Catatan Singkat Politik Hukum Pembaruan Hukum Pidana Materiel Di Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/02/model-grand-jury-dalam-kuhap-mendatang.html"&gt;Model Grand Jury Dalam KUHAP Mendatang, Mungkinkah?&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;-------------&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--google_ad_client = "pub-0322482754711325";/* 336x280, created 1/14/10 */google_ad_slot = "1724941329";google_ad_width = 336;google_ad_height = 280;//--&gt;&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript"src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;&lt;/script&gt;--------------------                      &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-8831099553580770862?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/8831099553580770862/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=8831099553580770862' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/8831099553580770862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/8831099553580770862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2011/08/negara-kekeluargaan-soepomo-vs-hatta.html' title='Negara Kekeluargaan: Soepomo Vs Hatta'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-8753823709736642841</id><published>2011-05-12T18:53:00.000+07:00</published><updated>2011-05-14T03:44:21.277+07:00</updated><title type='text'>PROSES LEGISLASI : MEMBENDUNG OLIGARKI MEWUJUDKAN DEMOKRASI</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fpages%2FFB-Hukum%2F116324598418427&amp;amp;layout=button_count&amp;amp;show_faces=false&amp;amp;width=450&amp;amp;action=like&amp;amp;font=arial&amp;amp;colorscheme=light&amp;amp;height=21" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:21px;" allowTransparency="true"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;p&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh M Jodi Santoso&lt;br /&gt;sumber: Newsletter Komisi Hukum Nasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amandemen konstitusi telah mengubah pola kekuasaan dari yang sebelumnya yang semula kekuatan berada pada eksekutif (executive heavy) menjadi penguatan legislatif (legislative heavy). legislative heavy  ditandai dengan bertambahnya peran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam hal: penguatan posisi yang lebih dominan dari pada pemerintah dalam hal pembentukan undang-undang, pengangkatan dan penerimaan duta besar memilih anggota lembaga-lembaga negara. Pergeseran pendulum ini bertujuan untuk mewujudkan proses politik dan legislasi yang demokratis. Politik hukum demikian menghindarkan praktik politik pada masa orde baru non demokratis. &lt;br /&gt;Meski UUD NRI Tahun 1945 membangun sistem hukum dan politik yang lebih demokratis, tetapi perlu memperhatikan dan membaca catatan sejarah tentang perubahan konfigurasi politik. Mahfud MD (1998: 317) dalam studinya menjabarkan terjadinya pergeseran konfigurasi politik dalam setiap orde pemerintahan. Pada orde lama dari yang demokratis (liberal) menjadi otoriter sedangkan pada masa orde baru pada awalnya bersifat demokratis tapi kemudian menuju proses non demokratis. Sejarah tersebut menjadi penting karena selama dua belas tahun reformasi demokratisasi masih bersifat formal prosedural belum menyentuh subtansinya. &lt;br /&gt;Pada awal reformasi, masyarakat  menaruh harapan besar kepada DPR yang dililih secara langsung oleh rakyat untuk membuat peraturan peraundang-undangan yang mengakomodasi tuntutan publik. Dalam perjalannya, fungsi legislasi DPR dijalankan tanpa visi yang jelas. Dalam catatan PSHK (2010), kebijakan DPR sulit dipetakan karena lebih mengarah pada kepentingan pemerintah. Begitu halnya dengan pola legislasi yang tidak jelas dan yang cenderung menguatkan kebijakan pemerintah.&lt;br /&gt;Dalam kurun waktu setahun terakhir terjadi ketimpangan implementasi fungsi utama DPR. Dinamika politik dan hukum selama ini memberikan kontribusi signifikan terhadap pada DPR melakukan fungsi pengawasan. Hal demikian berbeda dengan pelaksanaan fungsi legislasi dan anggaran yang hasilnya tidak sesuai dengan hingar bingar dalam proses pengawasan. Kasus Century, cicak dan buaya, Gayus Tambunan, angket pajak merupakan deretan kasus yang saling berkaitan dan terakhir perkara pembobolan nasabah dan meninggalnya nasabah kartu kredit Citybank banyak menjadi menyita perhatian DPR. Pengawasan DPR berhenti di ruang DPR dan penyampaian hasil rekomendasi yang dikeluarkan tanpa ada pengawasan lanjutan yang sepadan. Berhentinya kasus-kasus besar tersebut memunculkan pertanyaan besar fungsi pengawasan DPR dilaksanakan untuk merespon kepentingan rakyat atau hanya sebagai instrumen kepentingan yang mengatasnamakan rakyat.&lt;br /&gt;Bertolak belakang dengan ‘hingar bingar’ pelaksanaan fungsi pengawasan, dalam menjalankan legislasi pada tahun 2010, kinerja DPR jauh dari target program legislasi nasional (Prolegnas). Belajar dari kinerja DPR tahun 2004/2009, dalam kurun waktu 2005 hingga 2010, capain keberhasilan penyelesaian pembahasan RUU tertinggi dilakukan pada tahun 2008 yang telah menyelesaikan pembahasan dan menetapkan 61 RUU menjadi undang-undang. Akan tetapi, dari 61 RUU yang disahkan tersebut, 61 % (37 RUU) adalah RUU luncuran (27 RUU pemekaran, 3 RUU ratifikasi, 4 RUU pengesahan Perppu, dan 3 RUU APBN) di luar prolegnas yang pembahasannya tidak membutuhkan pembahasan serius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membendung Oligarki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi sebagai lawan dari otoritarianisme menjadi pilihan negara hukum modern (moderne rechtsstaat) dalam menerapkan sistem pemerintahannya. Dalam perkembangannya, negara modern menuju perwujudan negara kesejahteraan (welfare state) sebagai akibat kegagalan peran negara sebagai penjaga malam (nachtwachterastaat) bidang politik dan ekonomi yang sandarkan pada individualis kapitalisme. Menurut Carter &amp; Herts, dalam negara kesejahteraan, untuk mewujudkan kemakmuran rakyat, negara harus campur tangan ke dalam kehidupan sehari-hari dapat berdampak pada pemerintahan besar baik dalam jumlah maupun dalam lingkup tanggung jawabnya (Miriam Budiardjo: 1977, 76 – 78) . Peran aparatur negara dalam memberi pelayanan dan menyelenggarakan kesejahteraan umum (bestuurszorg, service public) yang dijalankan dalam suasana yang bebas (freies ermenssen) berpotensi menuju negara intervensionis (intervensionis state) dan maladministrasi. Dalam kondisi demikian, pengawasan terhadap eksekutif menjadi penting. DPR dapat menjadi penyeimbang dan melakukan kontrol politik terhadap tindakan pemerintah. Sebaliknya, jika DPR terkooptasi oleh kekuatan dan kekuasaan eksekutif maka akan memunculkan oligarki dalam sistem demokrasi formal.&lt;br /&gt;Talcott Parson melalui Teori Sibernetika-nya memperingatkan bahwa dalam sistem kehidupan kemasyarakatan, arus energi subsistem ekonomi menempati kedudukan paling kuat, diikuti subsistem politik, subsistem sosial (hukum), dan terakhir adalah subsistem budaya.  Sebaliknya dalam arus informasi, energi budaya lebih besar yang mempengaruhi subsistem sosial, politik, dan ekonomi. (Satjipto Rahardjo, 1985).  Beranjak dari arus energi menurut teori Sibernetika demikian, maka hukum adalah produk politik yang dipengaruhi oleh energi ekonomi. Sebaliknya, hukum bisa menjadi produk budaya jika memanfaatkan energi informasi budaya. &lt;br /&gt;DPR dapat memerankan dua arus yang disampaikan Parson di atas. DPR yang memegang kekuasaan politik dapat melakukan kontrol terhadap kekuasaan eksektif atau menjadi kepanjangan tangan pemerintah. Melihat kondisi demikian, fungsi kontrol tidak hanya diberikan pada DPR tetapi pemerintah dan DPR merupakan lembaga yang harus dikontrol. Trias politika telah memberikan kewenangan pada kekuasaan kehakiman melakukan kontrol terhadap eksekutif dan legislatif. Dalam konteks kontrol terhadap peraturan-perundangan, tidak ada jaminan absolut bahwa norma hukum selaras karena organ hukum yang berwenang membuat norma hukum menciptakan norma-norma yang saling bertentangan (Hans Kelsen: 1967, 205). Oleh karena itu, Kelsen memberikan jalan untuk melakukan revisi baik secara biasa (ordinary way) melalui executive review maupaun legislative review maupun secara exra-ordinary way melalui judicial review. (Hans Kelsen: 1961, 159). Jalan yang ditawarkan Kelsen dapat berjalan jika, kekuasaan kehakiman dapat menjalankan fungsinya secara independen dan bukan menjadi perluasan sistem oligarki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transparansi Legislasi &lt;br /&gt;Demokratisasi secara signifikan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap hukum dan politik. Implementasi demokrasi perwakilan tidak berhenti pada penyerahan kedaulatan rakyat pada wakil-wakilnya di DPR. Demokrasi perwakilan bukan menyerahan kedaulatan. Rakyat masih bisa menyampaikan ketidaksetujuannya terhadap pengambilan keputusan yang diambil oleh DPR dan Pemerintah dengan melakukan judicial review. Semakin banyaknya peraturan perundang-undangan yang ajukan judicial review menunjukkan tingkat pemahaman rakyat dalam menggunakan hak-haknya.&lt;br /&gt;Bagi DPR, fakta banyaknya masyarakat mengajukan judicial review harus direspon secara positif. Legislasi yang berkembang  saat ini cenderung merespon kebutuhan perubahan dengan pengeluaran undang-undang. Penyusunan prolegnas tidak disertai dengan data-data atau hasil kajian yang valid. Kebanyakan Prolegnas atau RUU inisiatif DPR hanya mengajukan judulnya saja, tanpa disertai dengan naskah akademik atau kajian-kajian sebelumnya yang membuktikan bahwa RUU tersebut penting bagi kehidupan Indonesia. Keinginan sekelompok masyarakat untuk mengajukan RUU yang tidak jelas apa tujuan pengaturannya bagi masyarakat tidak harus diwujudkan dalam RUU sendiri. &lt;br /&gt;DPR perlu lebih membuka akses publik dalam proses legislasi. Perlu perubahan manajemen yang terjadi selama ini sifat tertutup dalam proses penyiapan dan pembahasan RUU di internal pemerintah maupun DPR. Mekanisme partisipasi dan transparansi harus dibangun dengan baik di tingkat internal pemerintah dan DPR. DPR harus mampu mewujudkan negara hukum yang demokratis (democratische rechtsstaat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/12/kajian-terhadap-ruu-kuhap-i.html"&gt;CATATAN AWAL TENTANG R KUHAP (I)&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/perpu-bukan-hak-tanpa-batas-dari.html"&gt;Memburu Teroris&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/04/catatan-singkat-politik-hukum-pembaruan.html"&gt;Catatan Singkat Politik Hukum Pembaruan Hukum Pidana Materiel Di Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/02/model-grand-jury-dalam-kuhap-mendatang.html"&gt;Model Grand Jury Dalam KUHAP Mendatang, Mungkinkah?&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;-------------&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--google_ad_client = "pub-0322482754711325";/* 336x280, created 1/14/10 */google_ad_slot = "1724941329";google_ad_width = 336;google_ad_height = 280;//--&gt;&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript"src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;&lt;/script&gt;--------------------                      &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-8753823709736642841?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/8753823709736642841/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=8753823709736642841' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/8753823709736642841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/8753823709736642841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2011/05/proses-legislasi-membendung-oligarki.html' title='PROSES LEGISLASI : MEMBENDUNG OLIGARKI MEWUJUDKAN DEMOKRASI'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-2766334525959228426</id><published>2010-12-10T14:27:00.001+07:00</published><updated>2010-12-10T15:54:51.219+07:00</updated><title type='text'>"Monarki Yogya" Inkonstitusional?</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fpages%2FFB-Hukum%2F116324598418427&amp;amp;layout=button_count&amp;amp;show_faces=false&amp;amp;width=450&amp;amp;action=like&amp;amp;font=arial&amp;amp;colorscheme=light&amp;amp;height=21" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:21px;" allowTransparency="true"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MOHAMMAD FAJRUL FALAAKH&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;KompAS, Rabu, 1 Desember 2010 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hendak mengakhiri sistem monarki di Provinsi Yogyakarta. SBY dapat memanfaatkan 50 persen suara eksekutif dalam legislasi, Pasal 20 Ayat (2) UUD 1945, didukung menguatnya keterpilihan pada Pemilihan Presiden 2009 dan kenaikan sekitar 300 persen kursi Partai Demokrat di DPR pada Pemilihan Umum 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SBY salah paham. Sistem pemerintahanDIY diatur UU Nomor 32 Tahun 2004. Namun, Pasal 226 Ayat (2) UU No 32/ 2004 merujuk penjelasan Pasal 122 UU No 22/1999 bahwa ”... isi keistimewaannya adalah pengangkatan Gubernur dengan mempertimbangkan calon dari keturunan Sultan Yogyakarta dan Wakil Gubernur dengan mempertimbangkan calon dari keturunan Paku Alam yang memenuhi syarat sesuai dengan undang-undang ini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisa keistimewaan itu dikenai label ”monarki Yogya” dalam Republik Indonesia. SBY membenturkannya dengan konstitusi dan nilai demokrasi. Dirujuknya Pasal 18 Ayat (4) UUD 1945 yang mengharuskan gubernur, bupati, dan wali kota dipilih secara demokratis serta Pasal 1 tentang bentuk negara republik dan kesatuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perspektif historis konstitusional dan ius constitutum, tujuh faktor mendasari keberadaan Yogya: watak hubungan pusat-daerah yang tak seragam, konsep daerah istimewa, asal-usul Yogya dan prosesnya bergabung dengan Indonesia, perannya dalam revolusi kemerdekaan, statusnya dalam perkembangan konstitusi dan legislasi, serta berlakunya lex specialis dalam amandemen konstitusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah istimewa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari setelah Indonesia merdeka, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia menetapkan konstitusi negara. Pasal 18 UUD 1945 pra-amandemen menyatakan: ”Besar-kecilnya pembagian daerah Indonesia dan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan undang-undang, dengan memandang dan mengingati dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintah negara, dan hak-hak asal-usul dari daerah-daerah yang bersifat istimewa”. Inilah versi desentralisme majemuk tentang bentuk negara kesatuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan Pasal 18, yang terbit pada Februari 1946, menyebut dua macam daerah istimewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, daerah swapraja atau zelf - besturende landschappen yang pada masa Hindia Belanda berhubungan tak langsung dengan pemerintah, Pasal 21 Ayat (2) Indische Staatsregeling, dan disebut Kooti pada masa Jepang. Kategori ini mencakup Negari Ngajogjakarta Hadiningrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, persekutuan hukum adat atau zelfstandige volksgemeenschappen yang mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri serta memiliki asal-usul dan susunan asli, Pasal 128 Ayat (3) Indische Staatsregeling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan Aturan Peralihan UUD 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia memilih presiden dan wakil presiden secara aklamasi, kemudian menetapkan kementerian, sejumlah provinsi dan keresidenan, serta komite nasional daerah untuk membantu kepala daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan Hamengku Buwono IX dan Adipati Paku Alam VIII tidak bergabung dengan Belanda. Menurut ”Piagam Kedoedoekan dari Presiden Soekarno” (19/8/1945) maupun ”Maklumat Dua Radja” (5/9/1945), Negari Ngajogjakarta Hadiningratberintegrasi ke dalam Indonesia dan berstatus daerah istimewa sehingga menambah wilayah kepada bekas Hindia Belanda; kedudukan kepala daerahnya melekat pada Sultan dan Paku Alam yang berhubungan langsung dengan presiden RI. Presiden Soekarno mengumumkannya pada 19 Oktober 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, gempuran menyerbu Indonesia yang tanpa kekuatan militer efektif. Gyugun atau Peta dan Heiho dibubarkan Jepang, Tentara Keamanan Rakyat harus berkonsolidasi karena baru dibentuk (5/10/1945). Belanda membonceng tentara Amerika yang berhasil menguasai Jakarta, Bandung, dan Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pertempuran 10 November pecah di Surabaya, harian Kedaoelatan Rakjat di Yogyakarta (24/10/1945) memberitakan kewaspadaan ”akar rumput” berbentuk Resoloesi Djihad Nahdlatul Ulama yang mewajibkan tiap-tiap muslim mempertahankan kemerdekaan Indonesia (Surabaya, 22/10/1945).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Api revolusi terus digelorakan meski ibu kota Indonesia harus dipindahkan ke Yogya (Januari 1946). Yogya jadi Kota Revolusi atau Kota Perjuangan. Kedua rajanya ikut menanggung pembiayaan pemerintahan dan digunakan dalam sebutan ”RI Yogya” karena jadi konstituen Negara Bagian RI dalam Republik Indonesia Serikat (1949-1950).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan konstitusi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keistimewaan Yogya diakui oleh Konstitusi RIS 1949. Melalui UU No 3 Tahun 1950 (Maret), Negara Bagian RI menyebutnya sebagai Daerah Istimewa Yogyakarta dan setingkat provinsi. UUD Sementara 1950 mengatur serupa dan UU No 1 Tahun 1957 mengatur khusus status kepala daerah istimewa dan wakilnya serta kedudukan keuangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah UUD 1945 diberlakukan kembali pada tahun 1959, UU No 18 Tahun 1965 menegaskan bahwa kepala daerah dan wakil kepala DIY tak terikat jangka waktu masa jabatan. Orde Baru melanjutkan pengaturan ini, Pasal 91 UU No 5 Tahun 1974.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Presiden Soeharto mundur pada 1998, aturan itu diteruskan oleh UU No 22 Tahun 1999, tetapi penyelenggaraan pemerintahannya berdasarkan UU ini. Amandemen Pasal 18 UUD 1945 kemudian mengharuskan gubernur, bupati, dan wali kota dipilih secara demokratis, lex generalis , sekaligus mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa, lex specialis. Maka, UU No 32 Tahun 2004 mempertahankan keistimewaan Yogya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga Yogya tentu mematuhi Maklumat September 1945 bahwa Yogya adalah bagian Indonesia. Sampaikanlah pendapat tentang kepala daerah kalau Presiden SBY bertanya melalui plebisit. Kita tunggu akankah referendum Indonesia ”memerdekakan” Yogya atau amandemen UUD 1945 meniadakan keistimewaan daerah dari dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama para pendiri Indonesia, saya berterima kasih kepada almarhum Hamengku Buwono IX dan Paku Alam VIII karena kerajaannya dijadikan singgasana bagi jiwa-jiwa Indonesia merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MOHAMMAD FAJRUL FALAAKH Dosen Fakultas Hukum UGM; Lahir di Gresik, Jawa Timur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/12/kajian-terhadap-ruu-kuhap-i.html"&gt;CATATAN AWAL TENTANG R KUHAP (I)&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/perpu-bukan-hak-tanpa-batas-dari.html"&gt;Memburu Teroris&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/04/catatan-singkat-politik-hukum-pembaruan.html"&gt;Catatan Singkat Politik Hukum Pembaruan Hukum Pidana Materiel Di Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/02/model-grand-jury-dalam-kuhap-mendatang.html"&gt;Model Grand Jury Dalam KUHAP Mendatang, Mungkinkah?&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;-------------&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--google_ad_client = "pub-0322482754711325";/* 336x280, created 1/14/10 */google_ad_slot = "1724941329";google_ad_width = 336;google_ad_height = 280;//--&gt;&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript"src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;&lt;/script&gt;--------------------                      &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-2766334525959228426?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/2766334525959228426/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=2766334525959228426' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/2766334525959228426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/2766334525959228426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2010/12/monarki-yogya-inkonstitusional.html' title='&quot;Monarki Yogya&quot; Inkonstitusional?'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-4713222707031273834</id><published>2010-09-24T17:06:00.003+07:00</published><updated>2010-09-24T17:52:08.124+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jodi Santoso'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sistem Peradilan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reformasi KUHAP'/><title type='text'>Merekayasa PPATK</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fpages%2FFB-Hukum%2F116324598418427&amp;amp;layout=button_count&amp;amp;show_faces=false&amp;amp;width=450&amp;amp;action=like&amp;amp;font=arial&amp;amp;colorscheme=light&amp;amp;height=21" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:21px;" allowTransparency="true"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jodi Santoso&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyelesaian skandal dana talangan (bail-out) Bank Century yang sementara ini berhenti sampai proses politik di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) memaksa Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK- The Indonesian Financial Transaction Reports and Analysis Centre (INTRAC) menyampaikan masukan ke BPK dan ke DPR seputar aliran dana. Muncul perdebatan, boleh tidaknya PPATK menyampaikan data hasil analisisnya sebagai data intelijen dan menyangkut kerahasiaan bank ke lembaga lain. Perdebatan tersebut muncul didorong pertanyaan besar jika terjadi dugaan tindak pidana pencucian uang (money laundering) dalam kasus Bank Century apakah PPATK telah menyampaikan ke kepolisian dan kejaksaan dan bagaimana kelanjutan kasusnya.&lt;br /&gt;UU No 15/2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana diubah berdasarkan UU No 25/2003 (UU anti pencucian uang) sendiri telah membatasi tugas dan kewenangan PPATK dalam kaitannya dengan penyampaian data. Setidaknya terdapat 4 (empat) ketentuan yang mengatur yaitu: (1) Pasal  25 ayat (3) menegaskan PPATK dapat melakukan kerjasama dengan pihak terkait sebatas pertukaran informasi, bantuan teknis, dan pendidikan/pelatihan (penjelasan); (2) Pasal 26 huruf b, di mana PPATK dapat memberikan nasihat dan bantuan kepada instansi yang berwenang sesuai ketentuan undang-undang; (3) menyampaikan laporan indikasi tindak pidana pencucian uang pada kepolisian dan kejaksaan, serta (4) meminta laporan perkembangan penyidikan dari kepolisian dan penuntutan dari kejaksaan.&lt;br /&gt;Upaya kerja sama PPATK dengan lembaga lain tidak dapat dilakukan di luar ketentuan yang ada. Memorandum of understanding (MoU) antara PPATK dengan lembaga lain baik dalam maupun luar negeri tidak dapat membuat norma-norma baru di luar ketentuan yang ada.  &lt;br /&gt;Terlepas perdebatan dan kelanjutan perkara Bank Century, isu besar yang menyerempet Presiden, Wakil Presiden, Menteri Keuangan tersebut telah membawa PPATK dalam arus politik. Perkara pun sementara berhenti pada proses politik tanpa ada proses hukum. Peran penting PPATK dalam melacak aliran dana di bank dan kewenangannya dalam menerobos kerahasiaan bank menjadikan PPATK sebagai lembaga yang berpotensi berada dalam sebuah rekayasa untuk kepentingan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguatan Peran PPATK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPATK sebagai subrezim dari rezim anti pencucian uang di Indonesia dibentuk untuk pencegahan dan memberantas kejahatan lintas negara yang terorganisir seperti terorisme dan pencucian uang. Pendekatan yang digunakan oleh regim anti pencucian uang berbeda dengan pemberantasan tindak pidana biasa yang dilakukan secara konvensional. Pendekatan regim anti pencucian uang adalah mengejar uang atau harta kekayaan yang diperoleh dari hasil kejahatan. Alasan yang mendasari pendekatan tersebut selain lebih mudah mengejar hasil kejahatan dari pada pelakunya juga didasarkan pada alasan bahwa hasil kejahatan merupakan darah yang menghidupi tindak pidana (live bloods of the crime). PPATK sebagai financial intelligence unit (FIU) mempunyai peran strategis dalam memberantas pencucian uang secara preventif maupun represif.&lt;br /&gt;Dalam kedudukan tersebut, dibutuhkan payung hukum yang kuat bagi PPATK untuk menjalankan tugas dan kewenangannya. Meski melakukan tindakan yang hampir sama dengan fungsi penyelidikan, tetapi data intelijen PPATK bukanlah data yang kedudukan dapat disamakan dengan data hasil penyelidikan. Hal demikian sering kali menjadikan kepolisian melakukan penyelidikan ulang dugaan tindak pidana pencucian uang meski ada data yang dihasilkan PPATK.  Pada sisi lain, UU tentang Tindak Pidana Pencucian Uang yang ada saat ini menentukan jika ditemukan adanya indikasi terjadinya tindak pidana pencucian uang, hanya kepolisian sebagai penyidik dan kejaksaan sebagai penuntut umum yang berhak menerima data PPATK (Pasal 26 huruf g jo Pasal 27 ayat (1) huruf b).&lt;br /&gt;Untuk lebih mengefektifkan pemberantasan tindak pidana pencucian uang perlu memberikan kewenangan penyelidikan kepada PPATK. Kewenangan penyelidikan yang dilakukan PPATK dapat dilakukan secara bersama dengan penyelidik lain dalam sebuah penyelidikan bersama di bawah koordinasi PPATK.  Lebih luas lagi, upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dalam dilakukan koordinasi antar lembaga penegak hukum sebagaimana diamanatkan Pasal 29 B UU No 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang dengan membentuk Komite Koordinasi Nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Multi Invetigator system &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara khusus peran PPATK adalah upaya pencegahan dan pemberantasan money laundering.  Pengkhususan demikian tidak berarti pencegahan dan pemberantasan money laundering terlepas dari pencagahan dan pemberantasan tindak pidana yang lain. pencegahan dan pemberantasan money laundering menjadi pintu masuk untuk penanggulangan kejahatan secara umum yaitu memberantas kejahatan asal (predicate crime) yang sulit diberantas dengan cara konvensional. Peran PPATK dalam pencegahan dan pemberantasan money laundering dengan sendirinya membantu penegak hukum terutama penyidik dalam sistem peradilan pidana..&lt;br /&gt;Sistem peradilan pidana saat ini mengalami perubahan yang ditandai dengan pemberian kewenangan kepada instansi lain di luar kepolisian sebagai penyidik.  Selain KUHAP yang memberikan kewenangan kepada kepolisian dan Pejabat pegawai negeri sipil (PPNS) sebagai penyidik, beberapa undang-undang sektoral juga memberikan kewenangan kepada kementerian/departemen untuk bertindak sebagai penyidik. PNS dari departemen/kementerian ini berwenang menyidik tindak pidana tertentu yanng kemungkinan berkaitan dengan tindak pidana pencucian uang.&lt;br /&gt;Pada sisi lain, dalam UU anti pencucian uang, kewenangan penyidikan hanya diberikan kepada Polri sebagai satu-satunya penyidik yang berwenang melakukan penyidikan tindak pidana pencucian uang. Ketentuan demikian menjadi kendala dalam penegakan hukum jika tidak ada koordinasi antara kepolisian sebagai penyidik tindak pidana pencucian dan penyidik lain yang melakukan penyidikan tindak pidana asal. &lt;br /&gt;Kendala tersebut perlu diperhatikan dalam proses legislasi dengan membuat kebijakan pemencaran penyidikan tindak pidana pencucian uang terhadap penyidik lain selain kepolisian. Dengan demikian, penyampaian data PPATK dan/atau hasil penyelidikan PPATK tidak hanya terbatas pada kepolisian dan kejaksaan saja tetapi dapat juga disampikan kepada penyidik yang melakukan penyelidikan tindak pidana asal yang sekaligus menyidik dugaan tindak pidana pencucian uang.&lt;br /&gt;Penguatan peran dan pemberian kewenangan tambahan kapada PPAT serta pemencaran penyidikan merupakan langkah untuk mengefektifkan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang. Rekayasa positif membutuhkan kontrol yang kuat baik dalam proses legislasi maupuan penegakan hukumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: News Letter Komisi Hukum Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/12/kajian-terhadap-ruu-kuhap-i.html"&gt;CATATAN AWAL TENTANG R KUHAP (I)&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/perpu-bukan-hak-tanpa-batas-dari.html"&gt;Memburu Teroris&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/04/catatan-singkat-politik-hukum-pembaruan.html"&gt;Catatan Singkat Politik Hukum Pembaruan Hukum Pidana Materiel Di Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/02/model-grand-jury-dalam-kuhap-mendatang.html"&gt;Model Grand Jury Dalam KUHAP Mendatang, Mungkinkah?&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;-------------&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--google_ad_client = "pub-0322482754711325";/* 336x280, created 1/14/10 */google_ad_slot = "1724941329";google_ad_width = 336;google_ad_height = 280;//--&gt;&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript"src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;&lt;/script&gt;--------------------                      &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-4713222707031273834?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/4713222707031273834/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=4713222707031273834' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/4713222707031273834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/4713222707031273834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2010/09/merekayasa-ppatk.html' title='Merekayasa PPATK'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-6521292758690281065</id><published>2010-09-24T16:54:00.001+07:00</published><updated>2010-09-24T16:57:42.432+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sistem Peradilan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='4. Andi Hamzah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reformasi KUHAP'/><title type='text'>Menyoal Wacana Jaksa Agung Karier/Nonkarier</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fpages%2FFB-Hukum%2F116324598418427&amp;amp;layout=button_count&amp;amp;show_faces=false&amp;amp;width=450&amp;amp;action=like&amp;amp;font=arial&amp;amp;colorscheme=light&amp;amp;height=21" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:21px;" allowTransparency="true"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Prof Dr (Jur) Andi Hamzah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 23 September 2010 00:00 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah berulang kali penulis tekankan bahwa perbaikan kinerja kejaksaan hanya mungkin dilakukan jika posisi kejaksaan dikembalikan ke habitatnya, yaitu sebagai bagian dari lembaga kehakiman, sebagaimana diatur dalam Pasal 24 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang mengatakan 'Kekuasaan Kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan lain-lain badan kehakiman menurut undang-undang', bukan 'lain-lain badan pengadilan', yang berdasarkan sistem Eropa Kontinental, termasuk jaksa agung pada Mahkamah Agung di situ. Itulah sebabnya pada 1945-1959 jaksa agung disebut jaksa agung pada Mahkamah Agung. Hal itu membawa dampak lebih jauh, yaitu jaksa agung tidak 100% eksekutif. Dalam hal penuntutan, apalagi sejak ia duduk dalam sidang kasasi Mahkamah Agung, jaksa agung tidak dapat lagi diberi perintah oleh eksekutif/presiden. Dalam Undang-Undang Mahkamah Agung Tahun 1950 yang berlaku sampai 1965 disebutkan Mahkamah Agung terdiri atas 1 ketua dan 5 anggota dan 1 jaksa agung dan 4 jaksa agung muda. Jadi, jaksa agung dan jaksa agung muda termasuk kelengkapan Mahkamah Agung. Sejak 1961, kejaksaan dijadikan lembaga tersendiri terlepas dari Departemen Kehakiman (kini Kementerian Kehakiman) lalu jaksa agung menjadi menteri, kemudian setingkat dengan menteri. Dengan demikian, kejaksaan menjadi mandiri, tetapi kehilangan independensinya. Jaksa agung dapat diganti setiap saat oleh presiden karena ia anggota kabinet. Tidak mungkin ada jaksa agung berani menangkap seorang menteri yang korup karena ia bagian dari kabinet. Tragisnya 22 Juli 1961 diambil sebagai patokan Hari Bhakti Adhyaksa, sedangkan dilihat dari kepentingan penegakan hukum dan kepentingan rakyat seluruhnya, hari itu semestinya menjadi hari berkabung penegakan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaksa agung dari independen (bukan anggota kabinet), tetapi tidak mandiri karena administratif termasuk Kementerian Kehakiman, menjadi tidak independen (anggota kabinet), tetapi mandiri tidak di bawah suatu kementerian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wacana mengenai jaksa agung dari dalam kejaksaan atau dari luar (karier atau nonkarier) kembali mencuat setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan rencana penggantian Jaksa Agung Hendarman Supandji yang akan pensiun Oktober mendatang. Jaksa Agung Hendarman Supandji dipastikan akan diganti dalam waktu dekat, bersama-sama dengan penggantian Kapolri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perebutan kursi jaksa agung pun dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang menguasai media massa, ada yang memakai jalur-jalur khusus ke istana, ada yang memakai jalur parpol. Yang perlu diingat bahwa selama posisi kejaksaan di luar jalur konstitusi yang dimulai sejak Orde Lama, selama itu pula jangan ada orang berpikir ada supremasi hukum. Kejaksaan di negara mana pun menjadi titik sentral penegakan hukum. Oleh karena itu pekerjaan paling mendesak bagi jaksa agung baru adalah menyusun Rancangan Undang-Undang tentang Kejaksaan yang mengacu pada Pasal 24 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. Jaksa agung pada Mahkamah Agung, bukan jaksa agung pada kabinet (Indonesia Bersatu). Hukum tidak boleh di-Kabinet-Indonesia-Bersatu-kan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum tidak mengenal anak atau cucu, hukum tidak mengenal teman atau lawan; harus ditegakkan kepada siapa pun juga dengan adil. Persyaratan utama yaitu penegakan hukum harus ditegakkan sama terhadap teman dan/atau lawan. Jika cukup bukti, dia harus ditangkap, tidak menjadi soal apakah dia teman atau lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengarusutamakan terwujudnya supremasi hukum, profesionalisme jaksa amat penting. Kejaksaan seharusnya mampu melaksanakan pembaruan dalam bidang penegakan hukum untuk mewujudkan jati diri lebih dinamis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya bukan masalah karier atau nonkarier karena pengalaman penulis menjadi jaksa selama 39 tahun 2 bulan, orang nonkarier lebih dahsyat merusak sistem penegakan hukum. Dia tidak tahu who is who kejaksaan sehingga muncullah pembisik-pembisik atau penghibur-penghibur yang menguasai bursa jabatan di kejaksaan. Bahkan perkara-perkara termasuk izin berobat ke luar negeri ditender miliaran rupiah. Jaksa yang ingin selamat dan juga ikut menikmati hasil tender tersebut dengan sendirinya mendukung kebijaksanaan menyimpang tersebut. Yang menentang dengan sendirinya tersingkir masuk 'kotak'. Penulis juga pernah menikmati masuk 'kotak' selama 19 tahun di Ragunan, sebelum akhirnya menjalani masa pensiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang sejarah kejaksaan, pada posisi jaksa agung dipegang orang luar kejaksaan (jaksa agung nonkarier), biasanya dibawa masuk penasihat dari luar kejaksaan (kecuali Jenderal Ismail Saleh) yang tidak paham seluk beluk sistem pembinaan karier/jabatan di lingkungan kejaksaan sehingga berkecenderungan dan/atau berpeluang merusak sistem penegakan hukum dengan memberikan usulan-usulan yang tidak memperhatikan peran struktural dan fungsional permanen. Daftar jaksa agung nonkarier dari kalangan militer maupun nonmiliter, yaitu Jenderal A Soethardhio; Jenderal Sugih Arto; Jenderal Ali Said; Jenderal Ismail Saleh; Jenderal Hari Suharto; Laksamana Sukarton Marmosudjono; Jenderal Andi Ghalib; Marzuki Darusman (tokoh Partai Golkar dan pernah menjabat Ketua Fraksi Karya Pembangunan di DPR/MPR di era 1990-an); Marsillam Simanjuntak (sekretaris kabinet pada Januari 2000 dan menteri kehakiman pada Juni 2001) hanya beberapa hari; Abdul Rahman Saleh (pengacara, notaris, Ketua Muda Mahkamah Agung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya jika jaksa agung independen sama dengan Ketua Mahkamah Agung pensiun pada umur 65 tahun. Ia tidak bisa digeser sebelum mencapai umur 65 tahun, kecuali melakukan delik. Dengan sendirinya ia dapat mengalami dua atau tiga presiden. Ia bebas menegakkan hukum terhadap siapa pun juga, termasuk menteri atau pejabat negara yang lain. Ia diangkat dari wakil jaksa agung atau salah seorang jaksa agung muda yang terbaik, melalui fit and proper test. Ia harus disetujui Dewan Perwakilan Rakyat. Orang nonkarier hanya dapat masuk ke sistem ini pada tingkat jaksa agung muda, jika persyaratannya setara dengan jaksa agung muda, misalnya: guru besar hukum pidana, hakim agung, atau advokat yang telah berpraktik selama 25 tahun. Attorney general (jaksa agung) masa Presiden Bush adalah mantan Ketua Pengadilan New York.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari jaksa agung muda itulah ia bersaing untuk mencapai puncak karier jaksa, yaitu jaksa agung. Ada siswa pendidikan pembentukan jaksa mengeluhkan hal ini, bagaimana ia telah dididik demikian ketat dengan persyaratan psikotes, tes akademik, kesehatan (termasuk buta warna), ukuran/tinggi badan, dan lain sebagainya; sedangkan ada orang tiba-tiba duduk di puncak piramida kejaksaan, yang bersangkutan belum tentu lulus psikotes? Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan, Gayus Topane Lumbuun, mengingatkan bahwa jangan pernah ada pihak yang menyepelekan kualitas jaksa karier. Masih banyak kader kejaksaan yang berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalangan Kejaksaan Agung sendiri tampaknya lebih cenderung untuk menyukai 'orang dalam' yang jadi bos mereka. Alasannya sederhana 'orang dalam' sudah mendalami budaya kerja (corporate culture) mereka sehingga tidak perlu ada orientasi serta adaptasi lagi. Pejabat karier sudah pasti melalui proses panjang pendidikan sebagai jaksa. Mereka sudah mengenal karakter, leadership, sikap, serta integritas orang ini. Mereka dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan irama kerja bos baru yang sudah dia kenal. Secara teknis yuridis jaksa agung harus lebih pintar daripada semua jaksa di bawahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, bila jaksa agung yang baru tetap pada keadaan dan kondisi seperti sekarang, penegakan hukum akan jalan di tempat karena ia tidak independen bergantung pada kemauan politik pemerintah. Faktor itulah yang menyebabkan Baharuddin Lopa menjadi sangat stres sehingga dua kali ia muncul di rumah penulis mendiskusikan bagaimana cara keluar dari dilema itu. Tuhan lebih bijaksana dengan memanggil dia pulang agar ia tidak merasakan bagaimana sakitnya jika seorang pejabat dipecat, padahal tidak ada kesalahan. Firasat penulis terbukti ketika begitu ia masuk rumah sakit, saat itu juga keluar keppres memberi tugas kepada wakil jaksa agung menjadi pelaksana tugas jaksa agung. Padahal sama sekali tidak diperlukan keppres untuk itu. Jika jaksa agung berhalangan sementara, tugasnya dilaksanakan oleh wakil jaksa agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Prof Dr (Jur) Andi Hamzah Pensiunan jaksa utama; Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Trisakti &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : http://www.mediaindonesia.com/read/2010/09/23/170162/68/11/Menyoal-Wacana-Jaksa-Agung-KarierNonkarier&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/12/kajian-terhadap-ruu-kuhap-i.html"&gt;CATATAN AWAL TENTANG R KUHAP (I)&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/perpu-bukan-hak-tanpa-batas-dari.html"&gt;Memburu Teroris&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/04/catatan-singkat-politik-hukum-pembaruan.html"&gt;Catatan Singkat Politik Hukum Pembaruan Hukum Pidana Materiel Di Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/02/model-grand-jury-dalam-kuhap-mendatang.html"&gt;Model Grand Jury Dalam KUHAP Mendatang, Mungkinkah?&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;-------------&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--google_ad_client = "pub-0322482754711325";/* 336x280, created 1/14/10 */google_ad_slot = "1724941329";google_ad_width = 336;google_ad_height = 280;//--&gt;&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript"src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;&lt;/script&gt;--------------------                      &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-6521292758690281065?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/6521292758690281065/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=6521292758690281065' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/6521292758690281065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/6521292758690281065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2010/09/menyoal-wacana-jaksa-agung.html' title='Menyoal Wacana Jaksa Agung Karier/Nonkarier'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-9137618598422626004</id><published>2010-09-24T16:27:00.000+07:00</published><updated>2010-09-24T16:57:42.433+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sistem Peradilan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='7. M. Fajrul Falah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reformasi KUHAP'/><title type='text'>Memaknai Putusan MK</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fpages%2FFB-Hukum%2F116324598418427&amp;amp;layout=button_count&amp;amp;show_faces=false&amp;amp;width=450&amp;amp;action=like&amp;amp;font=arial&amp;amp;colorscheme=light&amp;amp;height=21" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:21px;" allowTransparency="true"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Mohammad Fajrul Falaakh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat, 24 September 2010 | 08:45 WIB&lt;br /&gt;KOMPAS.com — Jaksa Agung dipecat oleh Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD lebih cepat daripada rencana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahfud menyatakan, sejak Mahkamah Konstitusi memutuskan masa jabatan Jaksa Agung, Rabu (22/9/2010) pukul 14.35, Hendarman Supandji bukan Jaksa Agung dan tugasnya dilaksanakan oleh Wakil Jaksa Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebat. Pemecatan Jaksa Agung dan penugasan wakilnya tanpa keputusan presiden. Putusan MK Nomor 049/PUU-VIII/2010 memuat amar, ”masa jabatan Jaksa Agung itu berakhir dengan berakhirnya masa jabatan Presiden Republik Indonesia dalam satu periode bersama-sama masa jabatan anggota kabinet atau diberhentikan dalam masa jabatannya oleh Presiden dalam periode yang bersangkutan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MK tak mengadili Hendarman dan putusannya tidak expressis verbis mengakhiri masa jabatan Jaksa Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penafsiran Mahfud berbeda dari hakim Maria Farida. Menurut Maria, Hendarman tak serta-merta inkonstitusional dan ilegal karena tidak berhenti saat berakhirnya kepresidenan 2004-2009 (Oktober 2009). Saat itu MK belum memastikan masa jabatan Jaksa Agung seumur kabinet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konvensi ketatanegaraan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya pertimbangan MK kabur. Dalam persidangan terungkap, pembahasan RUU Kejaksaan 2004 tidak menegaskan berapa lama masa jabatan Jaksa Agung. MK menyatakan, penyusun UU dari kalangan DPR dan pemerintah menyepakati bahwa Kejaksaan adalah ”lembaga pemerintah”, padahal UU itu tegas menyebutnya ”lembaga pemerintahan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sahih pula cara MK merujuk konvensi ketatanegaraan. Menurut MK, ”sejak tahun 1961 Jaksa Agung selalu diangkat dan diberhentikan oleh Presiden di awal dan di akhir kabinet, kecuali terjadi reshuffle kabinet dan Jaksa Agung digantikan dengan pejabat yang baru. Namun, pejabat yang baru ini hanya akan meneruskan sisa masa jabatan Jaksa Agung yang digantikannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah itu bertunduk pada implementasi primary rule bahwa pengangkatan dan pemberhentian Jaksa Agung adalah prerogatif Presiden petahana. Selain itu, Jaksa Agung Singgih menjabat pada 1987-1996 dalam beberapa periode jabatan Presiden Soeharto (1983-1988, 1988-1993, 1993- 1998). Sebelumnya, Jaksa Agung Soeprapto (1950-1959) tidak diangkat berkali-kali meski kabinet silih berganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putusan MK hendak mengatur masa jabatan Jaksa Agung lebih definitif dengan cara mendudukkan Jaksa Agung sebagai anggota kabinet. Padahal, Kejaksaan diatur legislatif meski fungsinya terkait yudikatif (Pasal 24 UUD 1945 dan UU Kekuasaan Kehakiman 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UU Kejaksaan menegaskan, fungsi pokok Kejaksaan adalah melaksanakan kekuasaan negara untuk menuntut hukuman dan fungsi itu harus dijalankan secara merdeka (Pasal 2). Kejaksaan menyandang independensi kelembagaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, Kejaksaan disebut lembaga pemerintahan atau berjenis eksekutif, tetapi bukan bagian dari lembaga kepresidenan (presidency). Independensi Kejaksaan ditandai oleh kedudukan Jaksa Agung sebagai pejabat negara, yang sumber perekrutannya bukan hanya pejabat karier dalam hierarki Kejaksaan. UU Kejaksaan tidak mengharuskan Jaksa Agung dari jaksa aktif (PNS). Jaksa Agung mirip hakim agung karena bisa berasal dari luar institusi, pensiunan, atau karier.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Juristocracy”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaksa Agung diangkat dan diberhentikan oleh Presiden. Jaksa Agung tidak mengangkat dan memberhentikan diri sendiri meski boleh meminta berhenti. UU Kejaksaan 2004 menentukan, Jaksa Agung diberhentikan dengan hormat oleh Presiden apabila ”berakhir masa jabatannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiadaan angka definitif pada masa jabatan itu diuji oleh MK. Sebetulnya ketiadaan angka definitif itu unimplementable dilihat dari jarak waktu, tetapi tetap bermakna bahwa masa Jaksa Agung menjabat bertunduk pada pemberhentian oleh Presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata MK mendudukkan Jaksa Agung sebagai anggota kabinet sehingga masa jabatannya dibatasi konvensi tentang keanggotaan kabinet, yaitu paling lama seumur kabinet atau kalau saat sedang menjabat ia diberhentikan oleh Presiden dalam periode yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, UU MK menyatakan putusan MK berlaku sejak dibacakan di muka umum. Putusan MK tidak berlaku surut (nonretroaktif). Masa jabatan Jaksa Agung versi MK berlaku dan diimplementasikan setelah putusan dibacakan. Jadi, Jaksa Agung saat ini akan mengakhiri jabatannya pada akhir masa jabatan Presiden tahun 2014 atau kalau ia diberhentikan oleh Presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman tersebut sesuai dengan sejumlah prinsip dan hukum konstitusi serta doktrin yudikatif. Konstitusi mengandung prinsip distribusi kekuasaan. Pengadilan berkuasa melakukan ajudikasi, pada umumnya tentang fakta hukum empirik (decision on empirical facts).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pengujian UU di MK adalah tentang norma hukum (normative facts). Jadi, sifat erga omnes (berlaku umum) putusan MK bermakna bahwa yang sah (valid) berlaku umum adalah norma untuk diimplementasikan pasca-putusan, bukan automatically having legal efficacy sejak pra-putusan. Ke depan, seseorang menjabat Jaksa Agung paling lama seumur masa jabatan Presiden atau kalau diberhentikan oleh Presiden dalam masa jabatan kepresidenan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peradilan mengenal principle of judicial restraint. Hakim seharusnya menahan diri tentang persoalan yang bukan kompetensinya. Kalau perkara itu termasuk kompetensinya, pengadilan dilarang menolak mengadili dengan alasan tidak ada hukumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompetensi MK menguji UU dan dapat membatalkannya. Akan tetapi, UUD 1945 dan UU mana pun tidak memberikan wewenang MK memberhentikan Jaksa Agung. Menafsirkan putusan MK aquo memiliki empirical and immediate legal efficacy berarti memaksa pengawal konstitusi itu bermain juristocracy, bukan demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Mohammad Fajrul Falaakh, Dosen Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta&lt;br /&gt;sumber: http://nasional.kompas.com/read/2010/09/24/08452820/Memaknai.Putusan.MK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/12/kajian-terhadap-ruu-kuhap-i.html"&gt;CATATAN AWAL TENTANG R KUHAP (I)&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/perpu-bukan-hak-tanpa-batas-dari.html"&gt;Memburu Teroris&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/04/catatan-singkat-politik-hukum-pembaruan.html"&gt;Catatan Singkat Politik Hukum Pembaruan Hukum Pidana Materiel Di Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/02/model-grand-jury-dalam-kuhap-mendatang.html"&gt;Model Grand Jury Dalam KUHAP Mendatang, Mungkinkah?&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;-------------&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--google_ad_client = "pub-0322482754711325";/* 336x280, created 1/14/10 */google_ad_slot = "1724941329";google_ad_width = 336;google_ad_height = 280;//--&gt;&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript"src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;&lt;/script&gt;--------------------                      &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-9137618598422626004?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/9137618598422626004/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=9137618598422626004' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/9137618598422626004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/9137618598422626004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2010/09/memaknai-putusan-mk.html' title='Memaknai Putusan MK'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-3877707437451013524</id><published>2010-09-10T13:39:00.004+07:00</published><updated>2010-09-21T19:26:41.402+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='7. M. Fajrul Falah'/><title type='text'>Perpanjang Kepresidenan SBY?</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fpages%2FFB-Hukum%2F116324598418427&amp;amp;layout=button_count&amp;amp;show_faces=false&amp;amp;width=450&amp;amp;action=like&amp;amp;font=arial&amp;amp;colorscheme=light&amp;amp;height=21" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:21px;" allowTransparency="true"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh :&lt;br /&gt;Mohammad Fajrul Falaakh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat, 20 Agustus 2010 | 03:08 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya, Pasal 7 UUD 1945 menentukan, ”Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama masa lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan pasal ini menyatakan ”cukup jelas”. Berarti akhiran ”nya” merujuk kepada masa jabatan lima tahun pertama sehingga masa jabatan berikutnya hanya lima tahun. Ternyata eksperimentasi politik atas UUD 1945 menggunakan berbagai tafsiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pernah mengangkat Ir Soekarno sebagai presiden seumur hidup (Ketetapan No III/MPRS/1963). Para soekarnois tak kuasa membendung godaan kekuasaan ini. Namun, tafsir dan praktik ini dibatalkan oleh Ketetapan No XVIII/MPRS/1966.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Soekarno justru dimakzulkan dari jabatan kepresidenan (Ketetapan No XXXIII/MPRS/1967) dan Menteri Panglima AD Letjen Soeharto diangkat sebagai Pejabat Sementara Presiden RI (jo Ketetapan No IX/MPRS/1966 dan Ketetapan No XV/MPRS/1966). Ia kemudian dikukuhkan sebagai Presiden RI (Ketetapan No XLIV/MPRS/1968) hingga terbentuk MPR hasil Pemilihan Umum 1971.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak Sidang Umum MPR tahun 1973 (Ketetapan No IX/MPR/1973), Jenderal Soeharto terus-menerus diangkat sebagai presiden, praktis tanpa pemilihan karena selalu calon tunggal, terakhir oleh Sidang Umum MPR pada Maret 1997. Jadi, praktik ketatanegaraan tidak membatasi berapa kali masa jabatan kepresidenan. Klausul ”sesudahnya” dapat dipilih kembali sebagai presiden telah berhasil ditundukkan pada bekerjanya mesin pemilu dan kendali kekuasaan di MPR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Era reformasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan reformasi akhirnya berhasil mendesak Presiden Soeharto untuk berhenti pada 21 Mei 1998 atau 72 hari setelah diangkat MPR menjadi presiden untuk ketujuh kali (1998-2003). Maka, Sidang Istimewa MPR, November 1998, berhasil mengubah tafsir dan praktik ketatanegaraan itu dengan Ketetapan No XIII/MPR/1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya pasal dalam ketetapan ini menegaskan, ”Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan”. MPR pada masa Presiden BJ Habibie berisi Golkar, Utusan Golongan, TNI/Polri, Utusan Daerah, PDI, dan PPP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi ketetapan ini dikutip Badan Pekerja MPR sebagai bahan amandemen konstitusi untuk menggantikan rumusan Pasal 7 UUD 1945. MPR hasil Pemilu 1999 menuangkannya dalam Perubahan Pertama UUD 1945 (19 Oktober 1999). MPR berisi banyak partai reformasi, Utusan Golongan, TNI/Polri, dan Utusan Daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, masa jabatan presiden ditentukan selama lima tahun dan periode jabatannya paling lama dua kali (Pasal 7 UUD 1945, ”Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama masa lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama hanya untuk satu kali masa jabatan”). Ketentuan ini lebih memastikan salah satu ciri sistem presidensial, yaitu masa jabatan yang tetap (fixed term) dan terbatas (limited tenure). Ini juga merupakan rekayasa konstitusi (constitutional engineering) bagi pergantian presiden secara berkala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Periode jabatan kepresidenan ini dapat bermakna berturut-turut maupun tidak berturut-turut seperti di beberapa negara Amerika Latin. Di Indonesia ketentuan ini berlaku pertama kali terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang terpilih pada Pemilihan Presiden 2004 dan 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SBY saat ini menjalani periode jabatan terakhir (kedua). Tetapi Ketua DPP Partai Demokrat Ruhut Sitompul mengusulkan perubahan batas periode jabatan. Ia menggagas perpanjangan masa jabatan SBY. Tidak mengejutkan. Sebetulnya sejak tahun 2009 telah bergulir seloroh politik serupa di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otoritarianisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk damage control, SBY segera menepis spekulasi yang dipicu gagasan tersebut. Ia menegaskan tak akan mencalonkan kembali sebagai presiden dan akan mengakhiri jabatannya pada Oktober 2014. Ketua Umum Partai Demokrat menggarisbawahi sikap itu. Sekjen Partai Demokrat juga menegaskan, di internal partai tidak ada pembicaraan mengenai perpanjangan periode jabatan kepresidenan SBY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak Partai Demokrat tentu sadar, kekuatannya di MPR kurang dari sepertiga jumlah anggota dan tak cukup untuk menggulirkan amandemen konstitusi. Komunikasi politik tampaknya tak terjadi dengan partai-partai dalam Sekretariat Gabungan (Setgab) Koalisi, yang terbukti juga menolak gagasan itu. Padahal, nantinya, kuorum persidangan MPR hanya tercapai kalau suara Setgab Koalisi utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, pernyataan Ruhut lebih meneguhkan ketidakterlibatannya dalam gerakan membatasi periode jabatan kepresidenan. Sebagai orang baru di parlemen, komitmen dan sikap Ruhut tentu berbeda dari para pembuat Ketetapan No XIII/MPR/1998 dan Perubahan Pertama UUD 1945. Kedua dokumen politik dan hukum ini telah dihasilkan oleh proses ketatanegaraan yang panjang, hampir seusia penerapan UUD 1945. Mengkhawatirkan kalau di lingkungan Partai Demokrat dan mayoritas politikus pendatang baru di Senayan berjangkit sikap serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para analis perbandingan politik menyatakan, hanya sekitar seperempat negara dengan sistem parlementer yang terjerumus ke dalam otoritarianisme dan hampir dua pertiga negara dengan pemerintahan presidensial mengalami nasib serupa. Indonesia pernah masuk kategori kedua semasa Orde Baru dan mengakibatkan alih generasi kepemimpinan politik tersumbat. Kini konstitusi mengatur pergantian presiden secara berkala, sesuatu yang sehat bagi kepemimpinan politik nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohammad Fajrul Falaakh Dosen Fakultas Hukum UGM, Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: http://cetak.kompas.com/read/2010/08/20/03080693/Perpanjang.Kepresidenan.SBY&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--google_ad_client = "pub-0322482754711325";/* 336x280, created 1/14/10 */google_ad_slot = "1724941329";google_ad_width = 336;google_ad_height = 280;//--&gt;&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript"src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;&lt;/script&gt;-------------&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/12/kajian-terhadap-ruu-kuhap-i.html"&gt;CATATAN AWAL TENTANG R KUHAP (I)&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/perpu-bukan-hak-tanpa-batas-dari.html"&gt;Memburu Teroris&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/04/catatan-singkat-politik-hukum-pembaruan.html"&gt;Catatan Singkat Politik Hukum Pembaruan Hukum Pidana Materiel Di Indonesia&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/02/model-grand-jury-dalam-kuhap-mendatang.html"&gt;Model Grand Jury Dalam KUHAP Mendatang, Mungkinkah?&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;-------------&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--google_ad_client = "pub-0322482754711325";/* 336x280, created 1/14/10 */google_ad_slot = "1724941329";google_ad_width = 336;google_ad_height = 280;//--&gt;&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript"src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;&lt;/script&gt;--------------------                       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-3877707437451013524?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/3877707437451013524/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=3877707437451013524' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/3877707437451013524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/3877707437451013524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2010/09/perpanjang-kepresidenan-sby.html' title='Perpanjang Kepresidenan SBY?'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-6457077908381595496</id><published>2010-09-07T16:11:00.002+07:00</published><updated>2010-09-07T16:19:24.600+07:00</updated><title type='text'>SELAMAT HARI RAYA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/TIYDSejWMdI/AAAAAAAACUc/vWZKrabfRiI/s1600/Untitled-1+copy.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 162px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/TIYDSejWMdI/AAAAAAAACUc/vWZKrabfRiI/s320/Untitled-1+copy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5514098409735598546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fjodisantoso.blogspot.com%2F&amp;amp;layout=button_count&amp;amp;show_faces=false&amp;amp;width=450&amp;amp;action=like&amp;amp;font=tahoma&amp;amp;colorscheme=light&amp;amp;height=21" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:21px;" allowTransparency="true"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- AddThis Button BEGIN --&gt;&lt;div class='addthis_toolbox addthis_default_style' expr:addthis:title='data:post.title' expr:addthis:url='data:post.url'&gt;&lt;a href='http://www.addthis.com/bookmark.php?v=250&amp;amp;username=xa-4c77f98962ed2d8d' class='addthis_button_compact'&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;span class='addthis_separator'&gt;|&lt;/span&gt;&lt;a class='addthis_button_facebook'&gt;&lt;/a&gt;&lt;a class='addthis_button_myspace'&gt;&lt;/a&gt;&lt;a class='addthis_button_google'&gt;&lt;/a&gt;&lt;a class='addthis_button_twitter'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/250/addthis_widget.js#username=xa-4c77f98962ed2d8d"&gt;&lt;/script&gt;&lt;!-- AddThis Button END --&gt;----------&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--google_ad_client = "pub-0322482754711325";/* 336x280, created 1/14/10 */google_ad_slot = "1724941329";google_ad_width = 336;google_ad_height = 280;//--&gt;&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript"src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;-------------&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/12/kajian-terhadap-ruu-kuhap-i.html"&gt;CATATAN AWAL TENTANG R KUHAP (I)&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/perpu-bukan-hak-tanpa-batas-dari.html"&gt;Memburu Teroris&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/04/catatan-singkat-politik-hukum-pembaruan.html"&gt;Catatan Singkat Politik Hukum Pembaruan Hukum Pidana Materiel Di Indonesia&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/02/model-grand-jury-dalam-kuhap-mendatang.html"&gt;Model Grand Jury Dalam KUHAP Mendatang, Mungkinkah?&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;-------------&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--google_ad_client = "pub-0322482754711325";/* 336x280, created 1/14/10 */google_ad_slot = "1724941329";google_ad_width = 336;google_ad_height = 280;//--&gt;&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript"src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;&lt;/script&gt;--------------------                       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-6457077908381595496?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/6457077908381595496/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=6457077908381595496' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/6457077908381595496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/6457077908381595496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2010/09/selamat-hari-raya.html' title='SELAMAT HARI RAYA'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/TIYDSejWMdI/AAAAAAAACUc/vWZKrabfRiI/s72-c/Untitled-1+copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-8655728671069954334</id><published>2010-06-11T16:01:00.003+07:00</published><updated>2010-06-19T14:15:58.894+07:00</updated><title type='text'>RANIA ALIYAH NAILAH DAYANI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/TBH7zSF3NlI/AAAAAAAACPE/QSZHFS4N7-U/s1600/rania.png"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 119px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/TBH7zSF3NlI/AAAAAAAACPE/QSZHFS4N7-U/s320/rania.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5481439079934932562" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--google_ad_client = "pub-0322482754711325";/* 336x280, created 1/14/10 */google_ad_slot = "1724941329";google_ad_width = 336;google_ad_height = 280;//--&gt;&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript"src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;&lt;/script&gt;-------------&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/12/kajian-terhadap-ruu-kuhap-i.html"&gt;CATATAN AWAL TENTANG R KUHAP (I)&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/perpu-bukan-hak-tanpa-batas-dari.html"&gt;Memburu Teroris&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/04/catatan-singkat-politik-hukum-pembaruan.html"&gt;Catatan Singkat Politik Hukum Pembaruan Hukum Pidana Materiel Di Indonesia&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/02/model-grand-jury-dalam-kuhap-mendatang.html"&gt;Model Grand Jury Dalam KUHAP Mendatang, Mungkinkah?&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;-------------&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--google_ad_client = "pub-0322482754711325";/* 336x280, created 1/14/10 */google_ad_slot = "1724941329";google_ad_width = 336;google_ad_height = 280;//--&gt;&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript"src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;&lt;/script&gt;--------------------                       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-8655728671069954334?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/8655728671069954334/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=8655728671069954334' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/8655728671069954334'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/8655728671069954334'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2010/06/rania-aliyah-nailah-dayani.html' title='RANIA ALIYAH NAILAH DAYANI'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/TBH7zSF3NlI/AAAAAAAACPE/QSZHFS4N7-U/s72-c/rania.png' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-4795877235129260047</id><published>2010-05-20T13:37:00.001+07:00</published><updated>2010-09-20T14:14:37.587+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='7. M. Fajrul Falah'/><title type='text'>Mencari Kunci Centurygate</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Mohammad Fajrul Falaakh&lt;br /&gt;Senin, 19 April 2010 | 03:27 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahkamah Konstitusi atau MK mulai menguji aturan yang dinilai merintangi hak DPR untuk menggulirkan mosi pemakzulan presiden/wakil presiden (Kompas, 15/4/2010). Hilangnya rintangan ini diharapkan melancarkan penyelesaian skandal penalangan Bank Century (Centurygate).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akankah MK menghilangkan rintangan itu? Benarkah kunci penyelesaian Centurygate pada pemakzulan wapres? Pada dasarnya presiden/wapres yang langsung dipilih oleh rakyat, tidak dimaksudkan untuk diberhentikan oleh parlemen. Konstitusi sistem presidensial menjamin stabilitas pemerintahan sampai berakhirnya masa jabatan yang sudah ditentukan (fixed term). Namun, stabilitas konstitusional ini bukan untuk menghalangi proses penegakan hukum. Oleh karena itu, mekanisme pemakzulan presiden/wapres diatur dalam konstitusi, yaitu dalam hal presiden/wapres melanggar hukum atau tak lagi memenuhi syarat jabatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DPR dapat memutuskan dugaan pelanggaran hukum oleh presiden/wapres, tetapi dugaan itu akan diputuskan MK berdasarkan proses pembuktian dalam sidang. Kalau MK memutuskan presiden/ wapres terbukti melanggar hukum, DPR meneruskan putusan MK ke MPR. Setelah MPR memakzulkan presiden/wapres, belum jelas apakah bukti-bukti dalam persidangan dan putusan MK akan langsung ditindaklanjuti oleh peradilan pidana (kompetensi Mahkamah Agung). Kalau MPR tidak memakzulkan karena faktor politik meski MK memutuskan dugaan DPR terbukti, peradilan pidana mungkin dilaksanakan setelah masa jabatan presiden/wapres berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas, pemakzulan oleh MPR adalah implikasi politik dan bukan sanksi pidana. Pemakzulan presiden/wapres ”sekadar” mendudukkannya setara warga negara. Ini adalah perlakuan istimewa (bukan hak) karena presiden/wapres bukan warga negara biasa. Tindakan MPR menghilangkan rintangan jabatan sekuat presiden/wapres mungkin dapat melancarkan proses peradilan pidana. Namun, politik penegakan hukum pada Pasal 7A-7B UUD 1945 ini tak mudah diwujudkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyandera pemakzulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik constitutional construct maupun original intent UUD 1945 mengatur pernyataan pendapat itu secara umum (lex generalis) dan secara khusus (lex specialis). Pengaturan umum diletakkan di Pasal 20A (sebetulnya sekadar rule of reference atau ”cantolan” pengaturan) dan pengaturan khusus dirinci di Pasal 7A-7B UUD 1945 (M Fajrul Falaakh: Kompas, 24/2/2010). Prosedur penggunaan hak menyatakan pendapat diatur lebih lanjut dalam UU Susduk 2003 dan Peraturan Tata Tertib DPR 2004-2009. Jadi, ada dua macam pernyataan pendapat sebagai instrumen pengawasan DPR. Pertama, mosi DPR tentang kejadian luar biasa ataupun sebagai konsekuensi hak angket dan hak interpelasi. Kedua, mosi DPR dalam rangka pemakzulan presiden/wapres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, UU Nomor 27/2009 (dikenal sebagai UU MD3) menambahkan tahap pengambilan keputusan tentang usul (gagasan) penggunaan hak DPR tersebut. Usul penggunaan hak dapat dimajukan oleh 25 anggota. Akan tetapi, Rapat Paripurna DPR untuk menerima/menolak gagasan itu harus dihadiri 3/4 jumlah anggota dan diputuskan oleh 3/4 jumlah anggota yang hadir—syarat baru pada Pasal 184 Ayat (4) ini sedang diuji di MK. Persetujuan DPR ditindaklanjuti oleh Panitia Khusus dalam 60 hari. Hasil Pansus diwujudkan sebagai mosi pemakzulan, yang akan diputuskan oleh 2/3 jumlah peserta Rapat Paripurna DPR dari 2/3 jumlah anggota DPR yang harus hadir dalam rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat baru tersebut merintangi hak DPR untuk menyatakan pendapat dalam rangka pemakzulan presiden/wapres. Partai Demokrat dan pihak kepresidenan sudah sering menyebutnya, yaitu ketakhadiran semua anggota Fraksi Demokrat pada Rapat Paripurna DPR sudah cukup untuk menggagalkan upaya penggunaan hak dimaksud. Kunci prosedural itu mengakibatkan mosi pemakzulan tersandera oleh kekuatan minoritas di tangan Partai Demokrat (26 persen kursi DPR).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut UUD 1945, mosi pemakzulan cukup didukung 2/3 anggota dari 2/3 peserta Rapat Paripurna DPR, tetapi mosi itu harus diadili di MK. Syarat baru itu serupa dengan logika berikut ini: meski Anda terbukti memenuhi segala syarat sebagai WNI yang memiliki hak pilih, tetapi Anda hanya dapat menggunakan hak pilih apabila terdaftar dalam daftar pemilih. Akankah MK membatalkan rintangan prosedural itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kunci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya bukan hanya syarat prosedural yang merintangi DPR dari pengguliran mosi pemakzulan. Pansus tak merumuskan secara khusus pelanggaran dalam penalangan Bank Century, misalnya sebagai tindak pidana korupsi dengan modus operandi tertentu (dari 30 kemungkinan menurut UU Pemberantasan Korupsi 1999/2001). Tak adakah sekadar satu bukti untuk itu? Rapat Paripurna DPR saat itu juga dihadiri 85 persen dari 560 anggota DPR (325 orang menyetujui kesimpulan versi C dan 212 orang mendukung versi A). Jumlah kuorum dan kekuatan ”oposisi plus” pendukung versi C (60 persen) melebihi syarat untuk menggulirkan mosi pemakzulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden/wapres terselamatkan karena pemakzulan tidak ditargetkan sejak awal dan kekuatan ”oposisi plus” terhalang sistem presidensial (kekuatan itu sudah menjatuhkan pemerintah dalam sistem parlementer). Pansus Hak Angket Centurygate juga tidak menyebut bukti yang diperlukan. Maka, langkah lembaga penegak hukum meminta keterangan berbagai pihak menjadi tumpuan penyelesaian Centurygate. Namun, kelambanan KPK, kejaksaan, dan kepolisian dapat mendorong penggunaan kunci pemakzulan. Diberitakan, sejumlah penggagas hak angket Centurygate juga mengujikan rintangan prosedural tersebut ke MK dan menggalang dukungan untuk menggulirkan mosi pemakzulan. Kunci penyelesaian Centurygate memang tidak tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohammad Fajrul Falaakh Dosen Fakultas Hukum UGM, Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber: Kompas, 19 April 2010)&lt;br /&gt;http://cetak.kompas.com/read/2010/04/19/03273989/mencari.kunci.centurygate&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--google_ad_client = "pub-0322482754711325";/* 336x280, created 1/14/10 */google_ad_slot = "1724941329";google_ad_width = 336;google_ad_height = 280;//--&gt;&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript"src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;&lt;/script&gt;-------------&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/12/kajian-terhadap-ruu-kuhap-i.html"&gt;CATATAN AWAL TENTANG R KUHAP (I)&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/perpu-bukan-hak-tanpa-batas-dari.html"&gt;Memburu Teroris&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/04/catatan-singkat-politik-hukum-pembaruan.html"&gt;Catatan Singkat Politik Hukum Pembaruan Hukum Pidana Materiel Di Indonesia&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/02/model-grand-jury-dalam-kuhap-mendatang.html"&gt;Model Grand Jury Dalam KUHAP Mendatang, Mungkinkah?&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;-------------&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--google_ad_client = "pub-0322482754711325";/* 336x280, created 1/14/10 */google_ad_slot = "1724941329";google_ad_width = 336;google_ad_height = 280;//--&gt;&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript"src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;&lt;/script&gt;--------------------                       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-4795877235129260047?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/4795877235129260047/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=4795877235129260047' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/4795877235129260047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/4795877235129260047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2010/05/mencari-kunci-centurygate.html' title='Mencari Kunci Centurygate'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-4536610332787741856</id><published>2009-12-18T16:15:00.015+07:00</published><updated>2010-08-28T00:49:32.434+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Criminal Justice Models'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jodi Santoso'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reformasi KUHAP'/><title type='text'>CATATAN AWAL TENTANG R KUHAP (I)</title><content type='html'>Disampaikan oleh:&lt;br /&gt;M Jodi Santoso dan TIm Peneliti KHN&lt;br /&gt;dalam Lokakarya Penelitian KUHAP dan Peluncuran Buku Prof Mardjono Reksodiputro&lt;br /&gt;Jakarta, 9 Desember 2009&lt;br /&gt;&lt;iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fjodisantoso.blogspot.com%2F&amp;amp;layout=button_count&amp;amp;show_faces=false&amp;amp;width=450&amp;amp;action=like&amp;amp;font=tahoma&amp;amp;colorscheme=light&amp;amp;height=21" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:21px;" allowTransparency="true"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;A. Pengantar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan hukum acara pidana dimaksudkan untuk melindungi masyarakat dari kesewenang-wenangan penguasa. Menurut J. E. Sahetapy (2007), meminjam pendapat Jerome Skolnick, mengatakan bahwa ”criminal procedure is intended to control authorities, not criminals”.  Hal senada disampaikan Mardjono Reksodiputro (1995: 25) yang mengatakan, fungsi hukum acara pidana adalah untuk membatasi kekuasaan negara dalam bertindak terhadap setiap warga masyarakat yang terlibat dalam proses peradilan. Meski demikian terdapat Fungsi lain dari HUkum Acara Pidana yaitu memberikan kekuasaan pada negara untuk menegakkan hukum material. (Mardjono: 2009).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum acara pidana sebagai instrumen sistem peradilan pidana (SPP) dimungkinkan untuk berubah. Perubahan tersebut terjadi karena SPP bukan merupakan sistem tertutup tetapi sebagai sistem terbuka yang selalu berinteraksi dengan sistem yang lebih besar (Muladai dalam KHN: 2002). Sebagai upaya sinkronisasi, KUHAP seharusnya diselaraskan dengan amandemen UUD 1945 dan konvensi internasional. &lt;br /&gt;Meskipun KUHAP memberikan perlindungan hak tersangka/terdakwa/ terpidana, tetapi KUHAP juga memberikan kewenangan besar kepada kepolisian dan kejaksaan yang berpotensi menimbulkan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power). KUHAP sendiri mengantisipasi potensi penyimpangan tersebut dengan membentuk praperadilan, tetapi, kewenangannya hanya terbatas pengujian formal upaya paksa (dwang middelen) dari penyidik atau penuntut umum serta ganti rugi dan rehabilitasi. Untuk menjawab kelemahan tersebut , dalam R KUHAP, diperkenalkan lembaga baru yaitu Hakim Komisaris untuk mengawasi upaya paksa aparat penegak hukum.  &lt;br /&gt;Berdasarkan deskripsi di atas, masalah penting dalam R KUHAP yang dibahas adalah bagaimana peran Hakim (ke depan) dalam mengawasi proses penyidikan dan penuntutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;B. PERAN HAKIM DALAM PROSES PRAAJUDIKASI &lt;br /&gt;1. Proses Praajudikasi dalam Instrumen Internasional dan Konstitusi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kemerdekaan merupakan hak setiap orang yang perlu mendapat jaminan dan perlindungan dari negara. Segala bentuk perampasan kemerdekaan seseorang harus dilaksanakan berdasarkan Undang-undang. Instrument hukum internasional menentukan prinsip-prinsip dasar terhadap upaya pembatasan kemerdekaan seseorang dalam proses peradilan pidana. Universal Declaration of Human Rights)/Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia dengan tegas menyatakan bahwa setiap orang berhak atas pengakuan di depan hukum sebagai manusia pribadi di mana saja ia berada. Dalam hal perampasan kemerdekaan seseorang, Artikel 10 Paragraf 1  International Covenant On Civil And Political Rights (ICCPR)/Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak Sipil Dan Politik menyebutkan bahwa setiap orang yang dirampas kemerdekaannya wajib diperlakukan secara manusiawi dan menghormati martabat yang melekat padanya. &lt;br /&gt;Dalam proses praajudikasi, ICCPR mengatur hak-hak tersangka atas upaya paksa penegak hukum dalam Artikel 9 ICCPR, yaitu, sebagai berikut :&lt;br /&gt;1.a. Setiap orang berhak atas kemerdekaan dan keamanan pribadi &lt;br /&gt;  b. larangan melakukan penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang.. &lt;br /&gt;  c.  perampasan kebebasan terhadap seseorang dapat dilakukan berdasarkan alasan yang sah dan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan oleh hukum&lt;br /&gt;2.Setiap orang yang ditangkap :&lt;br /&gt;  a. pada saat penangkapan, harus diberi tahu alasan-alasan penangkapannya &lt;br /&gt;  b. harus segera diberitahu mengenai tuduhan yang dikenakan padanya.&lt;br /&gt;3.a. Dalam perkara pidana, siapa pun yang ditangkap atau ditahan :&lt;br /&gt; (i) harus segera dibawa ke hadapan hakim atau pejabat lain yang diberi kewenangan untuk melaksanakan kekuasaan peradilan, &lt;br /&gt; (ii) harus diadili dalam jangka waktu yang wajar atau dibebaskan. &lt;br /&gt;  b. bukan ketentuan umum bahwa orang yang menunggu pemeriksaan pengadilan harus ditahan. &lt;br /&gt;  c.  pembebasan dapat dilakukan dengan jaminan untuk hadir :&lt;br /&gt;   (i) pada waktu pemeriksaan pengadilan &lt;br /&gt;   (ii) pada tahap lain selama proses peradilan&lt;br /&gt;   (iii) apabila dibutuhkan, hadir pada pelaksanaan putusan pengadilan.&lt;br /&gt;4.Siapa pun yang dirampas kemerdekaannya dengan penangkapan atau penahanan harus segera menjalani proses pengadilan, agar pengadilan tanpa menunda-nunda&lt;br /&gt; (i) menentukan keabsahan penahanannya, &lt;br /&gt;        (ii) memerintahkan pembebasannya apabila penahanan tersebut tidak sah menurut hukum.&lt;br /&gt;5. Setiap orang yang telah menjadi korban penangkapan atau penahanan yang tidak sah berhak mendapat ganti rugi yang harus dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan tugas negara dalam upaya melindungi hak tersangka, ketentuan Konvensi Menentang Penyiksaan dan  Perlakuan atau Hukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi, dan Merendahkan Martabat Manusia, mengamanatkan kepada setiap negara untuk mengawasi secara sistematik peraturan-peraturan tentang interogasi, instruksi, metode, kebiasaan-kebiasaan dan peraturan untuk penahanan serta perlakuan terhadap orang yang ditangkap, ditahan, atau dipenjara dalam setiap wilayah hukumnya, dengan maksud untuk mencegah terjadinya penyiksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia yang telah meratifikasi ICCPR berdasarkan UU Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan ICCPR (Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak Sipil Dan Politik)  dan Konvensi Menentang Penyiksaan dan  Perlakuan atau Hukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi, dan Merendahkan Martabat Manusia, sudah seharusnya dilakukan upaya penyelarasan hukum acara pidana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, hingga saat ini, terdapat keterbatasan perlindungan hak-hak tersangka/terdakwa baik dalam konstitusi Indonesia maupun dalam KUHAP. UUD 1945 hanya mengatur prinsip umum dalam Pasal 28D yaitu Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum. Tidak ada ketentuan dalam Pasal-pasal UUD 1945 yang mengatur secara limitatif bagaimana perlindungan hak tersangka dalam proses praajudikasi. Hal ini berbeda UUD 1950 yang mengatur hak tersangka/terdakwa dalam Pasal 11- Pasal 14.&lt;br /&gt;Di Amerika Serikat,  Bill of Right dengan tegas memberikan perlindungan hak-hak tersangka, yaitu: Amandemen Keempat berisi perlindungan terhadap pemeriksaan dan penangkapan semena-mena (protection against search and seizure), Amandemen Kelima berisi hak atas peradilan dengan sistem juri (right to grand jury indictment); hak untuk tidak didakwa dua kali dalam perkara yang sama (protection against double joepardy); hak untuk diam dalam pemeriksaan (privilege against self incrimination);  hak atas proses peradilan yang adil (due process of  law), dan amandemen keenam berisi hak atas peradilan yang cepat dan terbuka untuk umum (right to speedy and public trial); hak untuk diadili oleh juri yang tidak memihak (right to an impartial jury); hak terdakwa untuk berpendapat (right to notice); hak untuk menghadirkan saksi yang meringankannya (right to confront adverse witnessess in his favour; hak atas penasihat hukum (right to councel). (KHN-SENTRA HAM UI, 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Peran Hakim dalam Proses Praajudikasi di Negara Lain&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2.1Rechter Commissaris  (Belanda) dan Judge d’ instruction (Perancis)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam sistem peradilan pidana Perancis, dikenal Judge d’ instruction. Pranata ini mempunyai wewenang untuk memeriksa terdakwa, saksi-saksi dan alat-alat bukti lainnya. Judge d’ instruction dapat membuat berita acara pemeriksaan, melakukan penahanan, penyitaan, bahkan menentukan apakah cukup alasan untuk dilimpahkan ke pengadilan. Akan tetapi, hanya perkara besar dan sulit pembuktiannya yang dilakukan permeriksaan melalui Judge d’ instruction. (Andi Hamzah: 2002, 193).&lt;br /&gt;Di Belanda, dikenal hakim komisaris (Rechter Commissaris). Melalui pranata ini, hakim berfungsi baik sebagai pengawas juga dapat melakukan eksekusi. Hakim tidak hanya menguji atau berperan sebagai examinating judge semata tapi juga berperan sebagai investigating judge di mana hakim berwenang untuk memerikasa saksi dan tersangka. (Loebby Loqman: 1987, 47)&lt;br /&gt;Selain Rechter Commissaris, di Belanda juga dikenal pranata submissie dan compositie. Kedua pranata tersebut berkaitan dengan perkara yang menurut jaksa penuntut umum sulit pembuktiannya dan dapat diselesaikan di luar persidangan dengan diajukan pada hakim melalui proses transaction. Implementasi dari penyelesaian di luar sidang adalah memberikan kemungkinan pada jaksa penuntut umum membuat kebijakan untuk mengakhiri penuntutan dengan membayar sejumlah uang tertentu. Dikecualikan dari hal tersebut ialah tindak pidana yang diancam lebih dari 6 tahun dan tindak pidana pelanggaran. “Penyelesaian di luar sidang” dilakukan jaksa sebelum perkara masuk proses sidang pengadilan. &lt;br /&gt;Submissie diadakan atas permohonan terdakwa yang disepakati oleh penuntut umum yang berisi permasalahan-permasalahan yang sulit pembuktiannya di persidangan. Kesepakatan tersebut diajukan kepada hakim untuk dimintai putusan hakim tanpa melakukan pembuktian di persidangan. Hakim dengan kewenangannya akan memutus mengenai hal atau kasus tersebut. Dalam compositie, jaksa penuntut umum dapat menghentikan proses penuntutan dengan cara terdakwa membayar sejumlah uang tertentu. Pembayaran uang tertentu ini dimaksudkan sebagai penebusan, terutama untuk kejahatan ringan. (Remmelink: 2003, 442).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2.2Peran Hakim dalam Proses Praajudikasi di Amerika Serikat  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;a. Preliminary Hearing, Arraignment dan Pretrial Conference&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses peradilan pidana Amerika Serikat, hakim (magistrat) sudah terlibat dalam proses pre-trial sejak dini. Proses pre-trial dalam rangka permohonan Habeas Corpus dilakukan dalam tiga proses yaitu: Arraignment, Preliminary Hearing, Pretrial Conference (Indrianto Seno Adji: 2003, 24-35). Selain ketiga pranata tersebut, dalam sistem peradilan di negara federal dan beberapa negara bagian juga dikenal grand jury. Akan tetapi, tidak semua negara bagian menerapkan grand juri.&lt;br /&gt;Preliminary hearing diadakan atas permintaan polisi yang memerlukan surat perintah untuk menangkap atau menggeledah (arrest warrant or search warrant) (Loebby Loqman: 1987, 51). Menurut James A. Inciardy (1990, 433), tujuan utama dari preliminary hearing adalah untuk memberi perlindungan pada tersangka dari proses peradilan yang tanpa surat perintah (the major purpose of the preliminary hearing is to protect defendants from unwarranted prosecutions). Karena adanya dugaan terjadinya tindak pidana, penyidik menghadap ke pengadilan untuk memperoleh penilaian hakim apakah telah terdapat alasan yang kuat (probable cause) untuk percaya bahwa tersangka merupakan pelaku tindak pidana dan oleh karena itu telah mempunyai cukup alasan untuk dapat ditahan dan diadili. Jika tidak ditemukan probable cause, maka perkara dapat dihentikan. (Loebby Loqman: 1987, 51; Roland del Carmen: 1987, 8).&lt;br /&gt;Proses Arraignment dan pretrial conference dilakukan setelah ditetapkan adanya alasan yang kuat (probable cause) melalui proses preliminary hearing atau grand jury. Arraignment merupakan pemeriksaan di depan hakim atau wakilnya yang terjadi setelah seseorang ditahan di mana tuduhan tersangka dibacakan dan tersangka ditanyakan sikapnya bersalah atau tidak. Dalam tahap ini tersangka dapat memilih satu di antara : i) not guilty (tersangka untuk menolak tuduhan yang dituduhkan kepadanya dan diteruskannya proses peradilan ke tahap persidangan pengadilan), ii) guilty plea (tersangka mengakui tuduhan dan langsung dijatuhi pidana tanpa melalui proses pengadilan), atau iii) nolo contendere (no contest atau I do not wish to contest), Sikap nolo contendere mempunyai dampak yang hampir sama dengan sikap guilty plea. tetapi jika tersangka memilih nolo contendere maka proses dilanjutkan ke pengadilan. Di pengadilan terdakwa tidak menolak tuduhan penuntut umum). &lt;br /&gt;Sebelum di hadapkan ke sidang peradilan di bawah jury, seorang tersangka terlebih dahulu dihadapkan ke pretrial conference. Keberadaan pretrial conference lebih ditujukan untuk merancang sidang pengadilan, terutama mengenai pembuktian dan hak-hak pihak yang berperkara untuk memperoleh pembuktian dari pihak lain (discovery). Tujuan pretrial conference adalah untuk menjamin kelancaran, keadilan dan efektifitas sidang peradilan. (Loebby Loqman: 1987, 51)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;b. Grand Jury&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk tindak pidana berat (felony), penentuan adanya dugaan kuat (probable cause) telah terjadi tindak pidana berat di negara Federal dan beberapa negara bagian Ameriksa Serikat dibuat Grand Jury. Negara Bagian yang tidak menerapkan grand jury, penentuan probable cause tetap menjadi kewenangan preliminary hearing. Di Negara yang menerapkan grand jury ini, prelemanary hearing membuat putusan apakah perkara diteruskan ke grand jury atau tidak. (Roland del Carmen: 1987, 8)&lt;br /&gt;Grand jury, awalnya muncul di Inggris pada masa King Henry II pada Tahun 1166. Komposisi pranata ini terdiri dari 12 knights atau good and lawful Men. Dalam perkembangnya, grand jury terdiri dari 12 hingga 23 grand jurors dengan menggunakan 12 suara grand jurors untuk menentukan putusan. (Inciardi: 1990, 426).&lt;br /&gt;Di Amerika Serikat, setelah revolusi, melalui Amandemen ke lima, grand jury menjadi salah satu mekanisme penting dalam proses peradilan pidana. Fifth Amandement menyebutkan, “no person shall be hell to answer for a capital or otherwise infamous crime, unless on a presentment or indictment of a Grand Jury.”&lt;br /&gt;Dalam federal system, grand jury hanya digunakan untuk tindak pidana berat (felony). Tidak semua Negara bagian menerapkan sistem grand jury dalam proses peradilan pidana. Negara bagian yang menerapkan grand jury, ada yang digunakan untuk semua perkara ada yang hanya untuk tindak pidana berat atau tertentu. &lt;br /&gt;Keanggotaannya grand jury berasal dari masyarakat yang berjumlah 16 hingga 23 anggota dengan minimal 12 suara dari seluruh anggota untuk membuat sebuah tuduhan tindak pidana (indictment). (Carmen: 1987, 8; Inciardi: 1990, 426; Holten dan Lamar: 1991, 197). Di Los Angeles, misalnya, calon grand jurors berasal dari masyarakat. Tujuan utama merekrut grand juror dari masyarakat adalah untuk merepresentasikan berbagai budaya, etnik, dan kehidupan serta merefleksikan berbagai kepentingan dan keinginan masyarakat Los Angeles. (http://lasuperiorcourt.org)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;2.  PERAN HAKIM DALAM PROSES PRAAJUDIKASI DI INDONESIA&lt;br /&gt;3.  Praperadilan dalam KUHAP&lt;br /&gt;4.  Hakim Komisaris dalam R KUHAP&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;bersambung ......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- AddThis Button BEGIN --&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class='addthis_toolbox addthis_default_style' expr:addthis:title='data:post.title' expr:addthis:url='data:post.url'&gt;&lt;a href='http://www.addthis.com/bookmark.php?v=250&amp;amp;username=xa-4c77f98962ed2d8d' class='addthis_button_compact'&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='addthis_separator'&gt;|&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class='addthis_button_facebook'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class='addthis_button_myspace'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class='addthis_button_google'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class='addthis_button_twitter'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/250/addthis_widget.js#username=xa-4c77f98962ed2d8d"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- AddThis Button END --&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.formulabisnis.com?id=jojoaja"&gt;&lt;img border="0" width="468" src="http://www.formulabisnis.com/images/bannerfb.gif" height="60" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CATATAN AWAL TENTANG R KUHAP (I)&lt;br /&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/12/kajian-terhadap-ruu-kuhap-i.html"&gt;CATATAN AWAL TENTANG R KUHAP (I)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/08/memburu-teroris.htmll"&gt;Memburu Teroris&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/04/catatan-singkat-politik-hukum-pembaruan.html"&gt;Catatan Singkat Politik Hukum Pembaruan Hukum Pidana Materiel Di Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/02/model-grand-jury-dalam-kuhap-mendatang.html"&gt;Model Grand Jury Dalam KUHAP Mendatang, Mungkinkah?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.formulabisnis.com?id=jojoaja"&gt;&lt;img border="0" width="468" src="http://www.formulabisnis.com/images/bannerfb.gif" height="60" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-4536610332787741856?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/4536610332787741856/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=4536610332787741856' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/4536610332787741856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/4536610332787741856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2009/12/kajian-terhadap-ruu-kuhap-i.html' title='CATATAN AWAL TENTANG R KUHAP (I)'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-7870183695743880502</id><published>2009-12-18T16:11:00.002+07:00</published><updated>2010-06-19T13:11:43.723+07:00</updated><title type='text'>SELAMAT TAHUN BARU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SytHu-9soGI/AAAAAAAACNU/FWrrseYOGX8/s1600-h/selamattahunbaru.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 288px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SytHu-9soGI/AAAAAAAACNU/FWrrseYOGX8/s320/selamattahunbaru.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5416501849344483426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.formulabisnis.com?id=jojoaja"&gt;&lt;img border="0" width="468" src="http://www.formulabisnis.com/images/bannerfb.gif" height="60" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/08/memburu-teroris.htmll"&gt;Memburu Teroris&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/04/catatan-singkat-politik-hukum-pembaruan.html"&gt;Catatan Singkat Politik Hukum Pembaruan Hukum Pidana Materiel Di Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/02/model-grand-jury-dalam-kuhap-mendatang.html"&gt;Model Grand Jury Dalam KUHAP Mendatang, Mungkinkah?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.formulabisnis.com?id=jojoaja"&gt;&lt;img border="0" width="468" src="http://www.formulabisnis.com/images/bannerfb.gif" height="60" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-7870183695743880502?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/7870183695743880502/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=7870183695743880502' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/7870183695743880502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/7870183695743880502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2009/12/artikel-lain-memburu-teroris-catatan.html' title='SELAMAT TAHUN BARU'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SytHu-9soGI/AAAAAAAACNU/FWrrseYOGX8/s72-c/selamattahunbaru.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-5107823668903446790</id><published>2009-10-25T15:17:00.002+07:00</published><updated>2010-08-09T12:54:51.658+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Criminal Justice Models'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jodi Santoso'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Asas-asas Hukum PIdana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reformasi KUHAP'/><title type='text'>Perpu Bukan Hak Tanpa Batas Dari Presiden</title><content type='html'>oleh M Jodi Santoso&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fjodisantoso.blogspot.com%2F&amp;amp;layout=button_count&amp;amp;show_faces=false&amp;amp;width=450&amp;amp;action=like&amp;amp;font=tahoma&amp;amp;colorscheme=light&amp;amp;height=21" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:21px;" allowTransparency="true"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;Pada periode pertama pemerintahannya, Presiden Susilo Bambang Yudoyono telah mengeluarkan 16 Peraturan Presiden Pengganti Undang-Undang (PERPU). Dari keenambelas Perpu tersebut, 2 (dua) berkaitan dengan rekonstruksi Aceh dan Nais pasca bencana tsunami, dua perpu berkaitan dengan penundaan pelaksanaan pengadilan khusus, satu perpu berkaitan dengan jaring pengaman sistem keuangan, dan sisanya yaitu 11 Perpu isinya perubahan undang-undang termasuk yang terakhir yaitu Perpu No 4 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua Perpu yang dikeluarkan ditetapkan DPR menjadi undang-undang. Pada Desember 2008 DPR Perpu Nomor 4 Tahun 2008 Tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan ditolak DPR. Perpu ini merupakan salah satu dari 3 Paket yang berkaitan dengan perbankan dan kekuangan. Dua lainnya adalah Perpu Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia ditetapkan DPR menjadi undang-undang berdasarkan UU Nomor 6 Tahun 2009 dan Perpu Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 Tentang Lembaga Penjamin Simpanan yang ditetapkan menjadi undang-undang berdasarkan UU No 7 Tahun 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hak Subyektif “Terbatas” Presiden &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keberanian” Presiden SBY mengeluarkan Perpu tidak lepas dari perdebatan tentang subyektifitas presiden dalam menafsirkan “hal kegentingan memaksa” yang diatur dalam Pasal 22 UUD 1945. Penafsiran subyektif Presiden dalam pasal 22 harus dibedakan dengan penafsiran obyektif yang diatur dalam Pasal 12 UUD 1945. Dalam kondisi bahaya atau tidak normal, UUD Negara RI Tahun 1945 memberikan kewenangan kepada presiden untuk melakukan tindakan khusus. Tindakan khusus yang diberikan oleh UUD 1945 diatur dalam Pasal 12 dan Pasal 22.  Pasal 12 menyebutkan Presiden menyatakan keadaan bahaya. Syarat-syarat dan akibatnya keadaan bahaya ditetapkan dengan undang-undang. UUD 1945 dengan tergas mengamanatkan adanya undang-undang yang mengatur keadaan bahaya yang saat ini diatur lebih lanjut dalam UU (Prp) No. 23 Tahun 1959 tentang Keadaan Bahaya. Terhadap keadaan bahaya yang diatur dalam UU (Prp) No. 23 Tahun 1959 ini, Presiden hanya dapat menafsirkan secara obyektif. Dalam hukum tata negara tidak tertulis dikenal dengan doktrin noodstaatsrecht. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Harun Al Rasyid (dalam Kleden &amp; Waluyo, Ed., 1981: 76-77 dan 105), dalam noodstaatsrecht, undang-undang keadaan bahaya selalu ada, pelaksanaan berlakunya keadaan bahaya dituangkan dalam keputusan presiden. Noodstaatsrecht harus dibedakan dari staatsnoodrecht. Menurut doktrin staatnoodrecht, jika negara dalam keadaan darurat kepala negara boleh bertindak apapun bahkan melanggar undang-undang dasar sekalipun demi untuk menyelamatkan negara. Staatnoodrecht  merupakan hak darurat negara, bukan hukum. Di Indonesia, Dekrit Presiden 5 Juli 1949 yang menetapkan berlakunya kembali UUD 1945, menurut Prof. Wiryono didasarkan pada doktrin staatnoodrecht. Mahfud MD pembenaran dekrit tidak hanya didasarkan pada staatnoodrecht tetapi juga berdasarkan pada prinsip &lt;span style="font-style:italic;"&gt;salus populis supreme lex&lt;/span&gt; (keselamatan rakyat adalah dasar hukum tertinggi). Akan tetapi, menurut M. Hatta, Prawoto Mangkusasmito (dalam Mahfud MD: 2001: 136) serta Yusril Ihza Mahendra (2001) yang menyetujui pendapat Prof. Logeman, Dekrit Presiden 5 Juli 1959 adalah sebuah revolusi hukum di bidang ketatanegaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Perpu merupakan produk hukum yang sah sesuai ketentuan Pasal 22 Undang-Undang Dasar 1945. Secara formal, Perpu adalah peraturan pemerintah, bukan Undang-undang. Tetapi secara substansial, meteri Perpu sama dengan materi muatan Undang-Undang (Pasal 9 UU No. 10 Tahun 2004).  Terhadap Perpu, DPR dapat melakukan legislative review untuk menyetujui Perpu sebagai undang-undang atau tidak. Pasal 22 UUD 1945 menyebutkan: (1) Dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa, Presiden berhak menetapkan peraturan pemerintah sebagai pengganti undang-undang; (2) Peraturan pemerintah itu harus mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat dalam persidangan yang berikut; (3) Jika tidak mendapat persetujuan, maka peraturan pemerintah itu harus dicabut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa” merupakan syarat mutlak bagi presiden untuk menggunakan haknya. Secara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;a contrario &lt;/span&gt;presiden tidak dapat menggunakan haknya selama tidak ada hal ikhwal kegentingan memaksa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menelisik ke belakang, ketentuan Pasal 22 (dan Pasal 12) merupakan teks asli UUD 1945 yang tidak diamandemen. Penjelasan Pasal 22 UUD 1945 menerangkan bahwa, Pasal ini mengenai noodverordeningsrecht Presiden. Aturan sebagai ini memang perlu diadakan agar supaya keselamatan negara dapat dijamin oleh pemerintah dalam keadaan yang genting, yang memaksa pemerintah untuk bertindak lekas dan tepat. Meskipun demikian, pemerintah tidak akan terlepas dari pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat. Oleh karena itu, peraturan pemerintah dalam pasal ini, yang kekuatannya sama dengan undang-undang harus disahkan pula oleh Dewan Perwakilan Rakyat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indrianto Seno Adji (2002) mengatakan, dalam Hukum Tata Negara dikenal asas hukum darurat untuk kondisi darurat atau abnormale recht voor abnormale tijden. Asas ini kemudian menjadi hak prerogatif presiden seperti dalam ketentuan Pasal 22 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. Menurut Jimly Ashiddiqie (2006: 80-85), Perpu sebagai emergency legislation yang didasarkan pada alasan inner nootstand (keadaan darurat yang bersifat internal) dalam keadaan (i) mendesak dari segi substansi, dan (ii) genting dari segi waktunya. Sementara itu, Bagir Manan dalam buku Teori dan Politik Konstitusi (2004) mengatakan, hal ihwal kegentingan yang memaksa" merupakan syarat konstitutif yang menjadi dasar kewenangan presiden dalam menetapkan perppu. Apabila tidak dapat menunjukkan syarat nyata keadaan itu, presiden tidak berwenang menetapkan perppu. Perppu yang ditetapkan tanpa adanya hal ihwal kegentingan maka batal demi hukum (null and void), karena melanggar asas legalitas yaitu dibuat tanpa wewenang.  Hal ihwal kegentingan yang memaksa juga harus menunjukkan beberapa syarat adanya krisis, yang menimbulkan bahaya atau hambatan secara nyata terhadap kelancaran menjalankan fungsi pemerintahan. Oleh karena itu, muatan perppu hanya terbatas pada pelaksanaan (administratiefrechtelijk).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang muatan dan cakupan Perpu sendiri, Jimly Ashiddiqie membenarkan pendapat Bagir Manan,  bahwa sifat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;inner notstand &lt;/span&gt;sebagai alasan pokok hanya dapat dijadikan alasan ditetapkannya Perpu sepanjang berkaitan dengan kepentingan internal pemerintahan yang memerlukan dukungan payung hukum setingkat undang-undang. Beranjak dari hal-hal tersebut di atas, jelas bahwa Presiden mempunyai keterbatasan dalam menggunakan hak subyektifnya dalam mengeluarkan perpu. Presiden hanya bisa menggunakan haknya sepanjang berkaitan dengan kepentingan internal pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Inkonsistensi Dalam Mengeluarkan PERPU &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Substansi Perpu No 4 Tahun 2004 setidaknya memuat 2 hal penting yaitu: (1) penafsiran Presiden terhadap kondisi KPK setelah terjadi kekosongan 3 posisi pimpinan KPK, dan (2) penafsiran Presiden terhadap UU No 30 Tahun 2002 tentang KPK khususnya pasal-pasal yang berkaitan dengan pengisian kekosongan pimpinan KPK. Dalam konteks penafsiran subyektif terhadap kondisi KPK, sebagai perbandingan perlu melihat proses penerbitan dua perpu yang dikeluarkan Presiden SBY sebelumnya yang berkaitan dengan penangguhan pembentukan pengadilan khusus yaitu Perpu No. 1 Tahun 2005 tentang Penangguhan Mulai Berlakunya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 Tentang  Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial dan Perpu No 2 Tahun 2006 Tentang Penangguhan Pelaksanaan Tugas Dan Fungsi Pengadilan Perikanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbitnya kedua Perpu tersebut tidak lepas dari adanya Surat Ketua Mahkamah Agung kepada Presiden Republik yaitu Surat Ketua Mahkamah Agung kepada Presiden Republik Indonesia Nomor KMA/674/XII/2004 tanggal 10 Desember 2004 perihal Penundaan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004  dan Surat Ketua Mahkamah Agung kepada Presiden Republik Indonesia Nomor KMA/295/IX/2006 tanggal 07 September 2006 perihal Penerbitan Perpu tentang Penangguhan Pelaksanaan Tugas dan Fungsi Pengadilan Perikanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua surat Ketua Mahkamah Agung tersebut menunjukkan adanya kondisi obyektif dari kekuasaan yudikatif di mana menurut Ketua Mahkamah Agung perlu dilakukan penundaan pembentukan pengadilan perikanan dan penundaan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial. Kedua surat tersebut menjadi pertimbangan Presiden dalam mengeluarkan Perpu No. 1 Tahun 2005 dan Perpu No. 2 Tahun 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan KPK? Dalam Pasal 3 UU No 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi disebutkan bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi adalah lembaga negara yang dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya bersifat independen dan bebas dari pengaruh kekuasaan manapun. Sementara itu dalam Penjelasan Pasal 3 disebutkan bahwa, dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan “kekuasaan manapun” adalah kekuatan yang dapat mempengaruhi tugas dan wewenang Komisi Pemberantasan Korupsi atau anggota Komisi secara individual dari pihak eksekutif, yudikatif, legislatif, pihak-pihak lain yang terkait dengan perkara tindak pidana korupsi, atau keadaan dan situasi ataupun dengan alasan apapun. Ketentuan Pasal 3 dan Penjelasannya tersebut dengan tegas melindungi KPK dari intervensi kekuasaan manapun termasuk dari Presiden, DPR, maupun Mahkamah Agung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski KPK mempunyai fungsi eksekutif dalam hal penyidikan dan penuntutan tetapi, ketentuan Pasal 3 tersebut di atas dengan jelas mengaskan bahwa, dalam menjalankan fungsinya, KPK sebagai lembaga negara yang tidak dapat diintervensi Presiden. Dengan demikian, Presiden mempunyai keterbatasan dalam hal menafsirkan ketentuan UU No 3 Tahun 2002 Tentang KPK berkaitan dengan “hal ikwal kegentingan memaksa” yang terjadi dalam tubuh KPK. Penafsiran Presiden terhadap kondisi darurat harus didasarkan pada kondisi obyektif yang terjadi dalam tubuh internal KPK. Jika komisioner KPK merasa belum ada kegentingan yang memaksa maka dengan sendiri kewenangan subyektif dari Presiden tidak dapat digunakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya Presiden menggunakan dasar yang sama seperti saat mengeluarkan Perpu No. 1 Tahun 2005 dan Perpu No. 5 Tahun 2006 yaitu menggunakan hak subyektifnya setelah ada kondisi obyektif dari lembaga yang bersangkutan. Dari konteks demikian maka Presiden SBY tidak cukup konsisten menggunakan haknya dalam mengeluarkan Perpu.&lt;br /&gt;Indikasi inkonsistensi lain adalah pada substansi Perpu itu sendiri, di mana presiden menafsirkan pimpinan KPK efektif jika ada minimal 3 orang pimpinan. Dengan adanya ketentuan demikian maka seharusnya pengisian pimpinan KPK didasarkan pada fakta yang terjadi saat penerbitan perpu. Faktanya adalah satu pimpinan secara hukum diberhentikan karena menjadi terdakwa dalam proses peradilan (Pasal 32 ayat (1) huruf c) dan 2 (dua) pimpinan diberhentikan sementara (non aktif) karena menjadi tersangka dalam proses penyidikan kepolisian. Dari fakta yang ada, Presiden hanya perlu memasukkan satu orang pimpinan KPK yaitu untuk mengganti pimpinan yang jelas berhenti atau diberhentikan karena status hukumnya sebagai terdakwa. Dengan menambah satu pimpinan maka dianggap cukup untuk menjadikan KPK efektif bekerja. Dugaan intervensi muncul dengan penggantian dua pimpinan KPK yang nonaktif karena statusnya sebagai tersangka yang suatu saat penyidikan/penuntutan dihentikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, perlu ditegaskan bahwa ketentuan UUD 1945 tentang hak presiden menafsirankan keadaan darurat dan kegetingan memaksa bukan merupakan hak tanpa batas. Hak mengeluarkan perpu (atau bahkan Dekrit) tanpa batas akan menjadikan bangsa Indonesia berjalan mundur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/12/kajian-terhadap-ruu-kuhap-i.html"&gt;R - KUHAP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/08/memburu-teroris.htmll"&gt;Memburu Teroris&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/04/catatan-singkat-politik-hukum-pembaruan.html"&gt;Catatan Singkat Politik Hukum Pembaruan Hukum Pidana Materiel Di Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/02/model-grand-jury-dalam-kuhap-mendatang.html"&gt;Model Grand Jury Dalam KUHAP Mendatang, Mungkinkah?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-5107823668903446790?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/5107823668903446790/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=5107823668903446790' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/5107823668903446790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/5107823668903446790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/perpu-bukan-hak-tanpa-batas-dari.html' title='Perpu Bukan Hak Tanpa Batas Dari Presiden'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-5812498713944188886</id><published>2009-08-26T20:34:00.004+07:00</published><updated>2010-09-06T00:57:14.761+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Terrorism'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jodi Santoso'/><title type='text'>Memburu Teroris</title><content type='html'>M Jodi Santoso*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca peledakan bom di JW Marriot II dan Ritz Carlton setidaknya muncul dua fakta baru dalam aksi teror di Indonesia.  Pertama,  kepolisian menemukan adanya indikasi sasaran peledakan bom berikutnya di kediaman Presiden Susilo Bambang Yudoyono di Cikeas. Hal demikian mengindikasikan adanya pergeseran sasaran dari yang semula simbul-simbul Amerika Serikat dan sekutunya di Indonesia bergeser ke simbul-simbul lokal. Meski temuan kepolisian (dalam perspektif Herbert L. Packer ,1968, sebagai factual guilt bukan fakta hukum/legal factual, bukan juga legal guilt) harus dibuktikan di pengadilan sebagai legal guilt tapi keberhasilan kepolisian mencegah aksi teror dan dampaknya yang lebih besar perlu mendapat penghormatan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kedua, adanya indikasi teroris di Indonesia merekrut usia remaja untuk melakukan bom bunuh diri. Temuan kepolisian ini menambah deret panjang terorisme yang dilakukan oleh anak/pemuda dan memperkuat berbagai kajian tentang rekrutmen anak dalam aksi teror. Tidak hanya anak/remaja,. Federal Research Division of Library of Congress dalam studinya yang berjudul The Sociology And Psychology Of Terrorism: Who Becomes A Terrorist And Why? (1999) menemukan adanya keterlibatan anak-anak dan wanita sebagai pelaku terorisme.  Fakta demikian muncul di Indonesia, dalam peledakan bom di JW Marriot II dan Ritz Carlton melibatkan dua remaja laki-laki. Dimungkinankan para teroris terus merekrut kelompok muda dan wanita. Kondisi demikian tidak dapat dibiarkan. Perlu upaya bersama pemerintah dan masyarakat untuk mencegah dan memberantas teroris. Tidak ada kambing hitam atas meledaknya kembali bom di Indonesia.  Hal penting yang perlu dicatat bahwa bahwa tindak pidana terorisme merupakan mala per se bukan termasuk mala prohibita karena terorisme merupakan crime against concience, menjadi jahat bukan karena dilarang oleh undang-undang tetapi karena pada dasarnya terorisme merupakan tindakan tercela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Instrument Hukum Pemberantasan Teroris&lt;br /&gt;Banyak kalangan berpendapat bahwa instrument hukum Indonesia tidak memadahi untuk mencegah dan memberantas tindak pidana terorisme. Dibanding Internal Security Act (ISA) di Malaysia dan Singapura atau Patriot Act di Amerika Serikat, instrument hukum Indonesia dianggap ketinggalan. Tapi jika dikaji lebih jauh, instrument hukum yang ada saat ini jauh lebih baik karena di tiga negara tersebut tersangka terorisme dapat ditahan dalam waktu yang lama tanpa ada proses peradilan. Instrument hukum di Indonesia telah mengatur mekanisme pencegahan dan pemberantasan terorisme dengan tetap memberi perlindungan terhadap hak-hak tersangka/terdakwa (asas safe guarding rules). Pada tanggal 18 Oktober 2002, Presiden Megawati Soekarnoputri mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) No  1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Setahun kemudian,  pada tanggal 06 Maret 2003, Perpu Antiteroris ditetapkan DPR sebagai undang-undang dan pada tanggal 4 April 2003 secara resmi diundangkan oleh Pemerintah berdasarkan UU No. 15 Tahun 2003. &lt;br /&gt;Dalam proses legislasi telah putuskan bahwa lembaga hukum yang berhak melakukan penyidikan, penangkapan, dan penahanan adalah kepolisian. Dalam menjalankan tugas dan kewenangannya, kepolisian tidak berjalan sendiri. Pasal 26 ayat (1) dan Penjelasan Umum Perpu  No 1 2002 (UU No. 15 Tahun 2003) menentukan kepolisian dapat menggunakan laporan intelijen setelah dilakukan audit hukum (legal audit) oleh Ketua/Wakil Ketua Pengadilan dalam sebuah pranata Hearing. Pasal tersebut dengan jelas melegitimasi keberadaan BIN dan badan intelijen lainnya masuk dan berperan dalam proses peradilan tindak pidana terorisme di Indonesia. Peran pengadilan dalam hal ini ketua/wakil ketua pengadilan negeri sebagai kontrol kekuasaan yudikatif terhadap tindakan represif dan kemungkinan penyalahgunaan kewenangan (abuse of power) dari kekuasaan eksekutif dalam hal ini kepolisian dan lembaga intelijen terhadap warga negara. &lt;br /&gt;Instrumen hukum lain yang dapat digunakan untuk mencegah dan memberantas teroris di Indonesia adalah Pasal 108 ayat KUHAP.  Pada ayat (1) ditentukan Setiap orang yang mengalami, melihat, menyaksikan dan atau menjadi korban peristiwa yang merupakan tindak pidana berhak untuk mengajukan laporan atau pengaduan kepada penyelidik dan atau penyidik baik lisan maupun tulisan. Sedangkan dalam ayat (2) disebutkan  bahwa setiap orang yang mengetahui permupakatan jahat untuk melakukan tindak pidana terhadap ketenteraman dan keamanan umum atau terhadap jiwa atau terhadap hak milik wajib seketika itu juga melaporkan hal tersebut kepada penyelidik atau penyidik. Meski ketentuan KUHAP tidak menjelaskan lembaga (badan) intelijen sebagai bagian dari sistem peradilan pidana tetapi berdasarkan Pasal 108 KUHAP tersebut maka semua lapisan masyarakat termasuk lembaga intelijen dapat berperan aktif dengan memberikan laporan atas temuan-temuannya yang menyangkut peristiwa yang terjadi atau akan terjadi serta pelaku yang diduga terlibat dalam tindak pidana. &lt;br /&gt;Kedua undang-undang tersebut di atas, baik Umum UU No. 15 Tahun 2003 (Perpu  No 1 2002) maupun UU No 8 Tahun 1981 (KUHAP) memberikan ruang yang cukup luas bagi intelijen di semua lembaga dan departemen untuk ikut dalam mendeteksi, mencegah, menangkal, dan memberantas teroris di Indonesia. Pada tingkat operasional, untuk koordinasi intelijen di semua instansi pemerintahan, Presiden Megawati pada 22 Oktober 2002 mengeluarkan Instruksi Presiden No. 5 Tahun 2002 Kepada Kepala Badan Intelijen Indonesia untuk mengkoordinasikan penyusunan rencana umum dan pelaksanaan operasional kegiatan intelijen seluruh instansi yang ada. &lt;br /&gt;Berdasarkan ketentuan peraturan peraturan perundang-undangan yang ada, politik kriminal dalam pencegahan dan pemberantasan terorisme melalui sistem peradilan pidana di Indonesia dengan jelas menentukan bahwa kewenangan penangkapan dan penyidikan berada dalam satu pintu yaitu kepolisian kecuali tertangkap tangan. Dalam menjalankan tugas dan kewenangannya, kepolisian tidak dapat berjalan sendiri menghadapi terorisme. Politik kriminal demikian bukan berarti menyisihkan peran badan-badan intelijen dan TNI dalam perburuan teroris di Indonesia. BIN, sesuai Instruksi Presiden No. 5 Tahun 2002 berwenang untuk mengkoordinasikan penyusunan rencana umum dan pelaksanaan operasional kegiatan intelijen seluruh instansi termasuk intelijen kepolisian. Keberadaan TNI dan lembaga-lembaga intelijen lain berperan penting dalam menopang kepolisian melakukan penyidikan dalam kontrol pengadilan melalui legal audit. &lt;br /&gt;Indonesia tidak mungkin mengikuti model Amerika Serikat dan Malaysia yang telah menghancurkan bangunan konsep dan praktik peradilan pidana yang memberikan perlindungan hak tersangka yang dibangun sejak berabad-abad tahun lalu. Di Malaysia, keberadaan ISA kini digugat oleh kelompok pro-demokrasi dan hak asasi manusia. Begitu juga halnya tindakan Amerika Serikat dalam memberangus tersangka terorisme tanpa proses peradilan mencapat kecaman dari berbagai pihak termasuk Amnesti Internasional. Di Indonesia, instrument hukum yang ada saat ini cukup untuk mendeteksi dan memburu terorisme. Dibutuhkan sinergi aparat penegak hukum, intijen, pengadilan dan masyarakat dalam mencegah dan memberantas tindak pidana terorisme. Strategi untuk menempatkan polisi masyarakat dan intelijen masyarakat sangat strategis dalam menangkal dan memberantas teroris di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- AddThis Button BEGIN --&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class='addthis_toolbox addthis_default_style' expr:addthis:title='data:post.title' expr:addthis:url='data:post.url'&gt;&lt;a href='http://www.addthis.com/bookmark.php?v=250&amp;amp;username=xa-4c77f98962ed2d8d' class='addthis_button_compact'&gt;Share&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;|&lt;a class='addthis_button_facebook'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class='addthis_button_myspace'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class='addthis_button_google'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class='addthis_button_twitter'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/250/addthis_widget.js#username=xa-4c77f98962ed2d8d"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- AddThis Button END --&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/04/catatan-singkat-politik-hukum-pembaruan.html"&gt;Catatan Singkat Politik Hukum Pembaruan Hukum Pidana Materiel Di Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/02/model-grand-jury-dalam-kuhap-mendatang.html"&gt;Model Grand Jury Dalam KUHAP Mendatang, Mungkinkah?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Peneliti pada Komisi Hukum Nasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-5812498713944188886?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/5812498713944188886/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=5812498713944188886' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/5812498713944188886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/5812498713944188886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2009/08/memburu-teroris.html' title='Memburu Teroris'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-4202470102810331557</id><published>2009-06-08T17:10:00.005+07:00</published><updated>2010-07-09T13:10:16.628+07:00</updated><title type='text'>Siaran Pers Komite Pembela Kemerdekaan Berpendapat: Sudah Waktunya Dekriminalisasi Penghinaan !</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No : 002/Eks/KPKB/VI/2009&lt;br /&gt;Perihal : Siaran Pers Untuk Segera Disiarkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sudah Waktunya Dekriminalisasi Penghinaan !&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komite Pembela Kemerdekaan Berpendapat (KPKB) mengapresiasi upaya Mahkamah Agung RI&lt;br /&gt;untuk mempertimbangkan untuk menghapuskan ketentuan pidana penghinaan. Upaya dari&lt;br /&gt;Mahkamah Agung RI ini jelas jauh lebih progresif dibandingkan sikap dari Mahkamah Konstitusi RI yang terus menerus mempertinggi kedudukan perlindungan reputasi melalui hukum pidanadibandingkan kemerdekaan berpendapat. KPKB berpendapat bahwa sudah saatnya Indonesia yang mengaku sebagai negara hukum modern yang demokratis untuk mencabut semua ketentuan penghinaan dalam hukum pidana Indonesia. Untuk itu KPKB mendukung upaya Mahkamah Agung untuk mempertimbangkan penghapusan tindak pidana penghinaan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delik penghinaan tergolong dalam pasal karet yang memungkinkan untuk digunakan sebagai senjata ampuh bagi penguasa ataupun penyedia jasa pelayanan publik untuk membungkam daya kritis masyarakat untuk melakukan kritik terhadap kebijakan negara ataupun kritik terhadap pelayanan umum yang disediakan oleh para penyedia jasa pelayanan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, KPKB mendesak agar pimpinan Mahkamah Agung RI untuk segera mengambil tindakan untuk menghapuskan semua ketentuan pidana pencemaran nama baik di Indonesia. Untuk sementara KPKB mendesak agar Mahkamah Agung RI segera mengeluarkan Surat Edaran agar para hakim tidak memproses penanganan perkara tindak pidana penghinaan di pengadilan dengan pertimbangan bahwa penerapan tindak pidana penghinaan adalah bertentangan dengan konstitusi dan bertentangan dengan prinsip – prinsip negara hukum yang menjunjung tinggi hak asasi manusia &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 5 Juni 2009&lt;br /&gt;a/n Komite Pembela Kemerdekaan Berpendapat&lt;br /&gt;Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia&lt;br /&gt;Divisi Advokasi HAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggara&lt;br /&gt;Koordinator&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekretariat&lt;br /&gt;Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia&lt;br /&gt;Rukan Mitra Matraman Blok A2 No 18, Jl Matraman Raya No 148 Jakarta&lt;br /&gt;Phone (021) 85918064 Fax (021) 85918065&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/04/catatan-singkat-politik-hukum-pembaruan.html"&gt;Catatan Singkat Politik Hukum Pembaruan Hukum Pidana Materiel Di Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/02/model-grand-jury-dalam-kuhap-mendatang.html"&gt;Model Grand Jury Dalam KUHAP Mendatang, Mungkinkah?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-4202470102810331557?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/4202470102810331557/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=4202470102810331557' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/4202470102810331557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/4202470102810331557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2009/06/siaran-pers-komite-pembela-kemerdekaan.html' title='Siaran Pers Komite Pembela Kemerdekaan Berpendapat: Sudah Waktunya Dekriminalisasi Penghinaan !'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-1089661575518699058</id><published>2009-04-02T14:12:00.011+07:00</published><updated>2009-11-03T13:10:14.356+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reformasi KUHP'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KUHP dan UU Perubahannya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jodi Santoso'/><title type='text'>Catatan Singkat Politik Hukum Pembaruan Hukum Pidana Materiel Di Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SdR9BNCS1LI/AAAAAAAACJM/q776pmcrA8o/s1600-h/kuhpcleta+copy.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 204px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SdR9BNCS1LI/AAAAAAAACJM/q776pmcrA8o/s320/kuhpcleta+copy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320014519464023218" /&gt;&lt;/a&gt;KUHP saat ini adalah warisan Kolonial Belanda yang berlaku di Indonesia sejak tahun 1915, melalui Staatsblad Tahun 1915 Nomor 732, Belanda memberlakukan Wetboek van Strafrecht voor Nederlands Indië sebagai hukum pidana materiel dan berlaku efektif pada tanggal 1 Januari 1918. Dalam perjalanannya beberapa kali mengalami penambahan dan perubahan baik oleh pemerintah Hindia Belanda, Jepang, maupun NICA (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nederlands Indië civil administration&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setelah Kemerdekaan Indonesia, berdasarkan Undang-Undang No. 1 Tahun 1946 Berita RI Tahun II Tanggal 15 Maret 1946 Pasal VI nama Wetboek van Strafrecht voor Nederlands Indie diubah menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wetboek van Strafrecht&lt;/span&gt; (WvS) atau disebut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Kemudian, berdasarkan UU No. 73 Tahun 1958, LN Tahun 1958 No. 127 yang mulai berlaku pada tanggal 29 September 1958, KUHP (WvS) dinyatakan berlaku untuk seluruh wilayah Republik Indonesia. Rumusan asli pasal-pasal KUHP masih menggunakan bahasa Belanda. Dalam Praktiknya para akademisi dan praktisi (hakim, jaksa, polisi, advokad) menggunakan terjemahan tidak resmi dari bahasa aslinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengejar perkembangan masyarakat Indonesia, terus dilakukan penambahan dan perubahan pasal-pasal KUHP.  Dalam konteks lebih luas, setidaknya terdapat tiga cara pembaruan hukum materiel di Indonesia, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. membuat undang-undang khusus di luar KUHP&lt;br /&gt;2. penambahan, pencabutan, dan perubahan Pasal-pasal KUHP secara parsial, dan&lt;br /&gt;3. penyusunan RUU KUHP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaruan hukum materiel melalui undang-undang khusus di luar KUHP tidak dapat di hindari sejalan dengan perkembangan masyarakat dan kejahatan. Pada sisi lain, KUHP yang berlaku saat ini merupakan terjemahan tidak resmi dari Wetboek van Strafrecht peninggal kolonial Belanda yang mulai diberlakukan secara resmi di Indonesia sejak tanggal 1 Januari 1918.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara kedua yang dilakukan dalam pembaruan hukum meteriel di Indonesia adalah dengan melakukan perubahan KUHP cara parsial. Kebijakan hukum ini dilakukan dengan melalui berbagai undang-undang yang isinya mencabut, menambahkan, atau menyempurnakan pasal-pasal dalam KUHP. Dalam catatan Ahmad Bahiej, mulai tahun 1946 setidaknya telah dikeluarkan 11 undang-undang baik yang mencabut, menambahkan, atau menyempurnakan pasal-pasal KUHP. Jika ditambah dengan Putusan Mahkamah Konstitusi, maka terdapat 13 kali perubahan. Beberapa peraturan perundang-undangan yang mencabut, menambahkan, atau menyempurnakan pasal-pasal dalam KUHP antara lain sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/undang-undang-no-1-tahun-1946.html"&gt;UU NO. 1 TAHUN 1946 Tentang Peraturan Hukum Pidana&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;2).  &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/undang-undang-no-20-tahun-1946.html"&gt;UU Nomor 20 Tahun 1946 tentang Hukuman Tutupan.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;3).  &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/undang-undang-republik-indonesia-nomor.html"&gt;UU Nomor 8 Tahun 1951 tentang Penangguhan Pemberian Surat Izin kepada Dokter dan Dokter Gigi&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;4). &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/uu-nomor-73-tahun-1958.html"&gt;UU Nomor 73 Tahun 1958 tentang Menyatakan Berlakunya UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana untuk Seluruh Wilayah RI dan Mengubah KUH Pidana&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;5). &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/uu-no-1-tahun-1960-tentang-pengubahan.html"&gt;UU Nomor 1 Tahun 1960 tentang Perubahan KUHP.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;6).  &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/undang-undang-no-16-prp-1960.html"&gt;UU Nomor 16 Prp Tahun 1960 tentang Beberapa Perubahan dalam KUHP&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;7). &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/ndang-undang-no-18prp1960.html"&gt;UU Nomor 18 Prp Tahun 1960 tentang Perubahan Jumlah Hukuman Denda dalam KUHP dan dalam Ketentuan-ketentuan Pidana lainnya yang dikeluarkan sebelum tanggal 17 Agustus 1945.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;8). &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/penetapan-presiden-nomor-1-tahun-1965.html"&gt;UU Nomor 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan atau Penodaan Agama&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;9).  &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/uu-nomor-7-tahun-1974-tentang.html"&gt;UU Nomor 7 Tahun 1974 tentang Penerbitan Perjudian.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;10).  &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/uu-no-4-tahun-1976.html"&gt;UU Nomor 4 Tahun 1976 tentang Perubahan dan Penambahan Beberapa Pasal dalam KUHP Bertalian dengan Perluasan Berlakunya Ketentuan Perundang-undangan Pidana, Kejahatan Penerbangan, dan Kejahatan terhadap Sarana/Prasarana Penerbangan&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;11).  &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/uu-nomor-27-tahun-1999.html"&gt;UU Nomor 27 Tahun 1999 tentang Kejahatan terhadap Keamanan Negara&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;12).  Putusan Nomor 013-022/PUU-IV/2006 yang menyatakan Pasal 134, Pasal 136 bis, dan Pasal 137 KUHP bertentangan dengan UUD 1945&lt;br /&gt;13).  Putusan Nomor 6/PUU-V/2007 menyatakan Pasal 154 dan 155 KUHP bertentangan dengan UUD 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik hukum demikian, menurut Utrecht, tidak mengubah KUHP pada dasarnya, dan selama tidak diubah pada dasarnya, maka KUHP akan terus ketinggalan zaman.  Untuk itu perlu didahulukan tidak hanya dengan mengubah pasal-pasal KUHP tetapi membentuk dan mengundangkan KUHP baru dengan mengkodifikasi suatu KUHP Nasional. Kebijakan pembaruan melalui perubahan dan penambahan pasal-pasal dalam KUHP menyebabkan kerancauan dalam praktik peradilan karena KUHP yang saat ini berlaku menggunakan dua bahasa yaitu : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. bahasa Belanda sebagai bahasa asli KUHP (Wetboek van Strafrecht (WvS)/Wetboek van Strafrecht voor Nederlands Indie) dan aturan-aturan yang memuat perubahannya pada masa sebelum Pemerintahan RI, serta&lt;br /&gt;2. bahasa Indonesia sebagai bahasa yang digunakan dalam Undang-undang yang mengubah, mencabut, atau menghapus pasal-pasal KUHP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena fakta di atas, perlu dilakukan pembaruan hukum materiel dengan membentuk KUHP Nasional. Menurut. Sudarto, terdapat 3 alasan perlunya bangsa Indonesia memiliki KUHP Nasional sendiri, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. alasan Politik ; adalah suatu kewajaran apabila Negara Republik Indonesia yang merdeka memiliki KUHP nasional yang dihasilkan sendiri dan bisa menjadi kebanggan nasional.&lt;br /&gt;2. alasan Sosiologis, Suatu KUHP adalah pencerminan dari nilai-nilai kebudayaan dari suatu bangsa, &lt;br /&gt;3. alasan Praktis perlunya pembaruan KUHP adalah, dalam praktek dewasa ini jumlah penegak hukum yang benar-benar paham terhadap WVS jumlahnya sangat sedikit yang selama ini menjadi patokan adalah WVS yang sudah diterjemahkan, sehingga wajar jika satu penerjemah dengan penerjemah yang lain berbeda juga pandangan dan penafsirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Politik Kriminal Bab I RUU KUHP&lt;a terget="new" href="http://"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/08/memburu-teroris.htmll"&gt;Memburu Teroris&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/04/catatan-singkat-politik-hukum-pembaruan.html"&gt;Catatan Singkat Politik Hukum Pembaruan Hukum Pidana Materiel Di Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/02/model-grand-jury-dalam-kuhap-mendatang.html"&gt;Model Grand Jury Dalam KUHAP Mendatang, Mungkinkah?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-1089661575518699058?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/1089661575518699058/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=1089661575518699058' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/1089661575518699058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/1089661575518699058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2009/04/catatan-singkat-politik-hukum-pembaruan.html' title='Catatan Singkat Politik Hukum Pembaruan Hukum Pidana Materiel Di Indonesia'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SdR9BNCS1LI/AAAAAAAACJM/q776pmcrA8o/s72-c/kuhpcleta+copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-6697183576433613669</id><published>2009-03-04T13:09:00.002+07:00</published><updated>2009-07-07T18:16:33.612+07:00</updated><title type='text'>Pembaruan Hukum dan Hak Asasi Manusia dalam Konteks Liberalisasi Pasar</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R. Herlambang Perdana Wiratraman&lt;br /&gt;Dosen Hukum Tata Negara dan Hak Asasi Manusia&lt;br /&gt;Fakultas Hukum Universitas Airlangga &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila menyimak mafia peradilan yang terjadi di tubuh peradilan, sesungguhnya sama sekali tidak terlampau mengejutkan bila kita menyimak laporan D&lt;span style="font-style:italic;"&gt;iagnostic Survey of Corruption in Indonesia &lt;/span&gt;yang telah menempatkan peradilan sebagai ranking ketiga lembaga terkorup di Indonesia. Bahkan, Global Corruption Report 2005 yang dikeluarkan Transparency International (TI) memposisikan Indonesia dalam jajaran negara terkorup, dan korupsi sebesar US$ 15-35 trilyun yang dilakukan oleh Soeharto (1967-1998) disebut sebagai korupsi terbesar di dunia, di atas Ferdinand Marcos (Philipina) dan Mobutu Sese Seko (Zaire). Tidak hanya peradilan, lembaga-lembaga negara lainnya pun terjangkiti penyakit yang serupa, dalam bentuk korupsi, suap, dan transaksi kotor lainnya, baik itu di kelembagaan birokrasi maupun parlemen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga pilar lembaga kekuasaan utama negara telah saling melengkapi catatan rekor korupsi. Cerita ini sepertinya tidak terlalu banyak bergeser meskipun sudah memasuki rezim “reformasi”, yang sudah mengalami beberapa kali pergantian kepemimpinan politik. Kian menyedihkan ketika melihat bangsa ini sesungguhnya mengalami situasi keterpurukan ekonomi yang mengakibatkan meluasnya pemiskinan struktural dan ketergantungan utang luar negeri yang membengkak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam realitas demikian, uniknya, banyak pihak lebih sependapat untuk menyalahkan sistem pemerintahan yang buruk (bad governance) sebagai penyebab utama praktek korupsi dan pemiskinan, sehingga tidak heran bila tiba-tiba diskursus good governance tampil dalam situasi tersebut, bisa diterima dengan mudah oleh siapapun sebagai mantra yang sekaligus dipercaya sebagai obat mujarab penyakit kronis bangsa ini, dan melesat menjadi ikon perubahan berbagai sektor, termasuk salah satunya dalam strategi pembaruan hukum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kunci pertanyaan yang bisa digunakan untuk menganalisa strategi pembaruan hukum tersebut adalah apakah good governance yang menjadi model dominan pembaruan merespon upaya pertanggungjawaban negara dalam pemajuan hak-hak asasi manusia?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pembaruan Hukum dan Persimpangan Neo-Liberal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Good governance dalam upaya pembaruan hukum Indonesia menawarkan tidak saja soal diskursus (apa yang dinyatakan) baik dan buruk suatu standar, namun pula menjelaskan adanya paradigma dominan dalam gagasan perubahannya. Paradigma yang melekat dalam konsepsi tersebut adalah penciptaan iklim liberalisasi pasar dengan melucuti peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik atas dasar efisiensi. Paradigma yang demikian telah lama diinjeksikan melalui sejumlah proyek ketatapemerintahan (dan ketatanegaraan) oleh proponen neoliberal serta keterlibatan peran lembaga-lembaga keuangan internasional, utamanya Bank Dunia dan IMF. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh tidak wajar, Bank Dunia misalnya, dalam konstitusinya menyebutkan bahwa persoalan semacam korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia sebagai urusan ‘internal affair’ yang tidak boleh dicampuri. Sehingga, selama lebih dari dua dasawarsa, meskipun Bank Dunia tahu bahwa korupsi yang hampir mencapai 40 % dari dana yang diutangkan selama ini kepada Pemerintah Indonesia, hanya didiamkan saja. Bank Dunia bekerja dalam skema Program Penyesuaian Struktural tanpa mempedulikan permasalahan serius otoritarianisme rezim yang diutanginya, sehingga perlakuan ini menyebabkan penyakit korupsi dan keterpurukan ekonomi semakin mengganas. Utang luar negeri menggunung, angka pengangguran melonjak, penggusuran tanah-tanah rakyat, penderitaan dan proses pemelaratan, yang semuanya berpuncak pada krisis ekonomi di tahun 1997-1998. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bisa lembaga yang seharusnya bertanggung jawab terhadap krisis ekonomi dan terlibat dalam pelanggengan bad governance, kini bisa kembali mendominasi dengan good governance? Sebuah pertanyaan penting yang seharusnya pengambil kebijakan di negeri ini melihat dan merefleksikannya secara kritis.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga komponen yang terkandung dalam agenda turunan good governance, yakni (1) legal framework for development; (2) accountability; (3) transparancy and information. Dalam komponen tersebut, ada aspek yang dibedakan, yakni aspek politik yang terkait legitimasi dan aspek teknis yang menyangkut kapasitas (World Bank 1992). Dalam kaitan pembaruan hukum tentu penting untuk melihat bagaimana disusunnya ‘legal framework for development’ (kerangka hukum untuk pembangunan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerangka hukum tersebut jelas ditujukan untuk mempromosikan liberalisasi pasar, meskipun pula menggunakan mantra-mantra rule of law di dalam proses injeksinya. Kerangka hukum ini ditempatkan sebagai prakondisi bagi pembangunan ekonomi, yang mengharuskan adanya kepastian hukum dan prediksibilitas (Tsuma 1999: 81-82). Selain secara substantif mendesak adanya sejumlah perubahan-perubahan hukum, kerangka hukum tersebut juga menegaskan mekanisme tertentu yang dirasakan lebih fair dan terkontrol secara prosedural, dan dalam paradigma inilah banyak peran negara yang secara bertahap dikurangi dan kemudian dihilangkan, serta tergantikan oleh kendali modal (baca: privatisasi + komodifikasi).   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah agenda neoliberal dalam sektor pembaruan hukum, yang mempengaruhi berlangsungnya tekanan perubahan instrumentalistik terhadap institusi-institusi negara, baik dengan cara membentuk lembaga-lembaga negara baru (termasuk peradilan) maupun produk legislasi yang memang dipersyaratkan sebagai kepatuhan negara terhadap sistem ekonomi pasar dunia yang kian terintegrasi. Konteks inilah yang melahirkan sejumlah peraturan perundang-undangan yang sarat dengan kepentingan pemodal besar sejak awal reformasi hingga sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mafia Perundang-undangan dan Pelanggaran HAM yan Terlegalisasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontroversi perundang-undangan kini seringkali terjadi seiring dengan berjalan dan berlangsungnya pesanan-pesanan proponen neoliberalis dalam pemerintahan Indonesia. Dari perubahan konstitusi (UUD 1945) hingga produk hukum lainnya, seperti kelenturan pasar buruh dalam UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, UU No. 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial, atau privatisasi dan komersialisasi dalam UU No. 7 Tahun 2004 Sumberdaya Air, UU No 25 Tahun 2007 Penanaman Modal, dan sejumlah peraturan perundang-undangan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa sesungguhnya makna kehadiran good governance dalam kerangka hukum untuk pembangunan? Good governance, seperti alat reproduksi wacana ketatapemerintahan dan ketatanegaraan yang didesakkan untuk menyilaukan (mistifying) kekuasaan berikut tanggung jawabnya. Sadar maupun tak sadar, birokrasi yang menjalankan fungsi praksis implementatif di lapangan maupun ilmuwan (hukum) yang berteoritisi, latah dalam langgam mengucapkannya bak mantra “kebenaran” tak terbantahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam soal pembaruan hukum pun demikian, kecenderungan reproduksi teks norma dan penataan kelembagaan negara tertentu harus dijalankan dalam kerangka hukum untuk pembangunan tersebut (Wiratraman 2006). Sehingga tidak mengherankan substansi teksnya ataupun kelembagaannya akan demikian mudah menyingkirkan hak-hak dasar warga negara karena memang rancangannya telah didisain rapi. Inilah yang disebut dengan pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia yang dilegalkan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;legalized violations of human rights&lt;/span&gt;). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, kelahiran paket undang-undang ketenagakerjaan yang mengesahkan outsourcing, perjanjian kerja waktu tertentu, atau hadirnya lembaga peradilan PHI (Pengadilan Hubungan Industrial), kian memudahkan penjelasan bagi kita betapa hak-hak asasi buruh yang jumlahnya jutaan manusia dimarjinalisasi secara sistematik, dikorbankan untuk kepentingan liberalisasi pasar. Inilah situasi yang bisa menjelaskan mengapa pembaruan hukum Indonesia masa reformasi ini memperlihatkan mafia perundang-undangan yang tidak sekedar transaksi lokal sebagaimana persis digosipkan Slank, namun lebih dari itu, berjalan dengan mesin teknologi neoliberalisme yang sangat ramah pasar.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-6697183576433613669?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/6697183576433613669/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=6697183576433613669' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/6697183576433613669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/6697183576433613669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2009/03/pembaruan-hukum-dan-hak-asasi-manusia.html' title='Pembaruan Hukum dan Hak Asasi Manusia dalam Konteks Liberalisasi Pasar'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-3180519476569698642</id><published>2009-02-13T16:23:00.004+07:00</published><updated>2010-06-19T13:06:22.904+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Criminal Justice Models'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jodi Santoso'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reformasi KUHAP'/><title type='text'>Model Grand Jury Dalam KUHAP Mendatang, Mungkinkah?</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Jodi Santoso&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan diberlakukannya KUHAP (UU No 8/1981), terjadi pergeseran model dalam sistem peradilan pidana Indonesia dari model civil law system khususnya model Belanda ke arah sistem campuran (mix system). Salah satu tradisi common law yang diadopsi KUHAP adalah konsep habeas courpus yang menjelma menjadi praperadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habeas courpus muncul pertama kali di Inggris pada tahun 1302 dan menjadi prinsip dasar dalam sistem hukum negara tersebut. Nama lengkapnya habeas corpus ad subjiciendum (Latin) yang berarti "you may hold the body subject to examination." Habeas corpus (corpus ad subjiciendum) merupakan a writ atau surat perintah dari pengadilan untuk menguji kebenaran dari penggunaan upaya paksa (dwang middelen) baik penangkapan, penahanan, penggeledahan, penyitaan maupun pembukaan surat-surat. Amerika Serikat mengadopsi konsep ini melalui Habeas Corpus Act of 1679 dan menjadi bagian penting dalam proses peradilan pidana Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia tidak mengadosi seluruh habeas courpus. Praperadilan sebagai perwujudannya hanya berperan sebagai hakim pengawas (examinating judge) yang kewenangannya terbatas pada pemeriksaan aspek formalitas yaitu sah-tidaknya syarat-syarat formil dilakukannya upaya paksa oleh polisi atau jaksa. Pemeriksaan terbatas pada sah tidaknya penangkapan, penggeledahan, penyitaan dan pemeriksaan surat-surat. Praperadilan tidak berperan sebagai hakim investigasi (investigating judge) untuk melakukan pemeriksaan substansi perlu tidaknya upaya paksa dilakukan. Pada praperadilan ini, hakim bersifat pasif tidak dapat memeriksa dan memutus tanpa adanya pemohonan dari tersangka, keluarga atau kuasanya, penyidik, penuntut umum atau pihak ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlindungan Tersanka dalam Tradisi Common Law  dan Civil Law&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterbatasan Praperadilan, mendorong dihidupkannya konsep hakim komisaris (rechters commisaris) dalam RUU KUHP untuk mengganti Praperadilan. Konsep ini mengadopsi tradisi negara civil law khususnya rechters commisaris di Belanda. Konsep hakim komisaris memberi peran aktif pada hakim baik sebagai hakim pengawas (examinating judge) maupun sebagai hakim investigasi (investigating judge) untuk melakukan pemeriksaan perlu tidaknya upaya paksa. Di Perancis, model demikian hampir sama dengan konsep le juge d’ instruction. Hakim melalui  le juge d’ instruction berwenang memeriksa terdakwa, saksi-saksi dan alat-alat bukti lainnya serta dapat membuat berita acara pemeriksaan, melakukan penahanan, penyitaan, bahkan menentukan apakah cukup alasan untuk dilimpahkan ke pengadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik tradisi common law maupun civil law mengenal peran hakim dalam proses praajudikasi (sebelum sidang). Tujuan hakim komisaris (rechters commisaris ) dan Praperadilan (Habeas corpus) sama yaitu melindungi hak tersangka, tetapi dalam pijakan yang berbeda. Habeas corpus beranjak dari pemberian hak pada tersangka untuk mengajukan keberatan ke pengadilan atas upaya paksa yang dilakukan oleh aparat penegak hukum dalam proses penyelidikan, penyidikan, atau penuntutan. Sementara itu, Konsep hakim komisaris didasarkan pada hak yudikatif untuk melakukan kontrol terhadap eksekutif. Proses pemeriksaan hakim komisaris bersifat tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks transparansi proses peradilan, praperadilan memberikan jaminan dan perlindungan pada tersangka untuk melakukan keberatan terhadap upaya paksa baik dalam proses penyidikan, penyelidikan, dan penuntutan. Akan tetapi, dalam praktiknya, pemberian hak pada tersangka sering tidak digunakan. KUHAP memberikan hak pada tersangka tapi tidak disertai dengan memberikan kewajiban pada negara agar hak tersebut dapat terpenuhi. Tidak banyak tersangka dan keluarga menggunakan hak untuk melakukan praperadilan. Hanya perkara besar dan orang tertentu yang menggunakan hak melakukan keberatan terhadap upaya paksa melalui pranata praperadilan. Pada kondisi demikian, hakim komisaris mempunyai peran penting untuk melakukan kontrol terhadap tindakan paksa yang dilakukan penyidik dan penuntut umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik konsep Habeas corpus (praperadilan) maupun hakim komisaris (rechters commisaris mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Politik hukum pidana selanjutnya menentukan pilihan mana yang lebih memungkinkan untuk di terapkan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Representasi Masyarakat melalui Grand Jury&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tradisi common law, masyarakat dapat terlibat langsung dalam proses peradilan pidana melalui grand jury. Grand jurors (anggota grand jury) berasal dari masyarakat. Meski berasal dari konsep jury system, tetapi grand jury berbeda dengan juri dipersidangan (petit jury). Grand jury tidak menentukan salah atau tidak bersalahnya seseorang. Grand jury hanya bertugas menentukan adanya probable cause (bukti permulaan) terjadinya suatu tindak pidana berat (felony) dengan ancaman pidana satu tahun atau lebih atau hukuman mati serta menentukan adanya seseorang telah melakukan tindak pidana berat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grand jury mempunyai kewenangan memanggil saksi-saksi untuk memastikan telah terjadi sebuah tindak pidana. Ketika grand jury percaya bahwa suatu tindak pidana telah terjadi maka mereka akan mengeluarkan sebuah indictment atau presentments yaitu documents atau rekomendasi tentang adanya cukup bukti bahwa seseorang telah melakukan sebuah tindak pidana. Akan tapi, jika grand jury tidak menemukan cukup bukti maka, grand jury dapat menyatakan "no true bill."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditinjau dari aspek sejarah, pada saat Amerika Serikat berdiri, sistem jury diadopsi sebagai bagian dari sistem pemerintah. Hal ini dilakukan karena satu alasan utama yaitu the Founders tidak percaya pada hakim, penuntut, penyidik dan aparat hukum lainnya. Sistem jury termasuk grand jury diadakan untuk memberikan perlindungan dan tegaknya hak asasi dan konstitusi Amerika Serikat. Karena hal tersebut, perlu ada representasi dari masyarakat untuk ikut mengkontrol proses peradilan pidana.  Di Los Angeles, misalnya, setiap tahun dilakukan pemilihan dua calon grand jurors yang berasal dari masyarakat. Tujuan utama merekrut grand juror dari masyarakat adalah untuk merepresentasikan berbagai budaya, etnik, dan kehidupan serta untuk merefleksikan berbagai kepentingan dan keinginan masyarakat Los Angeles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, mengadopsi konsep grand jury dalam KUHAP bukanlah hal muda. Konsep Grand jury yang disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat Indonesia. Pada sisi lain, kekakuan sebagian pengambil kebijakan terhadap penerapan tradisi civil law system secara mutlak menjadi kendala untuk menyerap konsep-konsep common law dan konsep lain dalam KUHAP.  Kendala lain adalah munculnya "perlawanan" dari subsistem lama dalam sistem peradilan pidana. Penerapan konsep grand jury yang merepresentasikan masyarakat dalam dalam proses peradilan dengan sendirinya akan mengurangi kewenangan lembaga lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, Apapun bentuk perubahan undang-undang, penegakan hukum akan lebih baik dengan polisi, jaksa, hakim, hakim komisaris yang baik meski undang-undang jelek. Meminjam ungkapan Taverne (1876), "Geef me, goede rechter, goede rechter commissarissen, goede officieren van justitie en goede politie ambtenaren, en ik zal met een slecht wetboek van strafprosesrecht het goede beruken".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/08/memburu-teroris.htmll"&gt;Memburu Teroris&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/04/catatan-singkat-politik-hukum-pembaruan.html"&gt;Catatan Singkat Politik Hukum Pembaruan Hukum Pidana Materiel Di Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2009/02/model-grand-jury-dalam-kuhap-mendatang.html"&gt;Model Grand Jury Dalam KUHAP Mendatang, Mungkinkah?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;                     &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-3180519476569698642?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/3180519476569698642/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=3180519476569698642' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/3180519476569698642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/3180519476569698642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2009/02/model-grand-jury-dalam-kuhap-mendatang.html' title='Model Grand Jury Dalam KUHAP Mendatang, Mungkinkah?'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-4527460619690768661</id><published>2009-01-22T11:35:00.004+07:00</published><updated>2010-06-19T13:06:36.645+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reformasi KUHAP'/><title type='text'>POKOK-POKOK PIKIRAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG HUKUM ACARA PIDANA</title><content type='html'>Oleh : Prof. Dr. Jur. Andi Hamzah, SH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.  PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Pada kesempatan sosialisasi tahap pertama ini ada enam bab yang akan dibicarakan, yaitu Bab I sampai dengan Bab VI. Bab I mengenai Ketentuan Umum yang berisi pengertian istilah. Bab II mengenai Penyidik dan Penuntut Umum. Bab III mengenai Penangkapan, penahanan, penggeledahan badan, pemasukan rumah, penyitaan dan pemeriksaan surat. Bab IV tentang tersangka dan terdakwa. Bab V tentang bantun hukum dan terakhir Bab VI mengenai sumpah atau janji.&lt;br /&gt;  Sosialisasi tahap kedua membicarakan Bab VII sampai dengan Bab XIII. Bab VII mengenai wewenang pengadilan untuk mengadili, Bab VIII mengenai Tindak Pidana yang dilakukan oleh seorang sipil bersama anggota TNI dan Bab IX mengenai Ganti Kerugian dan Rehabilitasi. Bab X mengenai Penggabungan Perkara Gugatan Ganti Kerugian, Bab XI mengenai Penyidikan dan, Bab XI mengenai Pengadilan. Bab XII mengenai Penuntutan dan Bab XIII mengenai Pemeriksaan di Sidang Pengadilan.&lt;br /&gt;  Sosialisasi tahap ketiga membicarakan Bab XIV sampai dengan Bab XIX. Bab XIV mengenai Upaya Hukum Biasa, Bab XV mengenai Upaya Hukum Luar Biasa dan Bab XVI mengenai Pelaksanaan Putusan Pengadilan. Bab XVII mengenai Pengawasan dan pengamatan Pelaksanaan Putusan Pengadilan, Bab XVIII mengenai Ketentuan Peralihan dan Bab XIX mengenai Ketentuan Penutup.&lt;br /&gt;  Menyangkut pengertian istilah ada beberapa hal yang telah diperbaiki, misalnya tentang pengertian penuntutan, karena penuntutan itu tidak hanya perbuatan melimpahkan perkara ke pengadilan oleh penuntut umum, tetapi menyangkut kebijakan penuntutan, apakah suatu perkara dituntut ataukah tidak. Jika tidak dituntut sedangkan cukup bukti berarti penerapan asas oportunitas, yang bisa dengan suatu syarat ataukah tanpa syarat. Jadi, system acara pidana kita mengenai penyampingan perkara demi kepentingan umum yang dapat dilekatkan suatu syarat. Misalnya, tidak dituntut tetapi harus membayar sejumlah uang sebagai ganti kerugian. Dunia mengenal penerapan asas oportunitas dengan syarat, yang di Indonesia juga dilakukan dengan nama schikking. Ini berarti penuntutan artinya luas, bisa pengadilan bisa juga penyelesaian di luar pengadilan. Istilah yang dipakai ialah “the public prosecutor may decide-conditionally or un conditionally – to make prosecution to court or not”.&lt;br /&gt;  Di dalam pengertian istilah ini sudah dimasukkan pula pengertian hakim komisaris menyangkut hal-hal baru mengikuti perkembangan zaman seperti penggantian lembaga praperadilan menjadi hakim komisaris dengan wewenang yang lebih luas dan konkret.&lt;br /&gt;  Sebenarnya dalam rancangan KUHAP dulu yang diilhami oleh Prof. Oemar Seno Adji, sudah dicantumkan lembaga hakim komisaris itu. Namun mungkin dalam mempertahankan kepentingan-kepentingan sektoral yang marak pada zaman Orde Baru, maka lembaga itu diganti dengan praperadilan yang wewenangnya sangat minim. Hakim komisaris ini diartikan “pejabat yang diberi wewenang mengawasi jalannya penyidikan dan penuntutan dan wewenanng lain yang ditentukan dalam undang-undang ini”.&lt;br /&gt;  Disamping itu dilakukan perbaikan-perbaikan redaksional yang selaras dengan doktrin ilmu hukum acara pidana dan hukum pidana. Ada beberapa rumusan yang tidak sesuai dengan doktrin hukum pidana dan hukum acara pidana, misalnya saja tentang pengertian putusan bebas dan lepas dari segala tuntutan hukum. Begitu pula tentang putusan hakim yang dapat dibanding, dikasasi dan ditinjau kembali. Yang belum masuk ke dalam daftar pengertian istilah, tetapi berada di belakang.&lt;br /&gt;  Ada pula yang belum diatur sama sekali, misalnya dalam hal apa tuntutan jaksa tidak dapat diterima. Dalam pengaturan PK muncul jenis putusan “tuntutan penutut umum tidak dapat diterima,” padahal di bagian depan sama sekali tidak diatur kapan tuntutan penuntut umum dapat diterima. Pada saat hakim menerima berkas perkara dari penuntut umum sebenarnya harus diteliti terlebih dahulu apakah cukup alasan untuk menyidangkan perkara tersebut. Jika misalnya suatu delik aduan diajukan oleh penuntut umum tetapi tidak disertai dengan surat pengaduan, maka mestinya langsung hakim mengeluarkan penetapan “tuntutan penuntut umum tidak dapat diterima”. Hal yang sama jika perkara itu berlaku neb is in idem, perkara telah verjaard, yang didakwakan penuntut umum bukan tindak pidana, dan seterusnya.&lt;br /&gt;  Ada pula perubahan yang sebenarnya sama dengan Rancangan KUHAP dulu namun PANSUS di DPR pada waktu itu kurang mengetahui tentang perkembangan hukum acara pidana, tanpa studi banding sebelumnya, sehingga tercantum dalam rancangan tersebut, yang disusun oleh Prof. Oemar Seno Adji yang kaya akan literatur hukum pidana dan acara pidana, tidak dapat dimengerti atau disalah mengerti sehingga diubah sesuai dengan feeling semata, tanpa dicek secara akademik, misalnya tentang alat-alat bukti tetap mengikuti HIR yang kuno itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. PEMBAHASAN&lt;br /&gt;A. Bab I sampai dengan Bab VI&lt;br /&gt;1.  Pengertian penuntutan sudah diubah sehingga meliputi kebijakan penentuan untuk menuntut atau tidak menuntut baik dengan syarat maupun tanpa syarat.&lt;br /&gt;   2.  Beberapa pengertian istilah dapat dibicarakan dalam kesempatan sosialisasi ini.&lt;br /&gt;3. Rumusan tentang penyidik lebih dirinci sebagaimana tertera dalam usulan saya pada pasal 6 karena pejabat Pegawai Negeri Sipil itu bermacam-macam termasuk KPK yang wewenangnya sangat luas begitu pula Jaksa yang menyidik tindak pidana korupsi, ekonomi dan pelanggaran HAM. Tentang penuntut umum dengan sendirinya harus disesuaikan dengan pengertian istilah dan lagi pula penuntut umum bukan saja melaksanakan putusan hakim yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap tetapi juga pelaksanaan penetapan hakim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Menyangkut Bab III khususnya tentang penahanan, yang sejak HIR sampai KUHAP sekarang membagi tentang sahnya penahanan dan perlunya penahanan (rechtvaardigheid dan noodzakelijkheid). Sahnya penahanan bersifat obyektif dan pasti sedangkan perlunya penahanan bersifat subyektif dan tergantung yang berwenang menahan. Kapan ada tanda-tanda orang akan melarikan diri, kapan ada tanda-tanda akan mengulangi perbuatan dan kapan ada tanda-tanda akan mempersulit pemeriksaan (menghilangkan barang bukti) ditentukan oleh yang melakukan penahanan. Sedangkan sahnya penahanan sudah pasti, yaitu delik yang diancam pidana lima tahun lebih (di Nederland empat tahun atau lebih, yang rupanya berpatok pada delik pencurian yang ancaman pidananya empat tahun penjara). Kemudian, ada delik yang diancam pidana di bawah lima tahun tetapi dapat dilakukan penahanan, namun disebut satu persatu di dalam KUHAP. Pasal-pasal itu perlu diubah sesuai dengan pertimbangan khas Indonesia dan dengan sendirinya nomornya harus menunggu KUHP (diselelaraskan dengan Rancangan KUHP).&lt;br /&gt;  Di Nederland ditambahkan delik yang dapat ditahan termasuk pelaku delik yang diancam pidana di bawah empat tahun, tetapi orangnya tidak mempunyai tempat kediaman tetap, sehingga sah untuk ditahan. Ini perlu ditiru, karena gelandangan di Indonesia jauh lebih banyak dari pada di Nederland. Tidak mungkin untuk dipanggil menghadap ke pengadilan jika tempat kediaman terdakwa tidak diketahui. Pasal 284 KUHP (permukahan) perlu dimasukkan sebagai delik yang sah untuk ditahan, karena kondisi beberapa daerah yang sangat membahayakan jika tersangka permukahan tidak ditahan, seperti di Aceh, Sulawesi Selatan, Madura dll.&lt;br /&gt;      Tentang penyitaan harus dimasukkan sebagai salah satu wewenang Hakim Komisaris, yang sekarang menurut KUHAP tidak masuk wewenang praperadilan. Pengertian surat juga perlu diperluas sehingga meliputi surat eletronik, fax, internet dst.&lt;br /&gt;      Tentang Bab VI hak tersangka dan terdakwa perlu dipikirkan untuk menampung tindak pidana terorisme, yang hak-haknya dibatasi, misalnya berlaku asa inquiaitoir bukan accusatoir terhadap para pelaku terorisme.&lt;br /&gt;      Belanda tidak mempunyai undang-undang khusus mengenai terorisme, namun sejak dulu bagi delik politik berlaku asas inquisitoir bukan accusatoir.&lt;br /&gt;      Tentang bantuan hukum perlu ditinjau kembali ketentuan dalam Undang-undang advokat, yang memberi monopoli kepada advokat untuk memberi nasehat hukum, bahkan dengan ancaman pidana kepada orang yang memberi nasehat hukum tetapi tidak berkedudukan sebagai advokat. Misalnya harus diberi ruang secara insidental untuk seseorang tersangka atau terdakwa untuk menunjuk keluarganya atau sahabatnya untuk memberi bantuan hukum secara Cuma-Cuma. Hal ini sesuai dengan hak asasi manusia untuk menunjuk seseorangt untuk menjadi penasehat hukumnya secara insedental. Misalnya tersangka yang tersangkyut perkara pidana sedangkan dia mempunyai sauadar yang pakar hukum pidana, dapat saja secara insedental menunjuk sauadaranya tersebut, sebagai penasehat hukumnya.&lt;br /&gt;      Menyangkut sumpah palsu perlu diperhatikan hukum pidana materiel yang tidak mengenal percobaan bersumpah palsu, artinya jika seseorang telah memberikan keterangan tidak benar, namun pada pemeriksaan berikutnya dia memperbaiki keterangannya, tidak dapat dituntut telah mencoba bersumpah palsu. Rasio atau dasar filosofinya ialah agar orang diberi kesempatan untuk memberikan keterangan yang benar, mengoreksi keterangan sebelumnya, demi mencari kebenaran materiel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Bab VII sampai dengan Bab XIII&lt;br /&gt;    Bab VII yang mencantumkan Hakim Komisaris merupakan hasil perubahan Praperadilan. Mengapa kami merubah Praperadilan menjadi Hakim Komisaris, akan kami jawab dalam sosialisasi ini. Praperadilan menurut pendapat kami (penyusun) kurang efektif untuk mengawasi proses pengenaan upaya paksa terutama penahanan, bahkan samasekali tidak menyebut tentang penyitaan.&lt;br /&gt;    Ada beberapa perbedaan mendasar antara Praperadilan dan Hakim Komisaris. Antara lain :&lt;br /&gt;1.   Praperadilan masih menempel pada Pengadilan Negeri, yang secara kasus demi kasus Ketua Pengadilan Negeri menunjuk seorang hakim Pengadilan Negeri untuk memutus suatu perkara yang diajukan. Jadi, tidak ada sidang Praperadilan tanpa adanya tuntutan dari pihak-pihak yang berhak memohon pemeriksaan Praperadilan. Hakim yang ditunjuk itu tetap masih “hakim palu”. Sedangkan dalam hal Hakim Komisaris hakimnya akan lepas dari Pengadilan Negeri dan bersifat permanen. Artinya hakim pengadilan negeri yang diangkat menjadi Hakim Komisaris, akan lepaskan palunya selama menjabat Hakim Komisaris dalam jangka waktu dua tahun. Setelah melewati jangka waktu dua tahun, dia akan kembali ke Pengadilan Negeri darimana dia berasal dan menjadi hakim palu kembali. Sebagai variasi dari Hakim Komisaris di Nederland, maka kami mengusulkan juga agar orang yang non hakim tetapi menguasai hukum acara pidana dan hukum pidana, seperti jaksa, pengacara senior dan dosen hukum pidana dan acara pidana dapat diangkat menjadi Hakim Komisaris. Melalui suatu proses tertentu seperti fit and proper test. dll. Yang aturannya akan dicantumkan dalam suatu Peraturan Pemerintah, bahkan ada yang mengusulkan agar dibuat suatu undang-undang tersendiri mengenai tata cara pengangkatan Hakim Komisaris itu. Hakim Komisaris akan bertindak dengan atau adanya suatu tuntutan. Jadi, akan meneliti semua penahanan yang dilakukan oleh penyidik maupun oleh jaksa baik secara formel maupun secara materiel. Sekarang ini, Hakim Praperadilan hanya memeriksa secara formel saja tidak secara materiel. Artinya, jika seorang ditahan berdasarkan delik penipuan (Pasal 378 KUHP) dan dituntut bahwa penahanan itu tidak sah, maka hakim akan melihat apakah Pasal 378 KUHP itu sah untuk dilakukan penahanan kepada tersangka atau terdakwa berdasarkan Pasal 21 KUHAP. Oleh karena Pasal 378 KUHP memang tercantum didalam Pasal 21 ayat (4) KUHAP butir b, maka Hakim Praperadilan menyatakan tuntutan ditolak. Sedangkan dalam hal Hakim Komisaris, dia akan memeriksa resume perkara yang dilampirkan oleh pejabat yang melakukan penahanan, dan akan memeriksa apakah benar secara materiel tersangka atau terdakwa melanggar pasal itu. Jika ternyata kurang bukti untuk itu, maka Hakim Komisaris akan meminta agar tersangka atau terdakwa segera dikeluarkan dari tahanan.&lt;br /&gt;2.   Wewenang Hakim Komisaris yang tercantum di dalam Pasal 72 jelas lebih luas dari pada wewenang Hakim Praperadilan. Bukan saja tentang sah tidaknya penangkapan, penahanan, tetapi juga penyitaan, begitu pula tentang penghentian penyidikan dan penuntutan yang tidak berdasarkan asas oportunitas. Asas oportunitas memang memberi wewenang kepada Jaksa Agung (kami mengusulkan kepada semua jaksa) untuk mengenyampingkan perkara demi kepentingan umum. Juga diatur tentang pelampauan batas waktu penyidikan dan penuntutan. Begitu pula pembatasan hak tersangka atau terdakwa yang dapat diperiksa tanpa didampingi oleh penasehat hukum, misalnya dalam kasus terorisme. Saling mempraperadilkan antara polisi dan jaksa di hapus karena tidak logis. Kedua instansi itu merupakan satu kesatuan dalam pemeriksaan pendahuluan.&lt;br /&gt;3. Hakim Komisaris juga memutus tentang ganti kerugian dan rehabilitasi.&lt;br /&gt;4. Dalam pasal 74 diatur tentang pembatasan waktu pemeriksaan oleh Hakim Komisaris sesuai dengan asas peradilan cepat.&lt;br /&gt;5. Ditegaskan pula di dalam Pasal 74 butir e, bahwa putusan hakim komisaris tidak dapat dibanding maupun dikasasi. Berbeda dengan praktek sekarang yang ada putusan Praperadilan yang sebenarnya tidak dapat dimintakan kasasi, namun Mahkamah Agung menerima.&lt;br /&gt;6. Hakim Komisaris berbeda dengan Hakim Praperadilan yang berkantor di Pengadilan Negeri, dia berkantor di (atau dekat) RUTAN, agar mudah berkomunikasi dengan tahanan tanpa tahanan itu dapat melarikan diri.&lt;br /&gt;7. Ini berarti bahwa pada setiap ada RUTAN ada Hakim Komisaris yang memutus seorang diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Menyangkut Bab VIII mengenai Konektitas, perlu ditunda pembahasannya, karena ada kecenderungan sekarang untuk menentukan agar militer yang melakukan delik umum (bukan delik militer) diadili oleh pengadilan umum sebagaimana berlaku di Malaysia dan Singapura. Jika itu terjadi, maka dengan sendirinya tidak ada masalah koneksitas karena keduanya akan diadili oleh Pengadilan Negeri.&lt;br /&gt;  Menyangkut Bab IX tentang Ganti Kerugian dan Rehabilitasi tidak ada perubahan berarti dari KUHAP yang sekarang.&lt;br /&gt;  Menyangkut Bab X tentang penggabungan perkara gugatan ganti kerugian perlu disosialisasikan dengan baik, karena kelihatanya sekarang ketentuan ini tidak jalan dalam praktek. Hampir tidak ada jaksa penuntut umum yang menuntut kepada hakim agar di samping menjatuhkan pidana dan tindakan, juga menjatuhkan sanksi perdata berupa ganti kerugian, padahal ini penting sekali dalam rangka asas peradilan cepat. Ketentuan itu penting sekali untuk menghindari proses gugatan perdata yang bertele-tele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Bab XVI sampai dengan Bab XIX&lt;br /&gt;1.   Upaya Hukum Biasa&lt;br /&gt;  Upaya hukum biasa tercantum di dalam BAB XVII KUHAP. Upaya hukum yang pertama, yaitu upaya hukum banding. Jika ditelaah Pasal 233 ayat (1) KUHAP dan dihubungkan dengan Pasal 67 KUHAP maka semua putusan pengadilan tingkat pertama (pengadilan negeri) dapat dimintakan banding ke pengadilan tinggi dengan beberapa pengecualian. Di dalam Pasal 233 KUHAP itu disebut terdakwa yang mestinya terpidana. Hampir pasti orang yang telah diputus bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum meminta banding. Pengecualian berdasarkan Pasal 67 KUHAP adalah :&lt;br /&gt;1) Putusan bebas (vrijspraak).&lt;br /&gt;2) Lepas dari segala tuntutan hukum yang menyangkut kurang tepatnya penerapan hukum.&lt;br /&gt;3) Putusan pengadilan dalam acara cepat (dahulu disebut perkara rol).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Yang menjadi pertanyaan ialah mengapa dipakai istilah “kurang tepatnya penerapan hukum”, yang berarti jika penerapan hukum tepat dapat dimintakan banding ? Di dalam praktek HIR dulu putusan lepas dari segala tuntutan hukum dapat dibanding. Prinsip bahwa semua permintaan kasasi harus melalui dulu upaya hukum banding menyebabkan, bahwa putusan lepas dari segala tuntutan hukum itu harus dapat dibanding. Sesudah itu baru dapat dimintakan kasasi. Tidak seperti sekarang, putusan lepas dari segala tuntutan hukum tidak dapat dibanding tetapi dapat langsung dilakukan kasasi.&lt;br /&gt;  Lebih-lebih dengan kenyataan, bahwa adanya pendapat pakar hukum acara pidana Belanda yang dikembangkan juga di Indonesia, yaitu yang disebut bebas tidak murni (niet zuivere vrijspraak) yang merupakan lepas dari segala tuntutan hukum terselubung (verkapte ontslag van rechtsvervolging). Yang artinya putusan hakim pengadilan negeri salah kualifikasi, yang mestinya diputus lepas dari segala tuntutan hukum diputus bebas. Oleh karena bebas tidak murni di Belanda dapat dibanding dan di Indonesia dapat langsung dikasasi, maka terjadilah spekulasi, yaitu hampir semua putusan bebas dikasasi dengan alasan bebas tidak murni. Salah satu penyebabnya ialah kurang dipahaminya kapan sesuatu putusan harus berupa bebas dan kapan berupa lepas dari segala tuntutan hukum. Jika tindak pidana yang didakwakan jaksa tidak terbukti dan meyakinkan hakim maka putusannya bebas. Jika tindak pidana yang didakwakan jaksa terbukti (actus reus) tetapi ada dasar peniadaan pidana, maka putusannya lepas dari segala tuntutan hukum. Perlu dipikirkan untuk memasukkan masalah bebas murni atau lepas dari segala tuntutan hukum terselubung ini ke dalam penjelasan KUHAP. Di Nederland hal ini tidak perlu dimasukkan, karena semua hakim dan jaksa telah mengetahui persis masalah ini dalam pendidikan pembentukan hakim dan jaksa yang terpadu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KASASI&lt;br /&gt;  Lembaga kasasi sebenarnya berasal dari Perancis, kata asalnya ialah casser yang artinya memecah. Suatu putusan hakim dibatalkan demi untuk mencapai kesatuan peradilan. Semula berada di tangan raja beserta dewannya yang disebut Conseil du Roi. Setelah revolusi yang meruntuhkan kerajaan Perancis, dibentuklah suatu badan hukum yang tugasnya menjaga kesatuan penafsiran hukum. Jadi merupakan badan antara yang menjebatani pembuat undang-undang dan kekuasaan kehakiman.&lt;br /&gt;  Pada tanggal 21 Agustus 1790 dibentuklah le tribunal de cassation dan pada tahun 1810 de Cour de cassation telah terorganisasi dengan baik.&lt;br /&gt;Kemudian lembaga kasasi ditiru pula di negeri Belanda yang pada gilirannya di bawa pula ke Indonesia. Pada asasnya kasasi didasarkan atas pertimbangan bahwa terjadi kesalahan penerapan hukum atau hakim telah melampaui kekuasaan kehakimannya. Arti kekuasaan kehakiman itu ditafsirkan secara luas dan sempit. Yang menafsirkan secara sempit ialah D. Simon yang mengatakan jika hakim memutus suatu perkara padahal hakim tidak berwenang menurut kekuasaan kehakiman. Dalam arti luas misalnya jika hakim Pengadilan Tinggi memutus padahal hakim pertama telah membebaskan.&lt;br /&gt;  Tujuan kasasi ialah untuk menciptakan kesatuan penerapan hukum dengan jalan membatalkan putusan yang bertentangan dengan undang-undang atau keliru dalam menerapkan hukum.&lt;br /&gt;Kemudian dalam perundang-undangan Belanda, tiga alasan untuk melakukan kasasi, yaitu :&lt;br /&gt;1) apabila terdapat kelalaian dalam acara (vormverzuim);&lt;br /&gt;2) peraturan hukum tidak dilaksanakan atau ada kesalahan pada pelaksanaannya;&lt;br /&gt;3) apabila tidak dilaksanakan cara melakukan peradilan menurut cara yang ditentukan undang-undang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Upaya Hukum Luar Biasa&lt;br /&gt;  Upaya hukum luar biasa tercantum di dalam Bab XVIII KUHAP, yang terdiri dari dua bagian, yaitu Bagian Kesatu Pemeriksaan Tingkat Kasasi Demi Kepentingan Hukum dan Bagian Kedua Peninjauan Kembali Putusan Pengadilan yang telah Memperoleh Kekuatan Hukum Tetap. Bagian Kesatu terdiri atas 4 pasal saja, yaitu Pasal 259 sampai dengan Pasal 262.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan Tingkat Kasasi demi Kepentingan Hukum&lt;br /&gt;Dalam peraturan lama kasasi demi kepentingan hukum ini telah diatur bersama kasasi biasa dalam satu pasal, yaitu Pasal 17 Undang-Undang Mahkamah Agung (Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1950) yang mengatakan bahwa kasasi dapat dilakukan atas permohonan pihak yang berkepentingan atau permohonan Jaksa Agung karena jabatannya, dengan pengertian bahwa kasasi atas permintaan Jaksa Agung hanya semata-mata untuk kepentingan hukum dengan tidak dapat merugikan pihak-pihak yang berkepentingan. Jadi hanya dibedakan kasasi pihak dan kasasi karena jabatan Jaksa Agung. Kasasi karena jabatan inilah yang sama dengan kasasi demi kepentingan hukum sebagai upaya hukum luar biasa menurut KUHAP.&lt;br /&gt;  Menurut Pasal 259 ayat (1) KUHAP, Jaksa Agung dapat mengajukan satu kali permohonan kasasi terhadap semua putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dari pengadilan lain selain dari Mahkamah Agung, demi kepentingan hukum.&lt;br /&gt;  Terhadap perkara yang bagaimana dan dengan alasan apa yang dapat dikemukakan oleh Jaksa Agung untuk mengajukan suatu permohonan kasasi demi kepentingan hukum tidak diatur baik di dalam KUHAP maupun PP Nomor 27 tahun 1983 tentang pelaksanaan KUHAP tersebut.&lt;br /&gt;  Jadi rupanya pembuat undang-undang menyerahkan masalah itu kepada pertimbangan Jaksa Agung sendiri.&lt;br /&gt;  Para penulis mengatakan bahwa sebagai upaya hukum luar biasa, kasasi demi kepentingan hukum itu maksudnya ialah untuk mencapai kesatuan penafsiran hukum oleh pengadilan. Apabila sesuatu meragukan atau dipermasalahkan diserahkan kepada Mahkamah Agung untuk memutuskan, maka putusan Mahkamah Agung itu diambil oleh hakim yang lebih rendah sebagai pegangan.&lt;br /&gt;  Bagi terdakwa hal ini sama sekali tidak membawa pengaruh, jadi betul-betul hanya untuk kepentingan teori belaka, tidak akan merugikan terdakwa (Pasal 259 KUHAP).&lt;br /&gt;  Kasasi demi kepentingan hukum diajukan jika sudah tidak ada upaya hukum biasa yang dapat dipakai. Permohonan Kasasi diajukan oleh Jaksa Agung kepada Mahkamah Agung melalui panitera yang telah memutus perkara tersebut dalam tingkat pertama, disertai risalah yang menjadi alasan, kemudian panitera meneruskan kepada yang berkepentingan (Pasal 260 KUHAP). Salinan keputusan Mahkamah Agung disampaikan kepada Jaksa Agung dan kepada pengadilan yang bersangkutan, disertai berkas perkara (Pasal 261 KUHAP). Ketentuan tentang kasasi demi kepentingan hukum bagi pengadilan dalam lingkungan peradilan umum berlaku juga bagi peradilan militer (Pasal 262 KUHAP).&lt;br /&gt;  Jadi, pada umumnya sama saja dengan kasasi biasa, kecuali dalam kasasi demi kepentingan hukum pengacara tidak dilibatkan.  Catatan 1&lt;br /&gt;  Jika Mahkamah Agung menerima permohonan kasasi demi kepentingan hukum, maka Mahkamah Agung membatalkan putusan pengadilan yang lebih rendah, dan dengan demikian terjawablah keragu-raguan atau hal yang dipermasalahkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peninjauan Kembali Putusan Pengadilan yang Telah Memperoleh Kekuatan Hukum Tetap&lt;br /&gt;  Sebelum berlakunya KUHAP, belum ada undang-undang yang mengatur pelaksanaan peninjauan kembali putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Undang-Undang tentang Pokok- Pokok Kekuasaan Kehakiman pada Pasal 21 hanya menyebut kemungkinan peninjauan kembali, tetapi pelaksanaannya sesuai dengan undang-undang. Semula dikeluarkan peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1969 tanggal 19 Juli 1969 yang memungkinkan diajukan peninjauan kembali putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Tetapi dengan surat edaran Mahkamah Agung Nomor 18 Tahun 1969 tanggal 23 Oktober 1969, menunda berlakunya peraturan Mahkamah Agung tersebut dengan alasan masih diperlukan aturan lebih lanjut misalnya mengenai biaya perkara yang memerlukan persetujuan Menteri Keuangan. Kemudian dengan peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 1971, Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 1969 dan surat edaran tersebut dicabut, dan ditentukan bahwa peninjauan kembali mengenai perkara perdata dapat diajukan request civiel, dengan bercermin kepada Reglement op de Burgerlijke Rechtsvordering, sedangkan mengenai perkara pidana tidak dapat diajukan karena belum ada undang-undangnya.&lt;br /&gt;  Barangkali karena terjadinya kasus Karta dan Sengkong yang sangat menghebohkan, maka Mahkamah Agung setelah mengadakan rapat kerja dengan DPR tanggal 19 November 1980, memberanikan diri mengeluarkan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 1980 yang mengatur kemungkinan mengajukan peninjauan kembali putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap baik perkara perdata maupun pidana. Mengenai perkara pidana diatur dalam Pasal 9, yang mengatakan bahwa Mahkamah Agung dapat meninjau kembali suatu putusan pidana yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap yang mengandung pemidanaan, dengan alasan :&lt;br /&gt;1. apabila dalam putusan-putusan yang berlainan terdapat keadaan-keadaan yang dinyatakan terbukti, tetapi satu sama lain bertentangan;&lt;br /&gt;2. apabila terdapat suatu keadaan sehingga menimbulkan persangkaan yang kuat, bahwa apabila keadaan itu diketahui pada waktu sidang masih berlangsung, putusan yang akan dijatuhkan akan mengandung pembebasan terpidana dari tuduhan, pelepasan dari tuntutan hukum atas dasar bahwa perbuatan yang akan dijatuhkan itu tidak dapat dipidana, pernyataan tidak diterimanya tuntutan jaksa untuk menyerahkan perkara ke persidangan pengadilan atau penerapan ketentuan-ketentuan pidana lain yang lebih ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Dibanding dengan ketentuan KUHAP yang tersebut pada Pasal 262 ayat (2) KUHAP, maka terlihat keduanya hampir sama. Ketentuan dalam KUHAP itu menyatakan :&lt;br /&gt;a. apabila terdapat keadaan baru yang menimbulkan dugaan kuat, bahwa jika keadaan itu sudah diketahui pada waktu sidang masih berlangsung, hasilnya akan berupa putusan bebas atau putusan lepas dari segala tuntutan hukum atau tuntutan penuntut umum tidak dapat diterima atau terhadap perkara itu diterapkan ketentuan pidana yang lebih ringan;&lt;br /&gt;b. apabila dalam pelbagai keputusan terdapat pernyataan bahwa sesuatu telah terbukti, akan tetapi hal atau keadaan sebagai dasar dan alasan putusan yang dinyatakan telah terbukti itu, ternyata telah bertentangan satu dengan yang lain;&lt;br /&gt;c. apabila putusan itu dengan jelas memperlihatkan suatu kekhilafan hakim atau suatu kekeliruan yang nyata.&lt;br /&gt;  Kemudian, ayat (3) Pasal 273 KUHAP tersebut mengatakan bahwa atas dasar alasan yang sama sebagaimana tersebut pada ayat (2) terhadap suatu putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dapat diajukan permintaan peninjauan kembali apabila dalam putusan itu suatu perbuatan yang didakwakan telah dinyatakan terbukti akan tetapi tidak diikuti oleh suatu pemidanaan. Menurut pendapat penulis, ini hanya berarti untuk rehabilitasi nama terdakwa belaka.&lt;br /&gt;Dalam Pasal 266 ayat (2) KUHAP ditentukan bahwa dalam hal Mahkamah Agung berpendapat bahwa permintaan peninjauan kembali dapat diterima untuk diperiksa, berlaku ketentuan sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Apabila Mahkamah Agung tidak membenarkan alasan pemohon, Mahkamah Agung menolak permintaan peninjauan kembali dengan menetapkan bahwa putusan yang dimintakan peninjauan kembali itu tetap berlaku disertai dasar pertimbangannya;&lt;br /&gt;b. Apabila Mahkamah Agung membenarkan alasan pemohon, Mahkamah Agung membatalkan putusan yang dapat berupa :&lt;br /&gt;1) putusan bebas;&lt;br /&gt;2) putusan lepas dari segala tuntutan;&lt;br /&gt;3) putusan tidak dapat menerima tuntutan penuntut umum;&lt;br /&gt;4) putusan dengan menetapkan ketentuan pidana yang lebih ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Suatu ketentuan yang tercantum di dalam ayat (3) Pasal 266 KUHAP tersebut yang menyatakan pidana yang dijatuhkan dalam putusan peninjauan kembali tidak boleh melebihi pidana yang telah dijatuhkan dalam putusan semula, menurut pendapat penulis berkelebihan, dalam ayat (2) pasal itu yang telah disebut di muka, telah jelas putusan yang dijatuhkan yang limitatif itu.&lt;br /&gt;Sebagaimana penulis telah kemukakan tentang ganti kerugian, ketentuan tentang peninjauan kembali suatu putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap yang tersebut di dalam KUHAP, tidak diikuti dengan peraturan tentang ganti kerugian yang semestinya mengikuti putusan Mahkamah Agung tentang pembatalan putusan. Dalam sistem ganti kerugian yang dianut di negara-negara lain seperti Belanda, ganti kerugian yang dianut di negara-negara lain seperti Belanda, ganti kerugian setelah peninjauan kembali (herziening) itu bersifat imperatif berbeda dengan ganti kerugian yang tersebut dalam Pasal 81 dan 95 KUHAP (ganti kerugian karena ditangkap, ditahan, dituntut, dan diadili atau dikenakan tindakan lain) yang bersifat fakultatif. Penulis mengharapkan ketentuan tentang ganti kerugian sesudah peninjauan kembali (herziening) itu akan diatur dalam PP Nomor 27 Tahun 1983, tetapi ternyata tidak demikian.&lt;br /&gt;Kasus perkara yang paling banyak dihebohkan dan akhirnya diselesaikan melalui peninjauan kembali ialah perkara Sengkong bin Yakin dan Karta alias karung alias Encep bin Salam. Semula keduanya dipidana oleh Pengadilan Negeri Bekasi masing-masing 12 tahun dan 7 tahun, karena dakwaan pembunuhan. Kemudian putusan Pengadilan Tinggi Bandung tetap memidana kedua terpidana seperti yang telah dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri (Putusan No. Reg.38/1978/Pid/PTB).&lt;br /&gt;Ternyata kemudian orang lain Gunel bin Kuru, Siih bin Siin dan Warnita bin Jaam dipidana oleh Pengadilan Negeri Bekasi dengan perbuatan yang sama dengan putusan tanggal 15 Oktober 1980 No. 6/1980/Pid/PN.BKS dan kemudian lagi Elli bin Senam, Nyamang bin Naing, M. Cholid bin H. Nair, dan Jobing bin H. Paih diputus dan dipidana oleh Pengadilan Negeri Bekasi tanggal 13 November 1980 No. 7/1980/Pid/PN.BKS.&lt;br /&gt;Kesimpulan tertulis Jaksa Agung tanggal 22 Januari 1981 mengusulkan agar Sengkong dan karta dibebaskan. Dan dengan putusan Mahkamah Agung tanggal 24 januari keduanya dibebaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Kesimpulan&lt;br /&gt;  Sosialisasi Rancangan Undang-Undang tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP) ini bermaksud untuk memperoleh bahan seluas-luasnya, sehingga Hukum Acara Pidana yang akan datang lebih sempurna daripada yang sekarang. Semua pihak dapat ikut serta memberi pandangan, asal saja tidak keluar dari sistem hukum yang berlaku. Asas legalitas bukan saja harus tercantum dalam hukum pidana materiel, tetapi juga dalam hukum pidana formil, artinya tidak ada proses acara yang berjalan di luar jalur undang-undang yang berlaku.&lt;br /&gt;Hakim Komisaris yang merupakan lembaga baru menggantikan Praperadilan, perlu dibahas mendalam agar tidak ada kesenjangan peraturan yang terjadi. Perlu studi banding ke Nederland dan atau Perancis untuk melihat efektivitas Hakim Komisaris di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan 1 A. Minkenhof, halaman 305.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://www.legalitas.org/incl-php/buka.php?d=art+2&amp;f=pokok_pokok_pikiran_ruu_hap.htm#Footref1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-4527460619690768661?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/4527460619690768661/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=4527460619690768661' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/4527460619690768661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/4527460619690768661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/pokok-pokok-pikiran-rancangan-undang.html' title='POKOK-POKOK PIKIRAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG HUKUM ACARA PIDANA'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-497023984438279872</id><published>2009-01-21T18:24:00.003+07:00</published><updated>2009-11-03T13:08:46.770+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reformasi KUHP'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KUHP dan UU Perubahannya'/><title type='text'>UU NOMOR 27 TAHUN 1999</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR 27 TAHUN 1999&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;PERUBAHAN KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA YANG&lt;br /&gt;BERKAITAN DENGAN KEJAHATAN TERHADAP KEAMANAN NEGARA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimbang :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        a.   bahwa hak asasi manusia merupakan hak dasar yang secara kodrati melekat&lt;br /&gt;             pada diri manusia antara lain meliputi hak memperoleh kepastian liukum dan&lt;br /&gt;             persamaan kedudukan di dalam hukum, hak mengeluarkan pendapat, berserikat&lt;br /&gt;             dan berkumpul berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945;&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;        b.   bahwa Kitab Undang-undang Hukum Pidana terutama yang berkaitan dengan&lt;br /&gt;             ketentuan mcngcnai kejahatan terhadap keamanan negara belum memberi landasan&lt;br /&gt;             hukum yang kuat dalam usaha mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia&lt;br /&gt;             yang berlandaskan Pancasila sebagai dasar negara;&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;        c.   bahwa paliam dan ajaran Komunisme/Marxisme/Lenimisme dalam praktek kehidupan&lt;br /&gt;             politik dan kenegaraan menjelmakan diri dalam kegiatan-kegiatan yang&lt;br /&gt;             bertentangan dengan asas-asas dan sendi-sendi kehidupan bangsa Indonesia yang&lt;br /&gt;             bertuhan dan beragama serta telah terbukti membahayakan kelangsungan hidup&lt;br /&gt;             bangsa Indonesia;&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;        d.   bahwa berdasarkan pertimbangan pada huruf a, b dan c perlu membentuk&lt;br /&gt;             Undang-undang tentang Perubahan Kitab Undang-undang tujukan Pidana yang&lt;br /&gt;             Berkaitan dengan Kejahatan Terhadap Keamanan Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;        1.   Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945;&lt;br /&gt;        2.   Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Republik Indonesia&lt;br /&gt;             No.XXV/MPRS/1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia, Pernyataan&lt;br /&gt;             Sebagai Organisasi Terlarang di seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia&lt;br /&gt;             Bagi Partai Komunis Indonesia dan Larangan Setiap Kegiatan Untuk Menyebarkan&lt;br /&gt;             atau Mengembangkan Faham Atau Ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme jo.&lt;br /&gt;             Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia No.V/MPR/1973&lt;br /&gt;             tentang Peninjauati Produk-produk Yang Berupa Ketetapan Majelis&lt;br /&gt;             Permusyawaratan Rakyat Sementara Republik Indonesia;&lt;br /&gt;        3.   Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana jo&lt;br /&gt;             Undang-undang Nomor 73 tahun 1958 tentang Menyalakan Berlakunya Undang-undang&lt;br /&gt;             Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana Untuk Seluruh Wilayah&lt;br /&gt;             Republik Indonesia dan Mengubah Kitab Undang-undang Hukum Pidana sebagaimana&lt;br /&gt;             telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1976&lt;br /&gt;             tentang Perubahan dan Penambahan beberapa pasal dalam Kitab Undang-undang&lt;br /&gt;             Hukum Pidana bertalian dengan Perluasan berikutnya Ketentuan&lt;br /&gt;             Perundang-undangan Pidana.Kejahatan Terhadap Penerbangan dan kejahatan&lt;br /&gt;             Terhadap sarana/prasarana penerbangan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Dengan persetujuan&lt;br /&gt;        DEWAN PERNVAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        M e m u t u s k a n :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menetapkan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA           YANG BERKAITAN DENGAN KEJAHATAN TERHADAP KEAMANAN NEGARA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                     Pasal 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;             Menambah 6 (enam) ketentuan baru di antara Pasal 107 dan Pasal 108 Bab I&lt;br /&gt;        Buku 11 Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang Kejahatan Terhadap Keamanan&lt;br /&gt;        Negara yang dijadikan Pasal 107 a, Pasal 107 b, Pasal 107 c, Pasal 107 d,&lt;br /&gt;        Pasal 107 e, dan Pasal 107 f yang berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                     Pasal 107 a&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;             Barangsiapa yang secara melawan hukum di muka umum dengan lisan, tulisan,&lt;br /&gt;        dan atau melalui media apapun, menyebarkan atau mengembangkan ajaran Komunisme/&lt;br /&gt;        Marxisme-Leninisme dalam segala bentuk dan perwujudan, dipidana dengan pidana&lt;br /&gt;        penjara paling lama 12 (dua belas) tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                     Pasal 107 b&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;             Barang siapa yang secara melawan hukum di muka umum dengan lisan, tulisan&lt;br /&gt;        dari atau melalui media apapun, menyatakan keinginan untuk meniadakan atau&lt;br /&gt;        mengganti Pancasila sebagai dasar negara yang berakibat timbulnya kerusuhan&lt;br /&gt;        dalam masyarakat, atau menimbulkan korban jiwa atau kerugian harta benda,&lt;br /&gt;        dipidana dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                     Pasal 107 c&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;             Barangsiapa yang secara melawan hukum di muka umum dengan lisan, tulisan&lt;br /&gt;        dan atau melalui media apapun, menyebarkan atau mengembangkan ajaran Komunisnie/&lt;br /&gt;        Marxisme-Leninismce yang berakibat timbulnya kerusuhan dalam masyarakat, atau&lt;br /&gt;        menimbulkan korban jiwa atau kerugian harta benda, dipidana dengan pidana&lt;br /&gt;        penjara paling lama 15 (lima belas) tahun.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;                                     Pasal 107 d&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;             Barangsiapa yang secara melawan hukum di muka umum dengan lisan, tulisan&lt;br /&gt;        dan atau melalui media apapun, menyebarkan atau mengembangkan ajaran Komunisme/&lt;br /&gt;        Marxisinc-Leninisme dengan maksud mengubah atau mengganti Pancasila sebagai dasar&lt;br /&gt;        Negara, dipidana dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                     Pasal 107 e&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;        Dipidana dcngan pidana pcnjara paling lama 15 (lima belas tahun:&lt;br /&gt;        a.   barang siapa yang mendirikan organisasi yang diketahui atau patut diduga&lt;br /&gt;             menganut ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme atas dalam segala bentuk dan&lt;br /&gt;             perwujudannya; atau&lt;br /&gt;        b.   barang siapa yang mengadakan hubungan dengan atau memberikan bantuan kepada&lt;br /&gt;             organisasi, baik didalam maupun di luar tiegeri, yang diketahuinya&lt;br /&gt;             berasaskan ajaran Komunismc/Marxisme-Leninisme atau dalam segala, bentuk&lt;br /&gt;             dan perwujudannya dengan maksud mengubah dasar negara atau menggulingkan&lt;br /&gt;             Pemerintah yang sah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                     Pasal 107 f&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;        Dipidana karena sabotase dengan pidana penjara seumur hidup atau paling lama&lt;br /&gt;        20 (dua puluh) tahun:&lt;br /&gt;        a.   barangsiapa yang secara melawan hukum merusak, membuat tidak dapat dipakai,&lt;br /&gt;             menghancurkan atau memusnahkan instalasi negara atau militer; atau diundangkan&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;        b.   barangsiapa yang secara melawan hukum menghalangi atau menggagalkan pengadaan&lt;br /&gt;             atau distribusi bahan pokok yang mcnguasai hajat hidup orang hanyak sesuai&lt;br /&gt;             dengan kebijakan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                     Pasal II&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;        Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Agar setiap orang mengetahuinya, mcmerintahkan pengundangan Undang-undang&lt;br /&gt;        ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                      Disahkan di Jakarta&lt;br /&gt;                                                    pada tanggal 19 Mei 1999&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                   PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;                                                              ttd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                   BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Diundangkan di Jakarta pada&lt;br /&gt;            tanggal 19 Mei 1999&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA&lt;br /&gt;               REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                      ttd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;              PROE DR H MULADI, S.H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                      LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1999 NOMOR 74&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        PENJELASAN&lt;br /&gt;        A T A S&lt;br /&gt;        UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;        NOMOR 27 TAHUN 1999&lt;br /&gt;        TENTANG&lt;br /&gt;        PERUBAHAN KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA YANG&lt;br /&gt;        BERKAITAN DENGAN KEJAHATAN TERHADAP KEAMANAN NEGARA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;    I.   UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;             Negara Republik Indonesia adalah negara berdasar atas hukum yang berlandaskan&lt;br /&gt;        Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia,&lt;br /&gt;        serta menjamin semua warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan&lt;br /&gt;        pemerintahan dengan tidak ada kecualinya.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;             Pembangunan nasional di bidang hukum ditujukan agar masyarakat memperoleh&lt;br /&gt;        kepastian, ketertiban dan perlindungan hukum yang berintikan kebenaran dan keadilan&lt;br /&gt;        serta memberikan rasa aman dan tenntram.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;             Dalam usaha mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara dari ancaman dan&lt;br /&gt;        bahaya ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme, yang terbukti bertentangan dengan&lt;br /&gt;        agama, asas-asas dan sendi kehidupan bangsa Indonesia yang bertuhan dan dari&lt;br /&gt;        tindak pidana lainnya yang membahayakan keamanan negara, perlu mengadakan&lt;br /&gt;        perubahan terhadap Kitab Undang-undang Hukum Pidana dengan menambah pasal-pasal&lt;br /&gt;        yang berkaitan dengan kejahatan terhadap keamanan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;    II.  PASAL DEMI PASAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;             Pasal l&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;             Pasal 107 a      a&lt;br /&gt;             Yang dimaksud dengan "Komunisme/Marxisme-Leninisme" adalah paham atau ajaran&lt;br /&gt;             Karl Marx yang terkait pada dasar-dasar dan taktik perjuangan yang diajarkan&lt;br /&gt;             oleh Lenin, Stalin, Mao Tse Tung dan lain-lain, mengandung benih-benih dan&lt;br /&gt;             unsur-unsur yang bertentangan dengan falsafah Pancasila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;             Pasal 107 b&lt;br /&gt;              Cukup jelas&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;             Pasal 107 c&lt;br /&gt;              Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;             Pasal 107 d&lt;br /&gt;              Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;             Pasal 107 e&lt;br /&gt;              Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;             Pasal 107 f&lt;br /&gt;              Yang dimaksud dengan "instalasi negara" dalam pasal ini adalah instalasi&lt;br /&gt;              Tertentu (penting) yaitu Istana Negara yang digunakan oleh Presiden dan&lt;br /&gt;              Wakil Presiden untuk kegiatan kcnegaraan, kediaman resmi Presiden dan&lt;br /&gt;              Wakil Presiden, gedung-gedung Lembaga Tinggi Negara dan gedung,yang&lt;br /&gt;              Digunakan untuk tamu-tamu Negara yang setingkat dengan Presiden.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;              Yang dimaksud dengan "instalsi militer" adalah instalasi vital militer.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;              Huruf b&lt;br /&gt;               Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;             Pasal II&lt;br /&gt;              Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                       TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3850&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-497023984438279872?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/497023984438279872/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=497023984438279872' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/497023984438279872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/497023984438279872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/uu-nomor-27-tahun-1999.html' title='UU NOMOR 27 TAHUN 1999'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-5811861289476544340</id><published>2009-01-21T18:18:00.003+07:00</published><updated>2009-07-07T18:19:21.116+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reformasi KUHP'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KUHP dan UU Perubahannya'/><title type='text'>UU  NO. 4 TAHUN 1976</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           UU  NO. 4 TAHUN 1976&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Tentang:PERUBAHAN DAN PENAMBAHAN BEBERAPA PASAL DALAM KITAB&lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA BERTALIAN DENGAN PERLUASAN BERLAKUNYA&lt;br /&gt;KETENTUAN PERUNDANG-UNDANGAN PIDANA, KEJAHATAN PENERBANGAN, DAN&lt;br /&gt;KEJAHATAN TERHADAP SARANA/PRASARANA PENERBANGAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHAESA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Republik Indonesia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimbang :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.bahwa hingga kini ketentuan-ketentuan perundang-undangan pidana belum&lt;br /&gt;berlaku dalam pesawat udara Indonesia ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.bahwa penguasaan pesawat udara secara melawan hukum serta semua&lt;br /&gt;perbuatan-perbuatan yang mengganggu keamanan penerbangan dan&lt;br /&gt;sarana/prasarana penerbangan sangat merugikan kehidupan penerbangan&lt;br /&gt;nasional pada khususnya, perekonomian negara serta pembangunan nasional&lt;br /&gt;pada umumnya, sehingga perlu diadakan peraturan-peraturan untuk mencegah&lt;br /&gt;perbuatan-perbuatan tersebut, guna menjamin keselamatan dan keamanan&lt;br /&gt;baik penumpang, awak pesawat udara, barang-barang yang berada dalam&lt;br /&gt;penerbangan, maupun perlindungan sarana/ prasarana penerbangan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.bahwa dalam perundang-undangan Indonesia belum diatur mengenai&lt;br /&gt;ketentuan pidana tentang kejahatan penerbangan dan kejahatan terhadap&lt;br /&gt;sarana/prasarana penerbangan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.bahwa karena itu perlu diadakan perubahan dan penambahan beberapa&lt;br /&gt;pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana jo&lt;br /&gt;Undang-undang Nomor 73 Tahun 1958 tentang Menyatakan berlakunya&lt;br /&gt;undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 Republik Indonesia tentang Peraturan&lt;br /&gt;Hukum Pidana untuk seluruh wilayah Republik Indonesia dan mengubah Kitab&lt;br /&gt;Undang-undang Hukum Pidana (Lembaran Negara Tahun 1958 Nomor 127,&lt;br /&gt;Tambahan Lembaran Negara Nomor 1660);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Undang-Undang Nomor 83 Tahun 1958 tentang Penerbangan (Lembaran&lt;br /&gt;Negara Tahun 1958 Nomor 159, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1687) ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Undang-undang Nomor 2 Tahun 1976 tentang Pengesahan Konvensi Tokyo&lt;br /&gt;1963, Konvensi The Hague 1970 dan Konvensi Montreal 1971 (Lembaran&lt;br /&gt;Negara Tahun 1976 Nomor 18, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3076);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMUTUSKAN :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menetapkan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN DAN PENAMBAHAN BEBERAPA PASAL DALAM&lt;br /&gt;KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PlDANA BERTALIAN DENGAN PERLUASAN BERLAKUNYA&lt;br /&gt;KETENTUAN PERUNDANG-UNDANGAN PIDANA, KEJAHATAN PENERBANGAN, DAN&lt;br /&gt;KEJAHATAN TERHADAP SARANA/PRASARANA PENERBANGAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengubah dan menambah Pasal 3 dan Pasal 4 angka 4 yang tercantum dalam&lt;br /&gt;Bab I Kitab Undang-undang Hukum Pidana sehingga berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Pasal 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan pidana dalam perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap&lt;br /&gt;orang yang di luar Wilayah Indonesia melakukan tindak pidana di dalam&lt;br /&gt;kendaraan air atau pesawat udara Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pasal 4 angka 4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kejahatan yang tersebut dalam Pasal-pasal 438, 444 sampai&lt;br /&gt;dengan Pasal 446 tentang pembajakan laut dan Pasal 447 tentang&lt;br /&gt;penyerahan kendaraan air kepada kekuasaan bajak laut dan Pasal 479 huruf&lt;br /&gt;j tentang penguasaan pesawat udara secara melawan hukum, Pasal 479 huruf&lt;br /&gt;1, m, n, dan o tentang kejahatan yang mengancam keselamatan penerbangan&lt;br /&gt;sipil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menambah 3 (tiga) pasal baru dalam Bab IX Kitab Undang-Undang Hukum&lt;br /&gt;Pidana setelah Pasal 95 yang berbunyi sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Pasal 95 a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)Yang dimaksud dengan "pesawat udara Indonesia" adalah pesawat udara&lt;br /&gt;yang didaftarkan di Indonesia ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)Termasuk pula pesawat udara Indonesia adalah pesawat udara asing yang&lt;br /&gt;disewa tanpa awak pesawat dan dioperasikan oleh perusahaan penerbangan&lt;br /&gt;Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Pasal 95 b.;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "dalam penerbangan" adalah sejak saat semua pintu&lt;br /&gt;luar pesawat udara ditutup setelah naiknya penumpang (embarkasi)&lt;br /&gt;sampai saat pintu dibuka untuk penurunan penumpang (disembarkasi). Dalam&lt;br /&gt;hal terjadi pendaratan darurat penerbangan dianggap terus berlangsung&lt;br /&gt;sampai saat penguasa yang berwenang mengambil alih tanggungjawab atas&lt;br /&gt;pesawat udara dan barang yang ada di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Pasal 95 c.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "dalam dinas" adalah jangka waktu sejak pesawat&lt;br /&gt;udara disiapkan oleh awak darat atau oleh awak pesawat untuk penerbangan&lt;br /&gt;tertentu, hingga setelah 24 jam lewat sesudah setiap pendaratan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menambah sebuah Bab baru setelah Bab XXIX Kitab Undang-Undang Hukum&lt;br /&gt;Pidana dengan Bab XXIX A tentang Kejahatan Penerbangan dan Kejahatan&lt;br /&gt;terhadap sarana/prasarana Penerbangan yang terdiri dari Pasal 479 huruf&lt;br /&gt;a sampai dengan Pasal 479 huruf r yang berbunyi sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Pasal 479 a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum menghancurkan, membuat&lt;br /&gt;tidak dapat dipakai atau merusak bangunan untuk pengamanan lalu lintas&lt;br /&gt;udara atau menggagalkan usaha untuk pengamanan bangunan tersebut,&lt;br /&gt;dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya enam tahun;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)Dengan pidana penjara selama-lamanya sembilan tahun jika karena&lt;br /&gt;perbuatan itu timbul bahaya bagi keamanan lalu lintas udara;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3)Dengan pidana penjara selama-lamanya lima belas tahun jika karena&lt;br /&gt;perbuatan itu mengakibatkan matinya orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Pasal 479 b.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)Barang siapa karena kealpaannya menyebabkan hancurnya, tidak dapat&lt;br /&gt;dipakainya atau rusaknya bangunan untuk pengamanan lalu lintas udara,&lt;br /&gt;atau gagalnya usaha untuk pengamanan bangunan tersebut, dipidana dengan&lt;br /&gt;pidana penjara selama-lamanya tiga tahun ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)Dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun, jika karena&lt;br /&gt;perbuatan itu timbul bahaya bagi keamanan lalu lintas udara;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3)Dengan pidana penjara selama-lamanya tujuh tahun, jika karena&lt;br /&gt;perbuatan itu mengakibatkan matinya orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Pasal 479 c.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum menghancurkan, merusak,&lt;br /&gt;mengambil atau memindahkan tanda atau alat untuk pengamanan penerbangan,&lt;br /&gt;atau menggagalkan bekerjanya tanda atau alat tersebut, atau memasang&lt;br /&gt;tanda atau alat yang keliru, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya enam tahun;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)Dengan pidana penjara selamanya sembilan tahun, jika karena perbuatan&lt;br /&gt;itu timbul bahaya bagi keamanan penerbangan ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3)Dengan pidana penjara selama-selamanya dua belas tahun, jika karena&lt;br /&gt;perbuatan itu timbul bahaya bagi keamanan penerbangan dan mengakibatkan&lt;br /&gt;celakanya pesawat udara ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4)Dengan pidana penjara selama-selamanya lima belas tahun, jika karena&lt;br /&gt;perbuatan itu timbul bahaya bagi keamanan penerbangan dan mengakibatkan&lt;br /&gt;matinya orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Pasal 479 d.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa karena kealpaan menyebabkan tanda atau alat untuk&lt;br /&gt;pengamanan penerbangan hancur, rusak, terambil atau pindah atau&lt;br /&gt;menyebabkan tidak dapat bekerja atau menyebabkan terpasangnya tanda atau&lt;br /&gt;alat untuk pengamanan penerbangan yang keliru, dipidana : a.dengan&lt;br /&gt;pidana penjara selama-selamanya lima tahun, jika karena perbuatan itu&lt;br /&gt;menyebabkan penerbangan tidak aman; b.dengan pidana penjara&lt;br /&gt;selama-selamanya tujuh tahun, jika karena perbuatan itu mengakibatkan&lt;br /&gt;celakanya pesawat udara ; c.dengan pidana penjara selama-selamanya tujuh&lt;br /&gt;tahun, jika karena perbuatan itu mengakibatkan matinya orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Pasal 479 e.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum, menghancurkan atau&lt;br /&gt;membuat tidak dapat dipakainya pesawat udara yang seluruhnya atau&lt;br /&gt;sebagian kepunyaan orang lain, dipidana dengan pidana penjara&lt;br /&gt;selama-selamanya sembilan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.Pasal 479 f.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum mencelakakan,&lt;br /&gt;menghancurkan, membuat tidak dapat dipakai atau merusak pesawat udara,&lt;br /&gt;dipidana :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.dengan pidana penjara selama-selamanya lima belas tahun, jika karena&lt;br /&gt;perbuatan itu timbul bahaya bagi nyawa orang lain; b.dengan pidana&lt;br /&gt;penjara seumur hidup atau pidana penjara untuk selama-selamanya dua&lt;br /&gt;puluh tahun, jika karena perbuatan itu mengakibatkan matinya orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.Pasal 479 g.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa karena kealpaanya menyebabkan pesawat udara celaka, hancur,&lt;br /&gt;tidak dapat dipakai atau rusak, dipidana : a.dengan pidana penjara&lt;br /&gt;selama-selamanya lima tahun, jika karena perbuatan itu timbul bahaya&lt;br /&gt;bagi nyawa orang lain; b.dengan pidana penjara selama-lamanya tujuh&lt;br /&gt;tahun, jika karena perbuatan itu mengakibatkan matinya orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.Pasal 479 h.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau&lt;br /&gt;orang lain dengan melawan hukum, atas kerugian penanggung asuransi&lt;br /&gt;menimbulkan kebakaran atau ledakan, kecelakaan, kehancuran, kerusakan&lt;br /&gt;atau membuat tidak dapat dipakainya pesawat udara, yang dipertanggungkan&lt;br /&gt;terhadap bahaya terwujut diatas atau yang dipertanggungkan muatannya&lt;br /&gt;maupun upah yang akan diterima untuk pengangkutan muatannya, ataupun&lt;br /&gt;untuk kepentingan muatan tersebut telah diterima uang tanggungan,&lt;br /&gt;dipidana dengan pidana penjara selama-selamanya sembilan tahun ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)Apabila yang dimaksud pada ayat (1) Pasal ini adalah pesawat udara&lt;br /&gt;dalam penerbangan, dipidana dengan pidana pelihara selama-selamanya lima&lt;br /&gt;belas tahun;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3)Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau&lt;br /&gt;orang lain dengan melawan hukum atas kerugian penanggung asuransi,&lt;br /&gt;menyebabkan penumpang Pesawat udara yang dipertanggungkan terhadap&lt;br /&gt;bahaya, mendapat kecelakaan, dipidana : a.dengan pidana penjara&lt;br /&gt;selama-lamanya sepuluh tahun, jika karena perbuatan itu menyebabkan luka&lt;br /&gt;berat ; b.dengan pidana penjara selama-selamanya lima belas tahun, jika&lt;br /&gt;karena perbuatan itu mengakibatkan matinya orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.Pasal 479 i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa dalam pesawat udara dengan perbuatan yang melawan hukum&lt;br /&gt;merampas atau mempertahankan perampasan atau menguasai pesawat udara&lt;br /&gt;dalam penerbangan, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya dua&lt;br /&gt;belas tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Pasal 479 j.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa dalam pesawat udara dengan kekerasan atau ancaman kekerasan&lt;br /&gt;atau ancaman dalam bentuk lainnya, merampas atau mempertahankan&lt;br /&gt;perampasan atau menguasai pengendalian pesawat udara dalam penerbangan,&lt;br /&gt;dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima belas tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Pasal 479 k..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara&lt;br /&gt;selama-lamanya dua puluh tahun, apabila perbuatan dimaksud Pasal 479&lt;br /&gt;huruf i dan Pasal 479 j itu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.dilakukan oleh dua orang atau lebih bersama-sama b.sebagai kelanjutan&lt;br /&gt;permufakatan jahat ; c.dilakukan dengan direncanakan lebih dahulu&lt;br /&gt;d.mengakibatkan luka berat seseorang ; e.mengakibatkan kerusakan pada&lt;br /&gt;pesawat udara tersebut, sehingga dapat membahayakan penerbangannya ;&lt;br /&gt;f.dilakukan dengan maksud untuk merampas kemerdekaan atau&lt;br /&gt;meneruskan merampas kemerdekaan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya seseorang atau hancurnya&lt;br /&gt;pesawat udara itu, dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara&lt;br /&gt;seumur hidup atau pidana penjara selama-selamanya dua puluh tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Pasal 479 l.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum melakukan perbuatan&lt;br /&gt;kekerasan terhadap seseorang di dalam pesawat udara dalam penerbangan,&lt;br /&gt;jika perbuatan itu dapat membahayakan keselamatan pesawat udara&lt;br /&gt;tersebut, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima belas tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Pasal 479 m.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum merusak pesawat udara&lt;br /&gt;dalam dinas atau menyebabkan kerusakan atas pesawat udara tersebut yang&lt;br /&gt;menyebabkan tidak dapat terbang atau membahayakan keamanan penerbangan,&lt;br /&gt;dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima belas tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Pasal 479 n.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum menempatkan atau&lt;br /&gt;menyebabkan ditempatkannya di dalam pesawat udara dalam dinas, dengan&lt;br /&gt;cara apapun, alat atau bahan yang dapat menghancurkan pesawat udara atau&lt;br /&gt;menyebabkan kerusakan pesawat udara tersebut yang Membuatnya tidak dapat&lt;br /&gt;terbang atau menyebabkan kerusakan pesawat udara tersebut yang dapat&lt;br /&gt;membahayakan keamanan dalam penerbangan, pidana dengan pidana penjara&lt;br /&gt;selama-lamanya lima belas tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Pasal 479 o.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara&lt;br /&gt;selama-lamanya dua puluh tahun apabila perbuatan dimaksud Pasal 479&lt;br /&gt;huruf 1, Pasal 479 huruf m, dan Pasal 479 huruf n itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.dilakukan oleh dua orang atau lebih bersama-sama b.sebagai kelanjutan&lt;br /&gt;dari permufakatan jahat c.dilakukan dengan direncanakan lebih dahulu&lt;br /&gt;d.Mengakibatkan luka berat bagi seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya seseorang atau hancurnya&lt;br /&gt;pesawat udara itu, dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara&lt;br /&gt;seumur hidup atau pidana penjara selama-lamanya dua puluh tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Pasal 479 p.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa memberikan keterangan yang diketahuinya adalah palsu dan&lt;br /&gt;karena perbuatan itu membahayakan keamanan pesawat udara dalam&lt;br /&gt;penerbangan, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima belas&lt;br /&gt;tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Pasal 479 q.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa di dalam pesawat udara, melakukan perbuatan yang&lt;br /&gt;dapat membahayakan keamanan dalam pesawat udara dalam penerbangan,&lt;br /&gt;dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Pasal 479 r.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa di dalam pesawat udara melakukan perbuatan-perbuatan yang&lt;br /&gt;dapat mengganggu ketertiban dan tatatertib di dalam pesawat udara dalam&lt;br /&gt;penerbangan, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya satu tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal IV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan&lt;br /&gt;Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik&lt;br /&gt;Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disahkan di Jakarta pada tanggal 27 April 1976 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOEHARTO JENDERAL TNI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diundangkan di Jakarta pada tanggal 27 April 1976 MENTERI/SEKRETARIS&lt;br /&gt;NEGARA REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUDHARMONO,SH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 1976&lt;br /&gt;TENTANG PERUSAHAN DAN PENAMBAHAN BEBERAPA PASAL DALAM KITAB&lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA BERTALIAN DENGAN PERLUASAN BERLAKUNYA&lt;br /&gt;KETENTUAN PERUNDANG-UNDANGAN PIDANA, KEJAHATAN PENERBANGAN, DAN&lt;br /&gt;KEJAHATAN TERHADAP SARANA/PRASARANA PENERBANGAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJELASAN UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka melaksanakan Pembangunan Nasional, peningkatan kegiatan&lt;br /&gt;ekonomi masyarakat Indonesia merupakan salah satu tujuan dimana&lt;br /&gt;perhubungan udara mempunyai peranan yang penting untuk mencapai tujuan&lt;br /&gt;tersebut. Selain dari itu angkutan melalui udara mempunyai arti penting&lt;br /&gt;pula dalam menjamin kesatuan ekonomi, politik dan budaya Indonesia,&lt;br /&gt;sehingga dengan demikian perlu dijamin suatu angkutan udara yang dapat&lt;br /&gt;diandalkan, aman dan cepat. Pada waktu akhir-akhir ini ada kecenderungan&lt;br /&gt;bertambah meningkatnya kejahatan penerbangan, sehingga dapat mengurangi&lt;br /&gt;kepercayaan masyarakat kepada perhubungan udara dan dapat pula&lt;br /&gt;mengancam perkembangan angkutan udara yang aman dan bebas dari&lt;br /&gt;ketakutan. Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka dipandang perlu&lt;br /&gt;untuk menyusun Undang-Undang tentang perubahan dan penambahan beberapa&lt;br /&gt;pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dalam rangka memberantas&lt;br /&gt;kejahatan penerbangan, mengingat bahwa dalam perundang-undangan yang&lt;br /&gt;berlaku sekarang belum ada ketentuan tentang kejahatan penerbangan.&lt;br /&gt;Dengan demikian maka dapat diperoleh suatu dasar dan kepastian hukum&lt;br /&gt;untuk menjatuhkan pidana atas perbuatan tersebut. Kemudian mengingat&lt;br /&gt;sifat rawannya angkutan udara, dimana jaminan keselamatan dan keamanan&lt;br /&gt;merupakan unsur yang amat vital sehingga pengamanan merupakan tujuan&lt;br /&gt;yang amat penting. Dengan demikian setiap gangguan terhadap keselamatan&lt;br /&gt;pesawat udara dalam penerbangan dan ketenangan dalam pesawat dapat&lt;br /&gt;mengakibatkan bahaya yang lebih besar dan langsung daripada&lt;br /&gt;perbuatan-perbuatan gangguan terhadap kendaraan angkutan darat dan kapal&lt;br /&gt;atau kendaraan air. Berhubung dengan itu diperlukan suatu usaha untuk&lt;br /&gt;memberantas ataupun mencegah seseorang melakukan kejahatan tersebut.&lt;br /&gt;Maka terhadap kejahatan penerbangan ini perlu diberikan ancaman pidana&lt;br /&gt;yang berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-undang ini disusun dengan merubah dan menambah&lt;br /&gt;ketentuan-ketentuan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, yaitu dengan&lt;br /&gt;memperluas ruang lingkup berlakunya Pasal 3 dan 4 dari Buku I serta&lt;br /&gt;menambah Buku I Bab IX dengan Pasal 95a, 95b, dan Pasal 95c, juga&lt;br /&gt;ditambahkan dalam Buku II Bab XXIX A tentang Kejahatan Penerbangan dan&lt;br /&gt;Kejahatan terhadap Sarana/Prasarana Penerbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejahatan terhadap sarana/prasarana penerbangan sebagaimana diatur dalam&lt;br /&gt;Pasal 479 a sampai dengan Pasal 479 d Undang-undang ini lain sifatnya&lt;br /&gt;dengan pelanggaran sebagaimana tercantum dalam Pasal 15 ayat (1) e&lt;br /&gt;Undang-undang Nomor 83 Tahun 1958.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian maka dalam Undang-undang ini pasal-pasal yang sudah ada&lt;br /&gt;dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, diperluas ruang lingkupnya&lt;br /&gt;sehingga pengertian jurisdiksi kriminil Republik Indonesia mencakup&lt;br /&gt;pesawat udara Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu ditambahkan ketentuan-ketentuan baru sebagai akibat&lt;br /&gt;daripada perkembangan dalam dunia penerbangan. Perubahan-perubahan dan&lt;br /&gt;tambahan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana di atas merupakan&lt;br /&gt;pelaksanaan kewajiban Republik Indonesia sebagai peserta dalam tiga&lt;br /&gt;konvensi tersebut dalam Konsiderans Undang-undang ini, disamping&lt;br /&gt;didorong oleh keinginan untuk merubah Kitab Undang-Undang Hukum Pidana&lt;br /&gt;agar lebih sesuai dengan keadaan masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJELASAN PASAL DEMI PASAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pasal 3 Ketentuan ini dimaksudkan untuk memperluas berlakunya Pasal 3&lt;br /&gt;Undang-Undang Hukum Pidana, yaitu termasuk juga tindak pidana yang&lt;br /&gt;dilakukan oleh siapapun di dalam pesawat udara Indonesia, tetapi pesawat&lt;br /&gt;tersebut berada diluar wilayah Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pasal 4 angka 4 Ketentuan ini dimaksudkan agar supaya peraturan&lt;br /&gt;pidana dalam perundang-undangan Indonesia berlaku juga bagi setiap orang&lt;br /&gt;yang berada diluar wilayah Indonesia yang melakukan tindak pidana&lt;br /&gt;kejahatan penerbangan atau kejahatan yang mengancam keselamatan&lt;br /&gt;penerbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal II Maksud dan tujuan dari ketentuan ini adalah memberikan&lt;br /&gt;perumusan pengertian pesawat udara Indonesia " dalam penerbangan" dan&lt;br /&gt;"dalam dinas". Pesawat udara yang dimaksud dalam Undang-Undang ini&lt;br /&gt;adalah pesawat udara sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang&lt;br /&gt;Penerbangan yang berlaku dan pada saat ini dalam Undang-Undang Nomor 83&lt;br /&gt;Tahun 1958 tentang Penerbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan yang dimaksud dengan pengertian pesawat udara Indonesia dalam&lt;br /&gt;pasal 95 a adalah pesawat udara yang didaftar di Indonesia termasuk pula&lt;br /&gt;dalam pengertian ini pesawat udara asing yang disewa tanpa awak dan&lt;br /&gt;dioperasikan oleh perusahaan penerbangan Indonesia. Yang dimaksud dengan&lt;br /&gt;penguasa yang berwenang dalam Pasal 95 b adalah pejabat Pemerintah&lt;br /&gt;setempat yang mempunyai kewenangan untuk mengambil alih penguasaan atas&lt;br /&gt;pesawat beserta isinya dari captain pesawat hingga pejabat yang&lt;br /&gt;berwenang dari Pemerintah dibidang perhubungan udara tiba, untuk&lt;br /&gt;mengambil alih penguasaan atas pesawat beserta isinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal III Ketentuan ini dimaksudkan untuk menambah Bab baru dalam Kitab&lt;br /&gt;Undang-Undang Hukum Pidana setelah Bab XXIX tentang Kejahatan Pelayaran,&lt;br /&gt;yaitu Bab XXIX A tentang Kejahatan Penerbangan dan kejahatan terhadap&lt;br /&gt;Sarana/Prasarana Penerbangan yang terdiri dari Pasal 479 huruf a sampai&lt;br /&gt;dengan Pasal 479 huruf r.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 . Pasal 479 a. Yang dimaksudkan dengan bangunan adalah fasilitas&lt;br /&gt;penerbangan yang digunakan untuk keamanan dan pengaturan lalu lintas&lt;br /&gt;udara seperti terminal, bangunan, menara, rambu udara, penerangan,&lt;br /&gt;landasan serta fasilitas-fasilitas lainnya, termasuk bangunannya maupun&lt;br /&gt;instalasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pasal 479 b. Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pasal 479 c. Yang dimaksud dengan tanda atau alat adalah fasilitas&lt;br /&gt;penerbangan yang digunakan oleh atau bagi pesawat udara untuk secara&lt;br /&gt;aman dapat mendarat atau tinggal landas (take off) seperti tanda atau&lt;br /&gt;alat landasan (runway-marking) termasuk garis di tengah landasan&lt;br /&gt;(runway- counterline-marking), tanda penunjuk/kordinat landasan&lt;br /&gt;(runway-designation-marking), tanda ujung landasan&lt;br /&gt;(runway-threshold-marking) dan tanda adanya rintangan landasan&lt;br /&gt;(obstacle-marking) termasuk lampu tanda pemancar radio, lampu tanda&lt;br /&gt;menara lalu lintas udara dan lampu tanda gedung setasiun udara dan lain&lt;br /&gt;sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian "memasang tanda atau alat yang keliru" dapat juga berupa&lt;br /&gt;perbuatan pemasangan yang keliru daripada alat atau tanda yang dilakukan&lt;br /&gt;dengan sengaja dan melawan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pasal 479 d.  Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pasal 479 c. Pesawat udara dalam pasal ini ialah pesawat udara yang&lt;br /&gt;berada di darat yaitu tidak dalam penerbangan atau masih dalam persiapan&lt;br /&gt;oleh awak darat atau oleh awak pesawat untuk penerbangan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Pasal 479 f. Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Pasal 479 g. Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Pasal 479 h. Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Pasal 479 i. Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Pasal 479 j. Ketentuan pasal ini mengatur tindak pidana kejahatan&lt;br /&gt;penerbangan yang lazim dikenal dengan nama "pembajakan pesawat udara".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Pasal 479 k. Syarat-syarat yang tercantum dalam ayat (1) sub a&lt;br /&gt;sampai dengan f merupakan syarat-syarat alternatip bagi pemberatan&lt;br /&gt;pidana dari pidana yang. dimaksud dalam Pasal 479 huruf i dan Pasal 479&lt;br /&gt;huruf j.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Pasal 479 l. Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Pasal 479 m. Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Pasal 479 n. Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Pasal 479 o. Pasal ini adalah pemberatan dari tindak pidana Pasal&lt;br /&gt;479 huruf 1, m, dan n. Syarat-syarat yang tercantum dalam ayat (1) sub&lt;br /&gt;a, b, c dan d merupakan syarat-syarat alternatip bagi pemberatan pidana&lt;br /&gt;dari pidana yang dimaksud dalam huruf l, m, dan n.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Pasal 479 p. Yang diatur oleh pasal ini adalah tindakan yang sering&lt;br /&gt;terjadi seperti pemberitahuan adanya ancaman bom lewat telepon atau alat&lt;br /&gt;komunikasi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Pasal 479 q. Perbuatan yang dapat membahayakan keamanan pesawat&lt;br /&gt;udara dalam penerbangan adalah perbuatan yang nyata-nyata membahayakan&lt;br /&gt;keamanan penerbangan seperti membuka pintu darurat atau pintu utama,&lt;br /&gt;merusak alat-alat pelampung atau alat-alat penyelamat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Pasal 479 r. Yang dimaksud dalam pasal ini dengan perbuatan&lt;br /&gt;yang nyata-nyata bertentangan dengan ketertiban, dan tatatertib&lt;br /&gt;(disiplin) dalam pesawat udara adalah dengan sengaja mabuk-mabukan,&lt;br /&gt;membuat onar, kegaduhan dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal IV Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-5811861289476544340?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/5811861289476544340/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=5811861289476544340' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/5811861289476544340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/5811861289476544340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/uu-no-4-tahun-1976.html' title='UU  NO. 4 TAHUN 1976'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-2048470912894672324</id><published>2009-01-21T18:15:00.001+07:00</published><updated>2009-11-03T13:08:27.657+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reformasi KUHP'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KUHP dan UU Perubahannya'/><title type='text'>UU NOMOR 7 TAHUN 1974 TENTANG PENERTIBAN PERJUDIAN</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR 7 TAHUN 1974&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;PENERTIBAN PERJUDIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DENGAN RAKHMAT TUHAN YANGMAHAESA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Presiden Republik Indonesia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimbang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. bahwa perjudian pada hakekatnya bertentangan dengan Agama,Kesusilaan dan Moral Pancasila, serta membahayakan bagi penghidupan dankehidupan masyarakat, Bangsa dan Negara;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. bahwa oleh karena itu perlu diadakan usaha-usaha untukmenertibkan perjudian, membatasinya sampai lingkungan sekecil-kecilnya, untukakhirnya menuju kepenghapusannya sama sekali dari seluruh wilayah Indonesia;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. bahwa ketentuan-ketentuan dalam. Ordonansi tanggal 7 Maret1912 (Staatsblad Tahun 1912 Nomor 23O) sebagaimana telah beberapa kali dirubahdan ditambah, terakhir dengan Ordonansi tanggal 31 Oktober 1935 (StaatsbladTahun 1935 Nomor 526), telah tidaksesuai lagi dengan perkembangan keadaan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. bahwa ancaman hukuman didalam pasal-pasal KitabUndang-undang Hukum Pidana mengenai perjudian dianggap tidak sesuai lagisehingga perlu diadakan perubahan dengan memperberatnya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan diatas perludisusun Undang-undang tentang Penertiban Perjudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Undang-UndangDasar 1945 Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor lV/MPR/1973tentang Garis-garis Besar Haluan Negara;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat pula :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kitab Undang-undang Hukum Pidana Pasal 303 ayat (1), (2) dan(3) dan Pasal 542 ayat (1) dan (2);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokokPemerintahan di Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 38Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3037).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan persetujuan DewanPerwakilan Rakyat Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMUTUSKAN :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menetapkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNDANG-UNDANGTENTANG PENERTIBAN PERJUDIAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyatakansemua tindak pidana perjudian sebagai kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Merubah ancaman hukuman dalam Pasal 303 ayat (1) KitabUndang- undang Hukum Pidana, dari Hukuman penjaara selama-lamanya dua tahundelapan bulan atau denda sebanyak-banyaknya sembilan puluh ribu rupiah menjadihukuman penjara selama-lamanya sepuluh tahun atau denda sebanyak-banyaknya duapuluh lima juta rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Merubah ancaman hukuman dalam Pasal 542 ayat (1) KitabUndang- undang Hukum Pidana, darihukuman kurungan selama-lamanya satu bulan atau denda sebanyak-banyaknya empatribu lima ratus rupiah, menjadi hukuman penjara selama-lamanya empat tahun ataudenda sebanyak-banyaknya sepuluh juta rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Merubah ancaman hukuman dalam Pasal 542 ayat (2) Kitab Undang-undang Hukum Pidana, dari hukuman kurungan selama-lamanya tiga bulan atau dendasebanyak-banyaknya tujuh ribu lima ratus rupiah menjadi hukuman penjaraselama-lamanya enam tahun atau denda sebanyak-banyaknya lima belas juta rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Merubahsebutan Pasal 542 menjadi Pasal 303 bis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Pemerintah mengatur penertiban perjudian sesuai dengan jiwadan maksud Undang-undang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Pelaksanaanayat (1) pasal ini diatur dengan Peraturan Perundang- undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhitung mulai berlakunya peraturan Perundang-undangandalam rangka penertiban perjudian dimaksud pada Pasal 3 Undang-undang ini,mencabut Ordonansi tanggal 7 Maret 1912 (Staatsblad Tahun 1912 Nomor 230)sebagaimana telah beberapa kali dirubah dan ditambah, terakhir dengan Ordonansitanggal 31 Oktober 1935 (Staatsblad Tahun 1935 Nomor 526).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-undang ini berlaku berlaku pada tanggaldiundangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Agarsetiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang inidengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditetapkan di Jakarta,&lt;br /&gt;pada tanggal 6 Nopember 1974&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOEHARTO&lt;br /&gt;JENDERAL TNI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diundangkan di Jakarta&lt;br /&gt;pada tanggal 6 Nopember 1974&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENTERI/SEKRETARIS NEGARA&lt;br /&gt;REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUDHARMONO, S H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEMBARAN NEGARA TAHUN 1974NOMOR 54&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJELASAN&lt;br /&gt;ATAS&lt;br /&gt;UNDANG-UNDANGREPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR 7 TAHUN 1974&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;PENERTIBANPERJUDIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UMUM:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bahwa pada hakekatnya perjudianadalah bertentangan dengan Agama, Kesusilaan, dan Moral Pancasila, sertamembahayakan bagi penghidupan dan kehidupan masyarakat, Bangsa, dan Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namunmelihat kenyataan dewasa ini, perjudian dengan segala macam bentuknya masihbanyak dilakukan dalam masyarakat, sedangkan ketentuan-ketentuan dalam Ordonansitanggal 7 Maret 1912 (Staatsblad Tahun 1912 Nomor 230) dengan segala perubahandan tambahannya, tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ditinjau dari kepentingan nasional,penyelenggaraan perjudian mempunyai ekses yang negatif dan merugikan terhadapmoral dan mental masyarakat, terutama terhadap generasi muda. Meskipunkenyataan juga menunjukkan, bahwa hasil perjudian yang diperoleh Pemerintah,baik Pusat maupun Daerah, dapat digunakan untuk usaha-usaha pembangunan, namunekses negatipnya lebih besar daripada ekses positipnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Apabila Ketetapan MajelisPermusyawaratan Rakyat Nomor IV/MPR/1973 BAB II huruf C angka 5 menyimpulkan,bahwa usaha pembangunan dalam bidang materiil tidak boleh menelantarkan usahadalam bidang spiritual, malahan kedua bidang tersebut harus dibangun secarasimultan, maka adanya dua kepentingan yang berbeda tersebut perlu segeradiselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pemerintah harus mengambil langkahdan usaha untuk menertibkan dan mengatur kembali perjudian, membatasinya sampailingkungan sekecil-kecilnya, untuk akhirnya menuju ke penghapusannya samasekali dari seluruh wilayah Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjudian adalah salah satu penyakitmasyarakat yang manunggal dengan kejahatan, yang dalam proses sejarah darigenerasi ke generasi ternyata tidak mudah diberantas. Oleh karena itu padatingkat dewasa ini perlu diusahakan agar masyarakat menjauhi melakukanperjudian, perjudian terbatas pada lingkungan sekecil-kecilnya, danterhindarnya ekses-ekses negatip yang lebih parah, untuk akhirnya dapat berhentimelakukan perjudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Maka untuk maksud tersebut perlumengklasifikasikan segala macam bentuk tindak pidana perjudian sebagaikejahatan, dan memberatkan ancaman hukumannya, karena ancaman hukuman yangsekarang berlaku ternyata sudah tidak sesuai lagi dan tidak membuat pelakunyajera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selanjutnyakepada Pemerintah ditugaskan untuk menertibkan perjudian sesuai dengan jiwa danmaksud Undang-undang ini, antara lain dengan mengeluarkan peraturanperundang-undangan yang diperlukan untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PASAL DEMI PASAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; DenganPasal 3 ayat (1) ini Pemerintah dimaksudkan menggunakankebijaksanaan-kebijaksanaan untuk menertibkan perjudian, hingga akhirnya menujukepenghapusan perjudian sama sekali dari Bumi Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Agartidak terjadi kekosongan hukum selama belum ada peraturan perundang-undanganyang mengatur penertiban perjudian sebagai pelaksanaan Undang-undang ini, makapasal ini dimaksudkan sebagai aturan peralihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA NOMOR 3040&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-2048470912894672324?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/2048470912894672324/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=2048470912894672324' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/2048470912894672324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/2048470912894672324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/uu-nomor-7-tahun-1974-tentang.html' title='UU NOMOR 7 TAHUN 1974 TENTANG PENERTIBAN PERJUDIAN'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-1852046523513733186</id><published>2009-01-21T17:58:00.003+07:00</published><updated>2009-11-03T13:07:58.895+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reformasi KUHP'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KUHP dan UU Perubahannya'/><title type='text'>PENETAPAN PRESIDEN  NOMOR 1 TAHUN 1965</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENETAPAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR 1 TAHUN 1965&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN DAN/ATAU PENODAAN AGAMA&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimbang : &lt;br /&gt;a. bahwa dalam rangka pengamanan Negara dan Masyarakat, cita-cita Revolusi Nasional dan pembangunan Nasional Semesta menuju ke masyarakat adil dan makmur, perlu mengadakan peraturan untuk mencegah penyalah-gunaan atau penodaan agama;&lt;br /&gt;b. bahwa untuk pengamanan revolusi dan ketentuan masyarakat, soal ini perlu diatur dengan Penetapan Presiden;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat : &lt;br /&gt;1. pasal 29 Undang-undang Dasar;&lt;br /&gt;2. pasal IV Aturan Peralihan Undang-undang Dasar;&lt;br /&gt;3. penetapan Presiden No. 2 tahun 1962 (Lembara-Negara tahun 1962 No. 34);&lt;br /&gt;4. pasal 2 ayat (1) Ketetapan M.P.R.S. No. II/MPRS/1960;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMUTUSKAN:&lt;br /&gt;Menetapkan : &lt;br /&gt;PENETAPAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN DAN/ATAU PENODAAN AGAMA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum&lt;br /&gt;menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan&lt;br /&gt;umum, untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama&lt;br /&gt;yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan&lt;br /&gt;keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan&lt;br /&gt;dari agama itu, penafsiran dan kegiatan mana menyimpang&lt;br /&gt;dari pokok-pokok ajaran agama itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;(1) Barang siapa melanggar ketentuan tersebut dalam pasal&lt;br /&gt;1 diberi perintah dan peringatan keras untuk menghentikan perbuatannya itu di dalam suatu keputusan bersama Menteri Agama, Menteri/Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Apabila pelanggaran tersebut dalam ayat (1) dilakukan oleh Organisasi atau sesuatu aliran kepercayaan, maka Presiden Republik Indonesia dapat membubarkan&lt;br /&gt;Organisasi itu dan menyatakan Organisasi atau aliran tersebut sebagai Organisasi/ aliran terlarang, satu dan lain setelah Presiden mendapat pertimbangan dari&lt;br /&gt;Menteri Agama, Menteri/Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;Apabila, setelah dilakukan tindakan oleh Menteri Agama bersama-sama Menteri/Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri atau oleh Presiden Republik Indonesia menurut ketentuan dalam pasal 2 terhadap orang, Organisasi atau aliran kepercayaan, mereka masih terus melanggar ketentuan dalam pasal 1, maka orang, penganut, anggota dan/atau anggota Pengurus Organisasi yang bersangkutan dari aliran itu dipidana&lt;br /&gt;dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;Pada Kitab Undang-undang Hukum Pidana diadakan pasal baru yang berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 156a&lt;br /&gt;Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barangsiapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan:&lt;br /&gt;a. yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalah-gunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia;&lt;br /&gt;b. dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apapun juga, yang bersendikan ke-Tuhanan Yang Maha Esa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;Penetapan Presiden Republik Indonesia ini mulai berlaku pada hari diundangkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya memerintahkan pengundangan Penetapan Presiden Republik Indonesia ini dengan penempatan dalam Lembaran Negara Republik&lt;br /&gt;Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditetapkan di Jakarta&lt;br /&gt;pada tanggal 27 Januari 1965.&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;SUKARNO&lt;br /&gt;Diundangkan di Jakarta&lt;br /&gt;pada tanggal 27 Januari 1965&lt;br /&gt;SEKRETARIS NEGARA,&lt;br /&gt;MOHD. ICHSAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1965 NOMOR 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJELASAN&lt;br /&gt;ATAS&lt;br /&gt;PENETAPAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR 1 TAHUN 1965&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;PENCEGAHAN PENYALAH-GUNAAN DAN/ATAU PENODAAN AGAMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. UMUM&lt;br /&gt;1. Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 yang menetapkan Undangundang&lt;br /&gt;Dasar 1945 berlaku lagi bagi segenap bangsa Indonesia telah menyatakan, bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai dan merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut.&lt;br /&gt;Menurut Undang-undang Dasar 1945 Negara kita berdasarkan :&lt;br /&gt;1. Ketuhanan Yang Maha Esa;&lt;br /&gt;2. Kemanusiaan yang adil dan beradab;&lt;br /&gt;3. Persatuan Indonesia;&lt;br /&gt;4. Kerakyatan;&lt;br /&gt;5. Keadilan Sosial.&lt;br /&gt;Sebagai dasar pertama, Ke-Tuhanan Yang Maha Esa bukan saja&lt;br /&gt;meletakkan dasar moral diatas Negara dan Pemerintah, tetapi&lt;br /&gt;juga memastikan adanya kesatuan Nasional yang berasas keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengakuan sila pertama (Ke-Tuhanan Yang Maha Esa) tidak dapat dipisah-pisahkan dengan Agama, karena adalah salah satu tiang pokok daripada perikehidupan manusia dan bagi bangsa Indonesia adalah juga sebagai sendi perikehidupan Negara dan unsur mutlak dalam usaha nation-building.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Telah teryata, bahwa pada akhir-akhir ini hampir diseluruh Indonesia tidak sedikit timbul aliran-aliran atau Organisasiorganisasi kebatinan/kepercayaan masyarakat yang bertentangan dengan ajaran-ajaran dan hukum Agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara ajaran-ajaran/perbuatan-perbuatan pada pemeluk aliran-aliran tersebut sudah banyak yang telah menimbulkan hal-hal yang melanggar hukum, memecah persatuan Nasional dan menodai Agama. Dari kenyataan teranglah, bahwa aliran-aliran&lt;br /&gt;atau Organisasi-organisasi kebatinan/kepercayaan masyarakat yang menyalah-gunakan dan/atau mempergunakan Agama sebagai pokok, pada akhir-akhir ini bertambah banyak dan telah berkembang kearah yang sangat  membahayakan Agama-agama yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Untuk mencegah berlarut-larutnya hal-hal tersebut diatas yang dapat membahayakan persatuan Bangsa dan Negara, maka dalam rangka kewaspadaan Nasional dan dalam Demokrasi Terpimpin dianggap perlu dikeluarkan Penetapan Presiden sebagai realisasi&lt;br /&gt;Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 yang merupakan salah satu jalan untuk menyalurkan ketata-negaraan dan keagamaan, agar oleh segenap rakyat diseluruh wilayah Indonesia ini dapat dinikmati ketenteraman beragama dan jaminan untuk menunaikan ibadah menurut Agamanya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Berhubung dengan maksud memupuk ketenteraman beragama inilah, maka Penetapan Presiden ini pertama-tama mencegah agar jangan sampai terjadi penyelewengan-penyelewengan dari ajaranajaran agama yang dianggap sebagai ajaran-ajaran pokok oleh para ulama dari agama yang bersangkutan (pasal 1-3); dan kedua kalinya aturan ini melindungi ketenteraman beragama tersebut dari penodaan/penghinaan serta dari ajaran-ajaran untuk tidak memeluk agama yang bersendikan Ke-Tuhanan Yang Maha Esa/(Pasal 4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Adapun penyelewengan-penyelewengan keagamaan yang nyatanyata merupakan pelanggaran pidana dirasa tidak perlu diatur lagi dalam peraturan ini, oleh karena telah cukup diaturnya dalam berbagai-bagai aturan pidana yang telah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Penetapan Presiden ini tidaklah sekali-kali dimaksudkan hendak&lt;br /&gt;mengganggu gugat hak hidup Agama-gama yang sudah diakui oleh&lt;br /&gt;Pemerintah sebelum Penetapan Presiden ini diundangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. PASAL DEMI PASAL&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;Dengan kata-kata "Dimuka Umum" dimaksudkan apa yang lazim diartikan&lt;br /&gt;dengan kata-kata itu dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Agamaagama&lt;br /&gt;yang dipeluk oleh penduduk di Indonesia ialah Islam, Kristen,&lt;br /&gt;Katolik, Hindu, Budha dan khong Cu (Confusius).&lt;br /&gt;Hal ini dapat dibuktikan dalam sejarah perkembangan Agama-agama di&lt;br /&gt;Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena 6 macam Agama ini adalah agama-gama yang dipeluk hampir&lt;br /&gt;seluruh penduduk Indonesia, maka kecuali mereka mendapat jaminan&lt;br /&gt;seperti yang diberikan oleh pasal 29 ayat 2 Undang-undang Dasar, juga&lt;br /&gt;mereka mendapat bantuan-bantuan dan perlindungan seperti yang&lt;br /&gt;diberikan oleh pasal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tidak berarti bahwa agama-agama lain, misalnya: Yahudi,&lt;br /&gt;Zarasustrian, Shinto, Taoism dilarang di Indonesia. Mereka mendapat&lt;br /&gt;jaminan penuh seperti yang diberikan oleh pasal 29 ayat 2 dan mereka&lt;br /&gt;dibiarkan adanya, asal tidak melanggar ketentuan-ketentuan yang&lt;br /&gt;terdapat dalam peraturan ini atau peraturan perundangan lain.&lt;br /&gt;Terhadap badan/aliran kebatinan, Pemerintah berusaha menyalurkannya&lt;br /&gt;kearah pandangan yang sehat dan kearah Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;Hal ini sesuai dengan ketetapan M.P.R.S. No. II/MPRS/1960, lampiran A.&lt;br /&gt;Bidang I, angka 6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata-kata "Kegiatan keagamaan" dimaksudkan segala macam&lt;br /&gt;kegiatan yang bersifat keagamaan, misalnya menamakan suatu aliran&lt;br /&gt;sebagai Agama, mempergunakan istilah-istilah dalam menjalankan atau&lt;br /&gt;mengamalkan ajaran-ajaran kepercayaannya ataupun melakukan&lt;br /&gt;ibadahnya dan sebagainya. Pokok-pokok ajaran agama dapat diketahui&lt;br /&gt;oleh Departemen Agama yang untuk itu mempunyai alat-alat/cara-cara&lt;br /&gt;untuk menyelidikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;Sesuai dengan kepribadian Indonesia, maka terhadap orang-orang&lt;br /&gt;ataupun penganut-penganut sesuatu aliran kepercayaan maupun anggota&lt;br /&gt;atau anggota Pengurus Organisasi yang melanggar larangan tersebut&lt;br /&gt;dalam pasal 1, untuk permulaannya dirasa cukup diberi nasehat&lt;br /&gt;seperlunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila penyelewengan itu dilakukan oleh organisasi atau penganutpenganut&lt;br /&gt;aliran kepercayaan dan mempunyai effek yang cukup serius&lt;br /&gt;bagi masyarakat yang beragama, maka Presiden berwenang untuk&lt;br /&gt;membubarkan organisasi itu dan untuk menyatakan sebagai organisasi&lt;br /&gt;atau aliran terlarang dengan akibat-akibatnya (jo pasal 169 K.U.H.P.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;Pemberian ancaman pidana yang diatur dalam pasal ini, adalah tindakan&lt;br /&gt;lanjutan terhadap anasir-anasir yang tetap mengabaikan peringatan&lt;br /&gt;tersebut, dalam pasal 2. Oleh karena aliran kepercayaan biasanya tidak&lt;br /&gt;mempunyai bentuk seperti organisasi/perhimpunan, dimana mudah&lt;br /&gt;dibedakan siapa pengurus dan siapa anggotanya, maka mengenai aliran-aliran kepercayaan, hanya penganutnya yang masih terus melakukan&lt;br /&gt;pelanggaran dapat dikenakan pidana, sedang pemuka aliran sendiri yang&lt;br /&gt;menghentikan kegiatannya tidak dapat dituntut.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat sifat idiil dari tindak pidana dalam pasal ini, maka ancaman&lt;br /&gt;pidana 5 tahun dirasa sudah wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;Maksud ketentuan ini telah cukup dijelaskan dalam penjelasan umum&lt;br /&gt;diatas. Cara mengeluarkan persamaan atau melakukan perbuatan dapat&lt;br /&gt;dilakukan dengan lisan, tulisan ataupun perbuatan lain.&lt;br /&gt;Huruf a, tindak pidana yang dimaksudkan disini, ialah yang semata-mata&lt;br /&gt;(pada pokoknya) ditujukan kepada niat untuk memusuhi atau menghina.&lt;br /&gt;Dengan demikian, maka, uraian-uraian tertulis maupun lisan yang&lt;br /&gt;dilakukan secara obyektif, zakelijk dan ilmiah mengenai sesuatu agama&lt;br /&gt;yang disertai dengan usaha untuk menghindari adanya kata-kata atau&lt;br /&gt;susunan kata-kata yang bersifat permusuhan atau penghinaan, bukanlah&lt;br /&gt;tinak pidana menurut pasal ini.&lt;br /&gt;Huruf b, Orang yang melakukan tindak pidana tersebut disini, disamping&lt;br /&gt;mengganggu ketentraman orang beragama, pada dasarnya menghianati&lt;br /&gt;sila pertama dari Negara secara total, dan oleh karenanya adalah pada&lt;br /&gt;tempatnya, bahwa perbuatannya itu dipidana sepantasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2726.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-1852046523513733186?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/1852046523513733186/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=1852046523513733186' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/1852046523513733186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/1852046523513733186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/penetapan-presiden-nomor-1-tahun-1965.html' title='PENETAPAN PRESIDEN  NOMOR 1 TAHUN 1965'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-9093551860825030802</id><published>2009-01-21T17:54:00.007+07:00</published><updated>2009-11-03T13:05:15.222+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reformasi KUHP'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KUHP dan UU Perubahannya'/><title type='text'>NDANG-UNDANG No. 18/Prp/1960</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG No. 18/Prp/1960 TENTANG PERUBAHAN JUMLAH HUKUMAN DENDA DALAM KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DAN DALAM KETENTUAN-KETENTUAN PIDANA LAINNYA YANG DIKELUARKAN SEBELUM TANGGAL 17 AGUSTUS 1945 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimbang:&lt;br /&gt;a.bahwa jumlah-jumlah hukuman denda baik dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana sebagaimaryi beberapa kali telah ditambah dan diubah dan terakhir dengan Undang-Undang No. 1 Tahun 1960 (Lembaran Negara tahun 1960 No. 1) maupun datam ketentuan-ketentuan pidana lainnya yang dikeluarkan sebelum tanggal 17 Agustus 1945 dan yang sebagaimana telah diubah se¬belum hari mulai berlakunya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini, adalah tidak setimpal lagi dengan sifat tindak pidana yang dilakukan, ber¬hubung ancaman hukuman denda itu sekarang menja¬di terlalu ringan jika dibandingkan dengan nilai uang pada waktu ini, sehingga jumlah-jumlah ini perlu di¬pertinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. bahwa karena keadaan memaksa soal tersebut diatur dengan Peraturan  Pemerintah Pengganti Undang-Undang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat :&lt;br /&gt;1. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.&lt;br /&gt;2. Ketentuan-ketentuan Pidana yang bersangkutan.&lt;br /&gt;3. Pasal 22 ayat (1) Undang-Undang Dasar Republik Indonesia.&lt;br /&gt;4. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 10 tahun 1960.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar:&lt;br /&gt;Musyawarah Kabinet Kerja pada tanggal 22 Maret 1960.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMUTUSKAN :&lt;br /&gt;Menetapkan:&lt;br /&gt;PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG¬UNDANG TENTANG PERUBAHAN JUMLAH HU¬KUMAN DENDA DALAM KITAB UNDANG-UN¬DANG HUKUM PIDANA DAN DALAM KETITENTUAN-KETENTUAN PIDANA LAINNYA YANG DIKELUARKAN SEBELUM TANGGAL 17 AGUSTUS 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;(1.) Tiap jumlah hukuman denda yang diancamkan, baik dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, sebagai¬mana beberapa kali telah ditambah dan diubah dan terakhir dengan Undang-Undang No. 1 Tahun 1960 (Lembaran Negara Tahun 1960 No. 1) maupun da¬lam ketentuan-ketentuap pidana lainnya yang dike¬luarkan sebelum tanggal 17 Agustus 1945, sebagai¬mana telah diubah sebelum hari mulai berlakunya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini, harus dibaca dalam mata uaqg rupiah dan dilipatkan lima belas kali.&lt;br /&gt;(2) Ketentuan dalam ayat (1) tidak berlaku terhadap jum¬lah hukuman denda dalam ketentuan-katentuan tin¬dak pidana yang telah dimasukkan dalarh tindak pi¬dana ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-IJndang ini mulai berlaku pada hari diundangkan. Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundang¬an Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini dengan penempatan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 14 April 1960 &lt;br /&gt;PEJABAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt; ttd. &lt;br /&gt;DJUANDA&lt;br /&gt;Diundangkan di Jakarta pada tanggal 14 April 1960 &lt;br /&gt;Menteri Kehakiman, &lt;br /&gt;ttd. &lt;br /&gt;SAHARDJO&lt;br /&gt;LEMBARAN NEGARA NOMOR 52 TAHUIV 1960&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-9093551860825030802?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/9093551860825030802/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=9093551860825030802' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/9093551860825030802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/9093551860825030802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/ndang-undang-no-18prp1960.html' title='NDANG-UNDANG No. 18/Prp/1960'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-2716313609262246506</id><published>2009-01-21T17:54:00.006+07:00</published><updated>2009-11-03T13:05:01.772+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reformasi KUHP'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KUHP dan UU Perubahannya'/><title type='text'>UNDANG-UNDANG No. 16 Prp. 1960</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG No. 16 Prp. 1960 &lt;br /&gt;TENTANG &lt;br /&gt;BEBERAPA PERUBAHAN DALAM KITAB UNDANG¬UNDANG HUKUM PIDANA&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimbang :&lt;br /&gt;a. bahwa dianggap perlu mengubah pasal-pasal 364, 373, 379, 384, clan 407 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hu¬kum Pidana berhubung nilai harga barang yang dimak¬sud dalam pasal-pasal tersebut tidak sesuai lagi dengan keadaan sekarang;&lt;br /&gt;b. bahwa karena keadaan memaksa soal tersebut diatur dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang¬Undang;&lt;br /&gt;Mengingat :&lt;br /&gt;1 Pasal-pasal yang bersangkutan dalam Kitab Undang¬Undang Hukum Pidana tersebut;&lt;br /&gt;2. Pasal 22 ayat (}) Undang-Undang Dasar Republik In¬donesia;&lt;br /&gt;3. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 10 Tahun 1960.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar :&lt;br /&gt;Musyawarah Kabinet Kerja pada tanggal 22 Maret 1960;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMUTUSKAN :&lt;br /&gt;Menetapkan :&lt;br /&gt;PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG¬UNDANG TENTANG BEBERAPA PERUBAHAN DA¬LAM KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal I&lt;br /&gt;Kata-kata "vijf en twintig gulden" dalam pasal-pasal 364, 373, 379, 384 clan 407 ayat (1) Kitab Undang-Un¬dang Hukum Pidana diubah menjadi "dua ratus lima puluh rupiah"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal II&lt;br /&gt;Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini mulai berlaku pada hari diundangkan.&lt;br /&gt;Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, me¬merintahkan pengundangan Peraturan. Pemerintah Peng¬ganti Undang-Undang ini dengan penempatan dalam Lem¬baran Negara RPnublik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ditetapkan di Jakarta pada tanggat 14 April 1960 &lt;br /&gt;PJ. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA &lt;br /&gt;ttd. &lt;br /&gt;DJUANDA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diundangkan di Jakarta pada tanggal 14 April 1960&lt;br /&gt;MENTERI KEHAKIMAN &lt;br /&gt;ttd. &lt;br /&gt;SAHARDJO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEMBARAN NEGARA NOMOR 50 TAHUN 1960&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJELASAN&lt;br /&gt;Seperti telah diketahui maka dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ada perbuatan-perbuatan yang, me¬rupakan tindak pidana enteng, (lichte misdrijven) talah yang disebut dalam pasal 364 (pencurian ringan) pasal 373 (penggelapan. ringan) pasal 379 (penipuan ringan) pasal 384 (penipuan ringan oleh penjual) pasal 407 ayat (1) .(peru¬sakan ringan) dan pasal 482 (penadahan ringan), karena harga barang yang diperoleh karena atau yang menjadi obyek dari kejahatan-kejahatan seperti diatur dalam pasal¬pasal tersebut tidak lebih dari Rp. 25,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelanggaran kejahatan-kejahatan enteng tersebut dahulu diadili oleh Hakim- Kepolisian (Landgerecht oude stijl) yang dapat memberi hukuman penjara sampai 3 bulan atau hukuman denda sampai Rp. 500,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Pengadilan Kepolisian dihapuskan (Undang¬Undang Darurat No. l Tahun 1951, Lembaran Negara Tahun 1951 No. 9, yang mulai berlaku pada tanggal 14 Januari 1951), maka semua tindak pidana ringan clan juga pelanggaran-pelanggaran (overtredingen) diadili oleh Penga¬dilan Negeri, yang' dalam pemeriksaan mempergunakan prosedur yang sederhana (tidak dihadiri oleh Jaksa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena keadaan ekonomi telah berubah, harga barang-barang meningkat, maka dirasa perlu untuk me¬naikkan harga barang yang dinilai dengan uang Rp. 25,¬dalam pasal-pasal 364, 373,379, 384 dan 407 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tersebut di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 482 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana juga suatu tindak pidana ringan akan tetapi tidak dimuat dalam peraturan ini karena dalam pasal tersebut tidak dimuat harga Rp. 25,- pasal tersebut hanya _menunjuk kepada pasal-pasal 364, 373, dan 379 Kitab Undang-Undang HukUm Pidana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui bahwa harga Rp. 25,- itu tidak sesuai dengan keadaan sekarang di mana harga harang-barang¬telah membubung tinggi, banyak kali lipat, jauh-melebihi harga-harga barang pada kira-kira tahun 1915 ialah tahun ketika Kitab Undang-Undang Hukum Pidana direncana¬kan sehingga nilai uang Rp. 25,- itu sekarang merupakan jumlah yang kecil sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sewajarnya jumlah uang Rp. 25,- itu dinaikkan sedemikian, hingga sesuai dengan keadaan sekarang.&lt;br /&gt;Jumlah yang selayaknya untuk harga barang dalam pasal-pasal itu menurut I pendapat Pemerintah ialah Rp. 250,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berhubung dengan keadaan yang mendesak, perlu hal ini segera dilaksanakan dengan mengaturnya dalam Per¬aturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA NOMOR 1976 TAHUN 1960&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-2716313609262246506?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/2716313609262246506/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=2716313609262246506' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/2716313609262246506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/2716313609262246506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/undang-undang-no-16-prp-1960.html' title='UNDANG-UNDANG No. 16 Prp. 1960'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-8474229951771143944</id><published>2009-01-21T17:31:00.006+07:00</published><updated>2009-11-03T13:04:45.962+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reformasi KUHP'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KUHP dan UU Perubahannya'/><title type='text'>UU Nomor 73 Tahun 1958</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UU Nomor 73 Tahun 1958 Tentang MENYATAKAN BERLAKUNYA UNDANG UNDANG NO. 1 TAHUN 1946 REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERATURAN HUKUM PIDANA UNTUK SELURUH WILAYAH REPUBLIK INDONESIA DAN MENGUBAH KITAB UNDANG UNDANG HUKUM PIDANA *)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Republik Indonesia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimbang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.bahwa perlu dinyatakan berlakunya Undang-undang No. 1 tahun 1946 Republik Indonesia untuk seluruh wilayah Republik Indonesia;&lt;br /&gt;b.bahwa berhubung dengan ditetapkan Peraturan-peraturan Pemerintah tentang Bendera Kebangsaan Republik Indonesia, tentang Penggunaan Bendera Asing di Indonesia dan tentang Penggunaan Lambang Negara (Lembaran Negara tahun 1958 No. 68, No. 69 dan No. 71), perlu diadakan perubahan dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat: pasal 89 dan pasal 102 Undang-undang Dasar Sementara Republik Indonesia;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memutuskan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menetapkan: Undang-undang Tentang Menyatakan Berlakunya Undang-undang No. 1 Tahun 1946 Republik Indonesia Tentang Peraturan Hukum Pidana Untuk Seluruh Wilayah Republik Indonesia dan Mengubah Kitab Undang-undang Hukum Pidana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-undang No. 1 tahun 1946 Republik Indonesia tentang peraturan hukum pidana dinyatakan berlaku untuk seluruh wilayah Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal XVI Undang-undang No. I tahun 1946 Republik Indonesia tentang peraturan hukum pidana dicabut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal III. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab Undang-undang Hukum Pidana (Staatsblad 1915 No. 732) seperti beberapa kali diubah, dan terakhir oleh Undang-undang No. 1 tahun 1946 Republik Indonesia, diubah lagi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Sesudah pasal 52 ditambahkan pasal 52a sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 52a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilamana pada waktu melakukan kejahatan digunakan Bendera Kebangsaan Republik Indonesia, maka hukuman untuk kejahatan tersebut dapat ditambah dengan sepertiga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Sesudah pasal 142 ditambahkan pasal 142a sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 142a&lt;br /&gt;Barangsiapa menodai Bendera Kebangsaan Negara sahabat, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun atau denda setinggi-tingginya tiga ribu rupiah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Sesudah pasal 154 ditambahkan pasal 154a sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasal 154a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa menodai Bendera Kebangsaan Republik Indonesia dan Lambang Negara Republik Indonesia, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun atau denda setinggi-tingginya tiga ribu rupiah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal IV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-undang ini mulai berlaku pada hari diundangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan undang-undang ini dengan penempatan dalam Lembaran-Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disahkan di Jakarta pada tanggal 20 September 1958. &lt;br /&gt;Presiden Republik Indonesia, &lt;br /&gt;ttd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUKARNO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diundangkan pada tanggal 29 September 1958. &lt;br /&gt;Menteri Kehakiman, &lt;br /&gt;ttd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G.A. MAENGKOM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMORI PENJELASAN MENGENAI USUL UNDANG-UNDANG TENTANG MENYATAKAN BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG No. 1 TAHUN 1946 REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERATURAN HUKUM PIDANA UnTUK SELURUH WILAYAH REPUBLIK INDONESIA DAN MENGUBAH KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UMUM. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah dirasakan sangat ganjil bahwa hingga kini di Indonesia masih berlaku dua jenis Kitab Undang-undang Hukum Pidana yakni:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Kitab Undang-undang Hukum Pidana menurut Undang-undang No. 1 tahun 1946 Republik Indonesia;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2."Wetboek van Strafrecht voor Indonesia" (Staatsblad 1915 No. 732) seperti beberapa kali diubah; &lt;br /&gt;yang sama sekali tidak beralasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya Undang-undang ini maka keganjilan itu ditiadakan. Dalam pasal I ditentukan bahwa Undang-undang No. 1 tahun 1946 Republik Indonesia dinyatakan berlaku untuk seluruh wilayah Republik Indonesia. Kesempatan ini dipergunakan pula untuk mengadakan perubahan/ penambahan dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana tersebut berhubung dengan ditetapkan Peraturan-peraturan Pemerintah tentang Bendera Kebangsaan Republik Indonesia, tentang Penggunaan Bendera Asing di Indonesia dan tentang Penggunaan Lambang-Negara Republik Indonesia (Lembaran-Negara tahun 1958 No. 68, No. 69 dan No. 71). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana telah dimaklumi, maka sebelum dikeluarkan Peraturan Pemerintah tentang Bendera Kebangsaan Asing, Lambang-Negara dan Penggunaan Bendera Kebangsaan Asing, telah ada Undang-undang No. 1 tahun 1946 dari Republik Indonesia bentuk lama (Undang-undang tentang Peraturan Hukum Pidana) yang dalam pasal XVI mengatur ancaman hukuman terhadap penghinaan Bendera Kebangsaan yang berbunyi sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa terhadap Bendera Kebangsaan Indonesia dengan sengaja menjalankan sesuatu perbuatan yang dapat menimbulkan perasaan penghindaan kebangsaan, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya satu tahun enam bulan". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan ini menurut pasal terakhir Undang-undang tadi hanya berlaku bagi Jawa dan Madura, sedang dengan Peraturan Pemerintah No. 8 tahun 1946 Undang-undang ini berlaku pula bagi seluruh Sumatera (Propinsi Sumatera). Dengan lain perkataan, ketentuan dalam pasal XVI tadi hingga sekarang hanya berlaku bagi Jawa (dan Madura) dan Sumatera. Sekarang setelah Peraturan-peraturan Pemerintah tersebut diundangkan, maka perlulah menetapkan aturan-aturan hukuman yang berhubungan dengan Bendera Kebangsaan untuk seluruh Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain dari pada itu perlu pula diadakan aturan hukuman yang berhubungan dengan Bendera Kebangsaan Asing dan Lambang-Negara. Penjelasan lebih lanjut dapat dibaca dalam penjelasan pasal-pasal baru yang diusulkan, yaitu pasal-pasal 52a. 142a dan 154a Kitab Undang-undang Hukum Pidana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJELASAN PASAL DEMI PASAL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal XVI Undang-undang No. 1 tahun 1946 perlu dicabut, karena halnya telah diatur lebih lengkap dalam pasal III sub 2 dan 3 Undang-undang ini, yaitu pasal 142a dan pasal 154a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal III. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 52a Kitab Undang-undang Hukum Pidana. &lt;br /&gt;1. Bendera Kebangsaan dapat dipergunakan untuk melancarkan atau mempermudah terlaksananya sesuatu kejahatan. Orang-orang yang menderita kejahatan itu dipengaruhi oleh bendera tersebut dan memperoleh kesan, bahwa yang melakukan kejahatan bertindak secara resmi. &lt;br /&gt;2. Dalam pasal ini tak ditentukan cara menggunakan Bendera Kebangsaan; hal ini diserahkan kepada praktek; hanya harus diingat, bahwa antara penggunaan bendera dan kejahatan harus tampak hubungan kausal. &lt;br /&gt;3. Tempat pasal tambahan ini dalam titel III, buku I Kitab Undang-undang Hukum Pidana dengan No. 52a dianggap selayaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 142a dan pasal 154a Kitab Undang-undang Hukum Pidana. &lt;br /&gt;1. Karena dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana belum ada ketentuan seperti tersebut dalam pasal-pasal ini, maka dengan adanya Peraturan-peraturan Pemerintah mengenai Bendera Kebangsaan, Lambang-Negara Indonesia dan Bendera Kebangsaan Asing, perlu mengadakan ketentuan termaksud. Betul dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana Tentara terdapat pasal 136 ayat 2 yang berbunyi sebagai berikut: 2e. "hij die het wapen van Indonesie, de Indonesische vlag enz, beschimpt enz." akan tetapi berdasarkan pasal 52 Kitab Undang-undang Hukum Pidana Tentara, pasal 136 tersebut hanya berlaku terhadap orang-orang militer dan orang-orang yang tunduk kepada peradilan militer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menodai ialah perbuatan yang dilakukan dengan sengaja untuk menghina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Susunan kata yang dipakai dalam pasal XVI Undang-undang No. 1 tahun 1946 tidak dipergunakan dalam pasal 142a dan pasal 154a Kitab Undang-undang Hukum Pidana, karena penghinaan terhadap perasaan kebangsaan dimaksud dalam pasal XVI itu sukar ditetapkan, sedang menurut redaksi pasal 142a dan pasal 154a, obyek yang dihina ialah suatu benda tertentu: yaitu Bendera Kebangsaan. Pun redaksi pasal-pasal tersebut sesuai dengan redaksi pasal 136 ayat 2 Kitab Undang-undang Hukum Pidana Tentara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hukuman disesuaikan dengan hukuman dalam pasal 136 Kitab Undang-undang Hukum Pidana Tentara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk Lembaran-Negara No. 127 tahun 1958.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diketahui: Menteri Kehakiman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G.A. MAENGKOM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CATATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*)Disetujui D.P.R. dalam rapat pleno terbuka ke-126 pada tanggal 3 September 1958, pada hari Rabu, P.346/1958 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-8474229951771143944?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/8474229951771143944/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=8474229951771143944' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/8474229951771143944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/8474229951771143944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/uu-nomor-73-tahun-1958.html' title='UU Nomor 73 Tahun 1958'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-4597336934890634169</id><published>2009-01-21T17:31:00.005+07:00</published><updated>2009-11-03T13:04:30.918+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reformasi KUHP'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KUHP dan UU Perubahannya'/><title type='text'>UU NO. 1 TAHUN 1960 TENTANG PENGUBAHAN KITAB UNDANG UNDANG HUKUM PIDANA</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UU NO. 1 TAHUN 1960 &lt;br /&gt;TENTANG PENGUBAHAN KITAB UNDANG UNDANG HUKUM PIDANA *)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Republik Indonesia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimbang :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bahwa ancaman-ancaman hukum terhadap tindak pidana "menyebabkan orang&lt;br /&gt;mati karena kesalahan", "menyebabkan orang luka berat karena kesalahan"&lt;br /&gt;dan "menyebabkan karena kesalahannya, kebakaran, peletusan atau banjir"&lt;br /&gt;dalam pasal-pasal 359, 360 dan 188 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana&lt;br /&gt;terlalu ringan istimewa untuk keadaan lalu-lintas dan keadaan perumahan&lt;br /&gt;dan padatnya penduduk, dikota-kota pada waktu sekarang, sehingga perlu&lt;br /&gt;diperberat;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.pasal-pasal 359, 360 dan 188 "Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.pasal 5 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMUTUSKAN :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menetapkan : Undang-undang tentang Perubahan Kitab Undang-undang Hukum&lt;br /&gt;Pidana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ancaman hukuman dalam pasal-pasal 359, 360 dan 188 Kitab Undang-undang&lt;br /&gt;Hukum Pidana dinaikkan sehingga pasal-pasal tersebut seluruhnya berbunyi&lt;br /&gt;sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 359:Barang siapa karena kesalahannya menyebabkan orang mati,&lt;br /&gt;dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya lima tahun atau hukuman&lt;br /&gt;kurungan selama-lamanya satu tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 360: (1)Barangsiapa karena kesalahannya menyebabkan orang luka berat dihukum penjara selama-lamanya lima tahun atau hukuman kurungan selama-lamanya satu tahun. Barang siapa karena kesalahannya menyebabkan orang luka sedemikian rupa sehingga&lt;br /&gt;orang itu menjadi sakit sementara atau tidak dapat menjalankan jabatan atau pekerjaannya sementara, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya sembilan bulan atau hukuman kurungan selama-lamanya enam bulan atau hukuman denda setinggi-tingginya tiga ratus rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 188:Barang siapa menyebabkan karena kesalahannya kebakaran,&lt;br /&gt;peletusan atau banjir, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya&lt;br /&gt;lima tahun atau hukuman kurungan selama-lamanya satu tahun atau hukuman&lt;br /&gt;denda sebanyak-banyaknya tiga ratus rupiah, jika terjadi bahaya umum&lt;br /&gt;untuk barang karena hal itu, jika terjadi bahaya kepada maut orang lain,&lt;br /&gt;atau jika hal itu berakibat matinya seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-undang ini mulai berlaku pada hari diundangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan&lt;br /&gt;Undang-Undang ini dengan penempatan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disahkan di Jakarta pada tanggal 5 Januari 1960. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUKARNO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diundangkan pada tanggal 5 Januari 1960. MENTERI MUDA KEHAKIMAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAHARDJO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMORI PENJELASAN MENGENAI RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN&lt;br /&gt;KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UMUM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama dirasakan perlu adanya tindakan tegas terhadap keteledoran&lt;br /&gt;orang yang menyebabkan orang mati atau luka berat, teristimewa terhadap&lt;br /&gt;pengemudi-pengemudi kendaraan bermotor, yang karena kelalaian atau&lt;br /&gt;sifatnya kurang mengindahkan nilai jiwa sesama manusia; menyebabkan&lt;br /&gt;terjadi kecelakaan-kecelakaan lalu-lintas berupa tubrukan-tubrukan,&lt;br /&gt;terjerumusnya kendaraan dalam jurang atau kali, atau bergulingnya&lt;br /&gt;kendaraan karena terlampau banyaknya muatan berupa barang atau orang&lt;br /&gt;atau karena putus as atau kebakaran karena kurang perawatan atau&lt;br /&gt;penelitian sebelum mengemudi kendaraan itu, yang semuanya itu meminta&lt;br /&gt;korban manusia. Rupanya ancaman hukuman penjara setahun atau hukuman&lt;br /&gt;kurungan 9 bulan dalam pasal-pasal 359 dan 360 Kitab Undang- undang&lt;br /&gt;Hukum Pidana itu tidak cukup merupakan kekangan, sedangkan kalau hukuman&lt;br /&gt;dijatuhkan meskipun yang terberat, sering dirasakan tidak setimpal&lt;br /&gt;dengan perbuatan yang dilakukannya, sehingga ancaman itu harus&lt;br /&gt;diperberat. Selain itu dalam waktu belakangan ini sering terjadi kebakaran-kebakaran yang disebabkan oleh kelalaian-kelalaian, misalnya kurang hati-hati menyalakan lampu, memasang kompor, menaruh pelita dimana saja dan sebagai akibat kebakaran itu, ialah kerugian besar diderita oleh penduduk sekitarnya. Oleh karena itu perlu diperberat ancaman hukuman terhadap mereka yang karena kelalaian menyebabkan&lt;br /&gt;kebakaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana yang disebabkan karena letusan atau banjir karena kechilafan&lt;br /&gt;seseorang jarang sekali terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian ancaman hukuman terhadap orang-orang yang karena&lt;br /&gt;kekhilafannya menyebabkan bencana-bencana itu perlu juga diperberat&lt;br /&gt;karena apabila bencana itu terjadi akibatnya tidak kurang dari pada&lt;br /&gt;akibat kebakaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkatan-tingkatan mengenai ancaman hukuman yang diadakan dalam pasal&lt;br /&gt;188 tidak dipakai lagi karena seringkali tidak sesuai dengan keadaan&lt;br /&gt;yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umpamanya kebakaran hanya menyebabkan bahaya umum untuk barang, atau&lt;br /&gt;bahaya maut, tetapi kerugiannya yang diderita berjumlah jutaan rupiah,&lt;br /&gt;sehingga perlu memberikan kesempatan pada hakim untuk memberi hukuman&lt;br /&gt;yang sama beratnya, jikalau kebakaran menyebabkan ada orang yang mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PASAL DEMI PASAL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CATATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*)Disetujui D.P.R. dalam rapat pleno terbuka ke-30 pada hari Jum'at&lt;br /&gt;tanggal 4 Desember 1959, P.22/1959&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DICETAK ULANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-4597336934890634169?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/4597336934890634169/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=4597336934890634169' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/4597336934890634169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/4597336934890634169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/uu-no-1-tahun-1960-tentang-pengubahan.html' title='UU NO. 1 TAHUN 1960 TENTANG PENGUBAHAN KITAB UNDANG UNDANG HUKUM PIDANA'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-2897876105912031657</id><published>2009-01-21T17:28:00.002+07:00</published><updated>2009-11-03T13:04:11.335+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reformasi KUHP'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KUHP dan UU Perubahannya'/><title type='text'>UU No 8 TAHUN 1951</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1951&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;PENANGGUHAN PEMBERIAN SURAT IDZIN KEPADA DOKTER DAN DOKTER GIGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Republik Indonesia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimbang : bahwa karena dokter-dokter dan dokter-dokter gigi yang bekerja pada Pemerintah sangat kurang, perlu amat diadakan peraturan yang menjamin agar tambahan tenaga dokter untuk Pemerintah teratur adanya; Mengingat : pasal 42 Undang-undang Dasar Sementara Republik Indonesia; Mendengar : sidang Dewan Menteri tanggal 28 September 1950.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memutuskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menetapkan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG TENTANG PENANGGUHAN PEMBERIAN SURAT IZIN KEPADA DOKTER DAN DOKTER GIGI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Het Reglement op den Dienst der Volksgezondheid" (Staatsblad 1882 No. 97, sebagaimana telah diubah dan ditambah, terakhir dengan Staatsblad 1949 No. 228) ditambah dengan satu pasal baru 43 a, yang bunyinya seperti berikut : (1) Pemberian surat izin, seperti dimaksud dalam pasal 43 "Het Reglement op den Dienst der Volksgezondheid" tersebut, dipertangguhkan kepada :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. mereka yang memperoleh ijazah dokter atau dokter gigi dalam negeri ini;&lt;br /&gt;b. warga negara, yang di negeri lain mendapat ijazah dokter atau dokter gigi yang memberikan hak kepadanya untuk menjalankan pekerjaan dokter atau dokter gigi di negeri ini. (2) Surat izin diberikan setelah mereka sekurang-kurangnya 3 tahun berturut-turut bekerja pada Pemerintah. (3) Barang siapa yang bekerja kepada Pemerintah hanya semata-mata untuk melanjutkan atau menamatkan pelajarannya, maka masa kerja itu tidak dapat dihitung sebagai masa kerja kepada Pemerintah seperti dimaksud dalam ayat (2). (4) Dalam hal yang luar biasa Menteri Kesehatan berkuasa memberikan surat izin dengan menyimpang dari pada yang ditetapkan dalam ayat (1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-undang Hukum Pidana ditambah dengan pasal baru 512a, yang bunyinya seperti berikut : Barang siapa, yang sebagai mata-pencaharian, baik khusus maupun sebagai sambilan, menjalankan pekerjaan dokter atau dokter gigi dengan tidak mempunyai surat izin, di dalam keadaan yang tidak memaksa, dihukum dengan hukuman kurungan paling lama dua bulan atau hukuman denda setinggi-tinggi sepuluh ribu rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-undang ini mulai berlaku pada hari diundangkan. Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disahkan di Jakarta pada tanggal 30 Juni 1951. &lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOEKARNO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENTERI KESEHATAN,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;J. LEIMENA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diundangkan pada tanggal 13 Juli 1951. &lt;br /&gt;MENTERI KEHAKIMAN a.i.,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M.A. PELLAUPESSY. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-2897876105912031657?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/2897876105912031657/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=2897876105912031657' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/2897876105912031657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/2897876105912031657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/undang-undang-republik-indonesia-nomor.html' title='UU No 8 TAHUN 1951'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-2743700913369582600</id><published>2009-01-21T13:22:00.002+07:00</published><updated>2009-11-03T13:03:58.183+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reformasi KUHP'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KUHP dan UU Perubahannya'/><title type='text'>UNDANG-UNDANG NO. 20 TAHUN 1946</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG NO. 20 TAHUN 1946&lt;br /&gt;TENTANG HUKUMAN TUTUPAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimbang:&lt;br /&gt;bahwa perlu mengadakan hukuman pokok baru, selain dari pada hukuman tersebut dalam pasal 10 huruf a Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan pasal 6 huruf a Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Tentara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat :&lt;br /&gt;pasal 20 ayat 1 berhubung dengan pasal IV Aturan Peralihan Undang-Undang Dasar dan Maklumat Wakil Pre¬siden tertanggal 16 Oktober 1945,. No. X;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan persetujuan Badan Pekerja Komite Nasional Pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMUTUSKAN :&lt;br /&gt;Menetapkan:&lt;br /&gt;Peraturan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG TENTANG HUKUMAN TUTUPAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;Selain daripada hukuman pokok tersebut dalam pasal 10 huruf a Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Pasal 6 huruf a Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Tentara adalah hukuman pokok baru, yaitu hukuman tutupan yang menggantikan hukuman penjara dalam hal tesebut dalam pasal 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;(1) Dalam mengadili orang yang melakukan kejahatan yang diancam dengan hukuman penjara, karena ter¬dorong oleh maksud yang patut dihormati, hakim bo¬leh menjatuhkan hukuman tutupan.&lt;br /&gt;(2) Peraturan dalam ayat 1 tidak berlaku jika perbuatan yang merupakan kejahatan atau cara melakukan per¬buatan itu atau akibat dari perbuatan tadi adalah demikian sehingga hakim berpendapat, bahwa hukum¬an penjara lebih pada tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;(1) Barang siapa dihukum dengan hukuman tutupan, wa¬jib menjalankan pekerjaan yang diperintahkan kepa¬danya menurut peraturan-peratwan yang ditetapkan berdasarkan pasal5.&lt;br /&gt;(2) Menteri yang bersangkutan atau pegawai yang ditun¬juknya berhak atas permintaan terhukum membebas¬kannya dari kewajiban yang dimaksudkan dalam ayat 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;Semua peraturan yang mengenai hukuman penjara ber¬laku juga terhadap hukuman tutupan, lika peraturan-per¬aturan itu tidak bertentangan dengan sifat atau peraturan khusus tentang hukuman tutupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;(1) Tempat untuk menjalani hukuman tutupan cara me¬lakukan hukuman itu dan segala sesuatu yang perlu untuk menjalankan undang-undang ini diatur dalam peraturan pemerintah.&lt;br /&gt;(2) Peraturan tata-usaha atau tata-tertib guna rumah buat menjalankar, hukuman tutupan diaiur oleh Menteri Kehakiman dengan persetujuan Menteri Pertahanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;Undang-undang ini mulai berlaku pada hari pengu¬mumannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditetapkan di Jogyakarta pada tanggal 31 Oktober 1946&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt; ttd. &lt;br /&gt;SOEKARNO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENTERI KEHAKIMAN, &lt;br /&gt;ttd. &lt;br /&gt;SOESANTO TIRTOPRODJO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diumumkan pada tanggat l Nopember 1946 &lt;br /&gt;SEKRETARIS NEGARA, &lt;br /&gt;ttd. &lt;br /&gt;A.G. PRIINGGODIGDO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENTERIPERTAHANAN, &lt;br /&gt;ttd. &lt;br /&gt;AMIR SJARIFOEDIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-2743700913369582600?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/2743700913369582600/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=2743700913369582600' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/2743700913369582600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/2743700913369582600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/undang-undang-no-20-tahun-1946.html' title='UNDANG-UNDANG NO. 20 TAHUN 1946'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-5884171608948775784</id><published>2009-01-21T13:02:00.004+07:00</published><updated>2009-11-03T13:03:37.732+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reformasi KUHP'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KUHP dan UU Perubahannya'/><title type='text'>UNDANG-UNDANG NO. 1 TAHUN 1946</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG NO. 1 TAHUN 1946 &lt;br /&gt;TENTANG &lt;br /&gt;PERATURAN HUKUM PIDANA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimbang:&lt;br /&gt;bahwa sebelum dapat melakukan pembentukan Undang-Undang hukum pidana baru, perlu peraturan hukum pidana disesuaikan dengan keadaan sekarang;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimbang :&lt;br /&gt;akan pasal 5 ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945 Aturan Peralihan Undang-Undang Dasar serta Peraturan Presiden Republik Indonesia tertanggal 10 Oktober 1945 No. 2;&lt;br /&gt;Dengan persetujuan Badan Pekerja Komite Nasional Pusat;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMUTUSKAN :&lt;br /&gt;Menetapkan :&lt;br /&gt;peraturan sebagai berikut :&lt;br /&gt;UNDANG-l'NDANG TENTANG PERATURAN HUKUM PIDANA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal I&lt;br /&gt;Dengan menyimpang seperlunya dari peraturan Presiden Republik Indonesia tertanggal lO.Oktober 1945 No. 2 menetapkan, bahwa peraturan-peraturan hukum pidana yang sekarang berlaku, ialah peraturan-peraturan hukum pidana yang ada pada tanggal 8 Maret 1942.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;Semua peraturan hukum pidana yang dikeluarkan oleh panglima tertinggi balatentara Hindia-Belanda dulu (veror-deningen van het Militair Gezag) dicabut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;Jikalau dalam sesuatu peraturan hukum pidana tertulis perkataan-perkataan "Nederlandsch-Indie" atau "Nederlandsch-Indisch (e) (en)", maka perkataan-perkataan itu harus dibaca "Indonesia" atau "Indonesisch (e) (en)".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;Jikalau di dalam sesuatu peraturan hukum pidana suatu hak, kewajiban, kekuasaan atau perlindungan diberikan atau suatu larangan ditujukan kepada sesuatu pegawai, badan, jawatan dan sebagainya, yang sekarang tidak ada lagi, maka hak, kewajiban, kekuasaan atau perlindungan itu harus dianggap diberikan dan larangan tersebut ditujukan kepada pegawai, badan, jawatan dan sebagainya, yang harus dianggap menggantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;Peraturan hukum pidana, yang seluruhnya atau sebagian sekarang tidak dapat dijalankan, atau bertentangan dengan kedudukan Republik Indonesia sebagai negara merdeka, atau tidak mempunyai arti lagi, harus dianggap seluruhnya atau sebagian sementara tidak berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;(1) Nama Undang-Undang Hukum Pidana "Wetbcek van Strafrecht voor Nederlandsch-Indie" dirobah menjadi "Wetboek van Strafrecht".&lt;br /&gt;(2) Undang-Undang tersebut dapat disebut: "Kitab Undang-Undang Hukum Pidana".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;Dengan tidak mengurangi apa yang ditetapkan dalam pasal 3, maka semua perkataan "Nederlandsch-onderdaan" dalam Kitab Undang-Undang Hukum 'Pidana diganti dengan "Warga Negara Indonesia".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 8&lt;br /&gt;Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dirobah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Dalam pasal 4, ayat 1 ke le angka-angka "104.108 harus dibaca "104, 106, 107 en 108" dan angka-angka "103-133 dibaca "131".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Perkataan "Directeur van Justitie" dalam pasal 15b diganti dengan "Minister van Justitie".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pasal 16 dirobah sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Perkataan "Directeur van Justitie" harus dibaca "Minister van Justitie".&lt;br /&gt;b. bagian kalimat voorzoover betreft de Gouvernement¬slanden van Java en Madoera, van den assistant¬resident en elders van het hoofd van plaatselijk bes¬tuur" diganti dengan "van den jaksa" dan perkata¬an "Gouverneur-Generaal" dlganti dengan "Minister van Justitie".&lt;br /&gt;c. bagian kalimat : "in de Gouvernementslanden van Java en Madoera op bavel den assistent-resident en elders van het hoofd van plaatselijk bestuur" dalam ayat 3 diganti dengan "op bevel van den Jaksa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dalam pasal 20 perkataan "het hoofd van plaatselijk bestuur (den agsisten-resident)" diganti dengan "den jaksa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Dalam pasal 21, perkataan "Directeur van Justitie" diganti dengan "Minister van Justitie".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Dalvm pasal 29, ayat (2)m perkataan "Directeur van justitie" diganti dengan "Minister van Justitie".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Dalam pasal 33a, perkataan "Gouverneur-Generaal", diganti dengan "President".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Dalam pasal 44, ayat 3, perkataan "de Europeesche rechtbanken, diganti dengan "Mahkamah Agung, Peng¬adilan Tinggi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Pasal 76 dirobah sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. bagian kalimat, "of van den rechter in Nederland of in Suriname of in Curacao", dihapuskan.&lt;br /&gt;b. perkataan "inheemsche" dan "Inlandsche" dihapus¬kan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lO.Dalam pasal 92, bagian kalimat : "den Volksraad, van den proviciale raden en van de raden ingesteld inge¬volge artikel 121, Iweede lid en artikel 124 tweede lid der Indische Staatsregeling" diganti dengan "en door of namens de regeering ingesteld wetgevend, besturend of volksvertegenwoordigend lichaam".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.Pasa1 94 dihapuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.Dalam pasal 104 perkataan-perkataan "den Koning, de regeerende Koningin of den Regent" diganti de¬ngan "den President of den Vice-President".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.Pasal 105 dihapuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.Dalam pasal 110 ayat (1) dan ayat (2) angka-angka "104-108" 6arus dibaca "104-106-107 en 108".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15.Dalam pasal 111 perkataan "hetzij" dan bagian kalimat "hetzij met een Indische vorst of volk" dihapuskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.Dalam pasal 112 dan 121 bagian kalimat "een Indische vorst of volk" dihapuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17.Dalam pasal 117 No. 3 perkataan "Gouverneur-Gene¬raal van Nederlandsch-Indie" harus dibaca "President". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18.Dalam pasal 122 dan 123 perkataan "Nederland" ha¬rus dibaca "lndonesie".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19.Dalam pasal 128 bagian kalimat "een der in de arti¬kelen 104 en 105 omschreven misdrijven" diganti dengan "het in artikel 104 omschreven misdrijf".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20.Kepala Bab II diganti sebagai berikut : "Misdrijven te¬gen de waardigheid van den President en van den Vice¬President".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21.Pasa1130 dihapuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22.Dalam pasal 131 perkataan "des Konings of der Koningin" diganti dengan "van den President of van den Vice-President".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23.Pasal 132 dan 133 dihapuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24.Dalam pasal 134 perkataan-perkataan "Koning of der Koningin diganti dengan "president"of den Vice-Pre¬sident".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25.Pasa1-pasal 135 dan 136 dihapuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26.Dalam pasal 136 bis bagian kalimat: "de artikelen 134, 135 en 136" harus dibaca "artikel 134".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27.Dalam pasal 137 bagian kalimat: "den Koning, de Ko¬ningin; den gemaal der regeerende Koningin, den tro¬onopvolger, een lid van het Koninklijk Huis of den Regent" harus dibaca "den President of den Vice¬President".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28.Pasa1 138 dihapuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29.Pasa1 139 dirobah sebagai berikut : a. ayat(1) dihapuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. dalam ayat (2) bagian kalimat: "een der in de arti¬kelen 131-133 omschleven misdrijven" harus dibaca "het in artik,el 131 omschreven misdrijf'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. dalam ayat (3) bagian kalimat: "een der artikelen 134-136 omschreven misdrijven" harus dibaca "het art. 134 - omschreven misdrijf".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30.Perkataan "Nederlandsche" dalam pasal 143 dan 144 harus dibaca "Indonesische".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31.Dalam pasal 146 clan 147 bagian-bagian kalimat: "den Volksraad, van een provinciaten raad of van een raad ingesteld ingevolge artikel 121 tweede lid, dan wel ingevolge artikel 124 tweede lid, der Indische Statas¬regeling" harus dibaca "een door of namens de Re¬geering ingesteld wetgevend, besturend of volksverge¬tegenwoordigend lichaam".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32.Pasa1 153 bis dan pasal 153 ter dihapuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;33.Dalam pasal 154 dan 155 bagian kalimat: "Nederland of van Nederlandsch-Indie" harus dibaca "Indonesie". 34.Pasal 161 bis dihapuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;35.Dalam pasal 164 angka-angka "104-108" dan "115-133" masing-masing harus dibaca "104, 106, 107 en 108" dan "115-129 en 131".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;37.Pasa1171 dihapuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;38.Dalam pasal 207- dan 208 bagian kalimat: "Nederland of in Nederlandsch-Indie" harus dibaca "Indonesie". 39.Dalam pasal 210 ayat (1) ke 2 bagian kalimat: "dan wel van een inlandschen officier van Justitie" dihapus¬kan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;40.Dalam pasal 228 bagian kalimat: "vier maanden en twee weken" diganti dengan "twee jeren".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;41.Pasal 230, dihapuskan. Pasa1171 dihapuskan&lt;br /&gt;42.Dalam pasal 234 di belakang perkataan-perkataan "in een postbus gestoken" ditambah dengan perkataan "dan well aan een koerier toevertrouwd".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;43.Dalam pasal 238 perkataan "Gouverneur-Generaal" harus dibaca"Presiden"&lt;br /&gt;44.Pasal 239 dirobah sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. bagian kalimat: "buiten de gevallen waarin het krach¬ten algemeene verordening veroorloofd is, zonder toestemming van den Gouverneur-Generaal" dihapus¬kan.&lt;br /&gt;b. perkataan "Inlander" diganti dengan "Warga Negara Indonesia".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;45.Dalam ppsal 240 ayat (1) No. I bagian kalimat: "167 der Indische Staatsregeling" harus dibaca "30 der Un¬dang-Undang Dasar".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;46.Dalam pasal 253 clan 260 perkataan-perkataan "van rij-kswege of' dihapuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;47.Dalam pasal 260 bis bagian-bagian kalimat : "hetzij Suriname of Curacao" dan "hetzij, voorzoover merken betreft van Nederland" dihapuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;48.Dalam pasal 274 perkataan "Inlandsch" dihapuskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;49. Dalam pasal 420, ayat (1) No. 2 bagian kalimat: "van wel de Inlandsche Officier van Justitie die" dihapus¬kan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;50. Dalam pasal 447, 448 dan 449 perkataan "Nederlandsch of" dihapuskan.&lt;br /&gt;51.Dalam pasal 450 dan 451 perkataan "Nederlandsche Reggering" diganti dengan "Indonesische Regeering". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;52.Dalam pasal-pasal 453-454, 455 dan 458 ayat (1) perka taan "Nederlandsch of' dihapuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;53.Dalam pasal 458 ayat (2) perkataan "Nederlandschen" diganti dengan "Indonesischen".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;54.Dalam pasal 459 ayat (1), 461, 463, 464 ayat (1), 466, 467, ,468, 469 ayat (1), 470 dan 471 perkataan "Neder¬landsch of' dihapuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;55.Dalam pasal 473 dan 474 perkataan-perkataan "Neder-landsch.(e)" diganti dengan "Indonesisch (e)". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;56.Dalam pasal-pasal 475, 476 dan 477 perkataan-perka¬taan "Nederlandsch of' dihapuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;57.Pasa1 487 dirobah sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. angka-angka dan perkataan-perkataan "130, eerste lid dan 105" dihapuskan.&lt;br /&gt;b. angka-angka "131-133" harus dibaca "131".&lt;br /&gt;58.Dalam pasal 490 no. 4 bagian kalimat "aan het hoofd van plaatselijk bestuur" den assistent-resident diganti dengan "aan het Hoofd van de politie".&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;59. Dalam pasal 495, ayat (1) bagian kalimat: "bet hoofd van plaatselijk bestuur" den regent diganti dengan "bet hoofd van de politie".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;60.Dalam pasal 496 bagian kalimat: "bet hoofd van plaat¬selijk bestuur" den assistent-resident diganti dengan "bet hoofd van de politie".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;61. Dalam pasal 500 bagian kalimat: "bet hoofd van plat¬selijk bestuur" de resident, diganti dengan "bet hoofd van de politie".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;62. Dalam pasal 501 ayat (1) no. 2 bagian kalimat: "bet hoofd van plaatselijk bestuur" de assistent-resident di¬ganti dengan "bet hoofd van de politie".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;63.Pasal 507 dirobah sebagai berikut : &lt;br /&gt;a. bagian "le" dibaca demikian:&lt;br /&gt;"hij, die zondgr daartoe gerechtigd to zijn, een In-donesischen adelijken titel voert, of een Indoesischen ordeteeken draagt".&lt;br /&gt;b. perkataan-perkataan "s Konings verlof" harus dibaca "verlof van den President".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;64.Dalam pasal 508 bis bagian kalimat: "van een zelfstan-dige gemeenschap als bedoeld in artikel 121 eerste ,od pf artikel 123 tweede lid der Indische Staatsregeling clan welvan een waershcap harus dibaca "van een bij de wet investelde of erkende zelfstandige gemeensehap".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;65. Dalam pasal 510 bagian kalimat: "bet hoofd van plaat¬&lt;br /&gt;selijk bestuur" den resident harus dibaca "bet hoofd van &lt;br /&gt;de politie".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;66.Dalam pasal 516 bagian kalimat: "bet hoofd van plaa`t-selijk bestuur of aan de door dezen aangewezen" dan door den resident aan te wijzen harus dibaca "bet hoofd van de politie of den door dezen aangewezen".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;67.Dalam pasal 542 bagian kalimat: "bet hoofd van plaat¬selijk bestuur" den assistent-resident harus dibaca "den daartoe aangewezen ambtenaar"&lt;br /&gt;68. Dalam pasal 544 (1) bagian kalimat : "bet hoofd van plaatselijk bestuur" den regent harus dibaca "bet hoofd van de politie".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 9&lt;br /&gt;Barang siapa membikin benda semacam mata uang kertas dengan maksud untuk menjalankannya atau menyu¬ruh menjalankannya sebagai alat pembayaran yang syah,&lt;br /&gt;dihukum dengan hukuman penjara, setinggi-tingginya lima belas tahun.&lt;br /&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;Barang siapa dengan sengaja menjalankan sebagai alat pembayaran yang sah mata uang atau uang kertas sedang ia sewaktu menerimanya mengetahui atau setidak-tidaknya patut dapat menduga bahwa benda-benda itu oleh pihak Pemerintah tidak diakui sebagai alat pembayaran yang sah, atau dengan maksud untuk menjalankannya atau menyu= ruh menjalankannya sebagai alat pembayaran yang sah, menyediakannya atau memasukkannya ke dalam Indonesia, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya lima belas tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal ll&lt;br /&gt;Barangsiapa dengan sengaja menjalankan sebagai alat pembayaran yang sah mata uang kertas yang dari pihak Pemerintah tidak diakui sebagai alat pembayaran yang sah dalam hal di luar keadaan sebagai yang tersebut dalam pasal yang baru lalu dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya lima belas tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 12&lt;br /&gt;Barang siapa menerima sebagai alat pembayaran atau penukaran atau sebagai hadiah atau penyimpan atau meng¬angkut mata uang atau uang kertas, sedangkan ia menge¬tahui, bahwa benda-benda itu oleh pihak Pemerintah tidak diakui sebagai slat pembayaran yang sah, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya lima tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 13&lt;br /&gt;Kalau orang dihukum karena melakukan salah satu ke-jahatan seperti tersebut dalam pasal 9, 10, 11 dan 12 maka mata uang atau uang kertasnya serta benda lain yang di¬pergunakan untuk melakukan salah satu kejahatan itu dirampas, juga kalau benda-benda itu bukan kepunyaan terhukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 14&lt;br /&gt;Barangsiapa, dengan menyiarkan berita atau pemberi¬tahuan bohong, dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat; dihukum-dengan hukuman penjara setinggi-tingginya sepuluh tahun.&lt;br /&gt;(2) Barangsiapa menyiarkan suatu berita atau mengeluar¬kan pemberitahuan yang dapat menerbitkan keonaran di kalangan rakyat, sedangkan ia patut dapat me¬nyangka bahwa berita atau pemberitahuan -itu adalah bohong, dihukum dengan penjara setinggi-tingginya tiga tahun.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pasal 15&lt;br /&gt;Barangsiapa menyiarkan kabar yang tidak pasti atau kabar yang berkelebihan atau yang tidak lengkap, sedangkan ia mengerti setidak-tidaknya patut dapat men¬duga bahwa kabar demikian akan atau sudah dapat me¬nerbitkan keonaran di kalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya dua tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 16&lt;br /&gt;Barangsiapa terhadap bendera kebangsaan Indonesia 4engan sengaja menjalankan sesuatu perbuatan yang dapat menimbulkan perasaan penghinaan kebangsaan, dihukwn dengan hukuman penjara setinggi-tingginya satu tahun enam bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 17&lt;br /&gt;Undang-Undang ini mulai berlaku buat pulau Jawa dan Madura pada hari diumumkannya dan buat daerah lain pada hari yang akan ditetapkan oleh Presiden.&lt;br /&gt;Agar undang-undang ini diketahui umum, maka d1¬perintahkan supaya diumumkan sebagai biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditetapkan di Jogyakarta pada tanggal 26 Pebruari 1946 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, ttd. SOEKARNO&lt;br /&gt;MENTERI KEHAKIMAN, ttd. SOEWANDI&lt;br /&gt;Diumumkan pada tanggal 26 Pebruari 1946 SEKRETARIS NEGARA, ttd. A.G. PRINGGODIGDO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;       &lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;                &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-5884171608948775784?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/5884171608948775784/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=5884171608948775784' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/5884171608948775784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/5884171608948775784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2009/01/undang-undang-no-1-tahun-1946.html' title='UNDANG-UNDANG NO. 1 TAHUN 1946'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-7181881925837201043</id><published>2008-12-22T15:17:00.005+07:00</published><updated>2009-07-07T18:20:27.981+07:00</updated><title type='text'>Terima Kasih Ibu, Majulah Perempuan Indonesia</title><content type='html'>”......pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan untuk menjadi saingan laki-laki. Tapi ....agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke tangannya yaitu menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. [dikutip dari Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;22 Desember, 80 tahun yang lalu tepatnya pada tahun 1928, para pejuang perempuan Indonesia untuk kali pertama berkumpul dalam sebuah kongres perempuan yang diselenggarakan di Yogyakarta di sebuah gedung yang sekarang dikenal Mandalabhakti Wanitatama. Kongres yang menghasilkan Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) ini di anggap sebagai tonggak sejarah perjuangan perempuan Indonesia. Sebagai simbul perjuangan kaum perempuan, Presiden Sukarno melalui Dekrit Presiden Nomor 316 Tahun 1959 menetapkan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, hari itu bukan awal dari pergerakan perempuan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelumnya, muncul sejumlah pejuang pemajuan perempuan Indonesia. R.A. Kartini, misalnya, melalui surat-suratnya telah membuka mata dunia tentang pentingnya memperjuangkan hak perempuan sesuai kodratnya untuk bersama laki-laki memperbaiki kualitas hidup manusia. Tulisan-tulisan emasnya tersebut dikumpulan dalam sebuah buku&lt;br /&gt;yang berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Door Duisternis Tot Lich&lt;/span&gt;t&lt;/span&gt;- dari gelap kepada cahaya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Door Duisternis Tot Lich&lt;/span&gt;t&lt;/span&gt; sendiri diilhami dari penggalan kalimat dalam surah Al-Baqarah ayat 257 yaitu Minazh-Zhulumaati ilan Nuur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinta sejarah juga mencatat nama Dewi Sartika. Pejuang pemajuan perempuan melalui pendirian Sakolah Istri (kemudian berubah menjadi Sakola Kautamaan Istri- Sekolah Keutamaan Perempuan) pada tahunn 16 Januari 1904. Atau, Nyai Achmad Dahlan, yang mendirikan pengajian wanita Sopo Tresno (siapa cinta) tahun 1914 yang kini menjadi organisasi Aisyiyah sebuah organisasi perempuan yang terus memperjuangkan hak-hak perempuan di Indonesia hingga saat ini. Atau, deretan nama lain yang tidak kalah kukuhnya memperjuangkan hak perempuan di Indonesia jauh sebelum kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rentetan perjuang kaum perempuan tersebut merupakan wujud kesetaraan dan kualitas manusia Indonesia. Peringatan Hari Ibu, bukan untuk sekedar menyanjung dan bersimpuh dikaki ibu. Peringatan 22 Desember juga bukan hanya untuk memuja perempuan atau memanjakannya. Kita (kaum laki-laki dan perempuan) seharusnya menjadikan perempuan sebagai pelaku perubahan. Tidak ada alasan untuk menempatkan perempuan sebagai insan nomor dua. Sinergi positif tanpa membedakan jender lebih dikedepankan untuk pembaruan kualitas manusia di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih Ibu, Majulah Perempuan Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ada ibu, Aku ada.&lt;br /&gt;Karena ibu pula Aku terus berdiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama perempuan, aku maju&lt;br /&gt;Berjalan beriring bersama menggapai cita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu, engkaulah guru pertamaku&lt;br /&gt;Terima kasih ibu, belaianmu semangat hidupku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan, engkaulah teman pertamaku&lt;br /&gt;Majulah perempuan, bersamamu untuk mewujudkan citra, cinta, dan cita anak Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih ibu,&lt;br /&gt;Majulah Perempuan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 22 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin PayPal Logo --&gt;&lt;A HREF="https://www.paypal.com/id/mrb/pal=QTDNP7ZWFMLWU" target="_blank"&gt;&lt;IMG  SRC="http://images.paypal.com/en_US/i/bnr/paypal_mrb_banner.gif" BORDER="0" ALT="Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly."&gt;&lt;/A&gt;&lt;!-- End PayPal Logo --&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;      [FM82309-8]                 &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-7181881925837201043?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/7181881925837201043/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=7181881925837201043' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/7181881925837201043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/7181881925837201043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2008/12/terima-kasih-ibu-majulah-perempuan.html' title='Terima Kasih Ibu, Majulah Perempuan Indonesia'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-1755978886091127104</id><published>2008-12-22T11:38:00.001+07:00</published><updated>2009-07-07T18:21:48.025+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reformasi KUHP'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='6. Adnan Buyung Nasution'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reformasi KUHAP'/><title type='text'>PRAPERADILAN VERSUS HAKIM KOMISARIS</title><content type='html'>PRAPERADILAN VERSUS HAKIM KOMISARIS&lt;br /&gt;Beberapa Pemikiran mengenai Keberadaan Keduanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. (JUR.) ADNAN BUYUNG NASUTION&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama saya menyambut gembira hadirnya Rancangan Undang-Undang (RUU) Hukum Acara Pidana ini, sebagai pembaharuan terhadap UU No. 8 Tahun 1981 mengenai Hukum Acara Pidana atau disebut Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Sekalipun ketika KUHAP tersebut dibuat (tahun 1970-an sampai diundangkan tahun 1981), sudah merupakan pembaharuan total dari kitab undang-undang hukum acara pidana kolonial, Herziene Indische Reglement (HIR), sehingga kita banggakan sebagai salah satu “masterpiece” dalam hukum nasional. Namun harus diakui bahwa setelah berjalan lebih dari dua decade, ternyata banyak kekurangan dan kelemahan yang ditemukan dalam praktek, sehingga timbul kebutuhan baru yang mendesak untuk diperbaiki. Hal ini wajar karena sesuai dengan dinamika perkembangan dan pertumbuhan masyarakat demokratis yang menuntut adanya pemabaruan hukum secara berlaka atau dengan perkataan lain hukum yang responsive.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, terhadap RUU KUHAP tersebut khusus mengenai rencana untuk menggantikan lembaga Praperadilan dengan model Hakim Komisaris, saya berbeda pendapat. Oleh karena itu, sewaktu Panitia meminta saya menulis paper dengan judul “Beberapa Pemikiran mengenai Keberadaan Hakim Komisaris sebagai Pengganti Lembaga Praperadilan”, saya ubah judul paper saya menjadi “Praperadilan versus Hakim Komisaris, Beberapa Pemikiran mengenai Keberadaan Keduanya”. Sebab, judul yang diminta berasumsi, seolah-olah kita sudah menerima penggantian lembaga praperadilan dengan Hakim Komisaris. Padahal saya berpendapat, meskipun terdapat beberapa kekurangan dan kelemahan, secara prinsip lembaga praperadilan masih perlu dipertahankan, tentu saja dengan beberapa perbaikan dan penyempurnaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Lahirnya Praperadilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih memehami keberadaan lembaga praperadilan yang ada sekarang ini, perlu kiranya dijelaskan latar belakang sejarah kelahirannya sehingga masuk ke dalam Hukum Acara Pidana yang berlaku. Saya mengetahui secara persis karena terlibat secara langsung dalam proses permulaan kelahirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu RUU Hukum Acara Pidana diajukan oleh Pemerintah dibawah menteri Kehakiman Mudjono, S.H. (alm) ke DPR pada akhir tahun 1979, timbul reaksi keras dari masyarakat baik dari kalangan LBH/YLBHI, Persatuan Advokat Indonesia (Peradin), Akdemisi maupun kalangan pers, yang mengganggap bahwa RUU tersebut amat buruk, bahkan lebih jelek dari HIR yang akan digantikannya. Rancangan itu dianggap masih saja berorientasi pada kekuasaan dan tidak cukup melindungi hak-hak asasi tersangka ataupun terdakwa yang selama berpuluh tahun dibawah HIR tidak dilindungi. Ketika itu muncul “Komite Aksi Pembela Pancasila dalam KUHAP”, yang terdiri dari gabungan LBH/YLBHI dan LBH-LBH kampus, para akademisi dan wakil-wakil pers, yang menolak dan menuntut pada pemerintah agar RUU tersebut dicabut. Dan sebagai penggantinya Komite mengajukan usul tandingan, demikian juga Peradin mengajukan RUU tandingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan antara  delegasi Komite bersama Peradin dengan pihak Pemerintah yang dipimpin Menteri Kehakiman Mudjono, S.H., Pemerintah menolak mencabut RUU KUHAP namun menyetujui untuk membuat draft yang baru bersama DPR dengan masukan-masukan baik dari Komite, maupun Peradin dan lembaga-lembaga lainnya. Mak KUHAP sebenarnya merupakan draft baru sama sekali yang dibuat langsung di DPR oleh Pansus DPR bersama Pemerintah dengan masukan-masukan dari masyarakat sehingga benar-benar merupakan undang-undang yang demokratis, dengan meninggalkan RUU yang dibuat pemerintah sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hal baru yang merupakan terobosan dalam pembuatan undang-undang baru itu adalah gagasan lembaga praperadilan, yang kebetulan  saya sendirilah penggagas awalnya. Gagasan ini secara resmi diajukan dalam pertemuan dengan Menteri Mudjono, oleh “Komite Pembela Pancasila dalam KUHAP”, dan didukung oleh Peradin untuk menggantikan model Hakim Komisaris yang ada dalam RUU versi Pemerintah ketika itu, Menteri Mudjono menerima baik gagasan tersebut, dan meminta saya dibantu beberapa ahli, antara lain Saudara Gregory Churcill, lawyer Amerika yang mengajar di UI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar Pemikiran Lembaga Praperadilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan lembaga praperadilan lahir dari inspirasi yang bersumber dari adanya hak Habeas Corpus dalam sistem peradilan Anglo Saxon, yang memberikan jaminan fundamental terhadap hak asasi manusia khususnya hak kemerdekaan. Habeas Corpus Act memberikan hak pada seseorang untuk melalui  suatu surat perintah pengadilan menuntut (menantang) pejabat yang melakukan penahanan atas dirinya (polisi ataupun jaksa) membuktikan bahwa penahanan tersebut adalah tidak melanggar hukum (ilegal) atau tegasnya benar-benar sah sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Hal ini untuk menjamin bahwa perampasan ataupun pembatasan kemerdekaan terhadap seorang tersangka atau terdakwa itu benar-benar telah memenuhi ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku maupun jaminan hak-hak asasi manusia. Surat perintah habeas corpus ini dilekuarkan oleh pengadilan pada pihak yang sedang menahan (polisi atau jaksa) melalui prosedur yang sederhana langsung dan terbuka sehingga dapat dipergunakan oleh siapapun. Bunyi surat perintah habeas corpus (the writ of habeas corpus) adalah sebagai  berikut: “Si tahanan berada dalam penguasaan Saudara. Saudara wajib membawa orang itu di depan pengadilan serta wajib menunjukan alasan yang menyebabkan penahanannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip dasar habeas corpus ini memberikan inspirasi untuk menciptakan suatu forum yang memberikan hak dan kesempatan kepada seseorang yang sedang menderita karena dirampas atau dibatasi kemerdekaannya untuk mengadukan nasibnya sekaligus menguji kebenaran dan ketepatan dari tindakan kekuasaan berupa penggunaan upya paksa (dwang middelen), baik penangkapan, penahanan, penggeledahan, penyitaan maupun pembukaan surat-surat yang dilakukan oleh pihak kepolisian ataupun kejaksaan ataupula kekuasaan lainnya. Hal ini dilatarbelakangi oleh situasi dan kondisi saat itu dimana sering terjadi perkosaan hak asasi tersangka atau terdakwa oleh penyidik dan jaksa penuntut umum, karena tidak adanya suatu lembaga atau mekanisme yang dapat menilai dan menguji apakah tindakan upaya paksa yang dilakukan telah sesuai dengan ketentuan hukum atau tidak. Seorang tersangka atau terdakwa yang ditangkap atau ditahan, seolah-olah berada dalam suatu “ruangan gelap” dan tidak berdaya sama sekali (helpless). Saya sendiri mengalaminya dan dapat merasakan bagaimana tidak berdayanya seseorang yang tiba-tiba direnggut kemerdekaannya dan dijebloskan dalam sel penjara tanpa surat perintah penahanan tanpa sempat didengan dan diperiksa terlebih dahulu, dan sama sekali tidak bisa berhubungan dengan dunia luar termasuk keluarga, atau dengan perkataan lain, dengan serta merta menjadi incommunicado. Pada saat itulah terbayang dalam pikiran saya, perlunya suatu forum terbuka yang memberikan hak berupa upaya hukum pada seseorang untuk melawan atau menggugat tindakan penahanan sewenang-wenang yang dilakukan oleh penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sistem peradilan kitapun menganut asas praduga tidak bersalah, yang artinya setiap orang yang disangka atau diduga keras telah melakukan tindak pidana wajib dianggap tidak bersalah sampai dibuktikan kesalahannya oleh suatu putusan pengadilan melalui sidang peradilan yang terbuka, bebas dan tidak memihak. Maka orang tersebut haruslah dijunjung dan dilindungi hak asasinya. Namun pada kenyataannya dalam mencari pembuktian terhadap orang yang baru disangka atau diduga melakukan tindak pidana, pihak penyidik atau penuntut umum seringkali langsung saja menggunakan upaya paksa (dwang middelen) tanpa dipenuhinya syarat-syarat formil terutama syarat-syarat materiil dalam hal penangkapan maupun penahanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengawasan dan penilaian terhadap upya paksa yang digunakan inilah yang tidak kita miliki dalam tingkatan pemeriksaan pendahuluan di masa berlakunya HIR. Memang pada masa itu ada semacam pengawasan oleh hakim yakni dalam hal perpanjangan waktu penahanan sementara yang harus dimintakan persetujuan hakim (pasal 83 C ayat 4, HIR). Namun dalam praktek kontrol hakim ini kurang dirasakan manfaatnya, karena tidak efektif mengingat urusan perpanjangan penahanan oleh hakim itu bersifat tertutup dan semata-mata dianggap urusan birokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses tersebut, semua surat permohonan perpanjangan penahanan secara serta merta tanpa diperiksa lagi langsung sajadi tandatangani oleh hakim ataupun petugas yang ditunjuk oleh hakim. Akibatnya banyak penahanan yang berlarut-larut sampai bertahun-tahun dan korban yang bersangkutan tidak memiliki hak dan upaya hukum apapun yang tersedia baginya untuk melawan kesewenang-wenangan yang menimpa dirinya. Dia hanya pasrah pada nasib, dan menunggu belas kasihan dari hakim untuk membebaskannya kelak di muka pemeriksaan persidangan pengadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman empiris pribadi saya seperti diuraikan di atas dan kondisi objektif inilah yang melahirkan inspirasi untuk mengambil prinsip-prinsip dalam habeas corpus dari sistem Anglo Saxon yang memberikan hak sekaligus jaminan fundamental kepada seorang tersangka atau terdakwa untuk melakukan tuntutan ataupun gugatan terhadap pejabat (polisi atau jaksa) yang menahannya agar membuktikan bahwa penahanan itu benar-benar sah dan tidak melanggar hak asasi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidang praperadilan yang diadakan atas permintaan tersangka atau terdakwa ataupun keluarganya ataupula atas kuasanya merupakan suatu forum yang terbuka, yang dipimpin seorang hakim atau lebih untuk memanggil pihak penyidik atau jaksa penuntut umum yang telah melakukan upaya paksa agar mempertanggungjawabkan tindakannya di muka forum yang bersangkutan, apakah benar-benar beralasan dan berlandaskan hukum. Dengan sistem pengujian melalui sidang terbuka ini, maka tersangka atau terdakwa seperti halnya dalam Habeas Corpus Act, dijamin hak asasinya berupa hak dan upaya hukum untuk melawan perampasan atau pembatasan kemerdekaan yang dilakukan secara sewenang-wenang oleh penyidik ataupun penuntut umum. Sebab dalam forum itu pihak penyidik atau penuntut umum wajib membuktikan bahwa tindakannya sah dan tidak melanggar hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk keperluan tersebut tentu saja pihak penyidik ataupun penuntut umum harus membuktikan bahwa dia memiliki semua syarat-syarat hukum yang diperlukan, baik berupa syarat-syarat formal maupun materiil, seperti misalnya surat perintah penangkapan atau penahanan, adanya dugaan keras telah melakukan tindak pidana yang didukung oleh bukti permulaan yang cukup, ataupun dalam hal penahanan adanya alasan yang nyata dan konkrit bahwa si pelaku akan melarikan diri, menghilangkan barang bukti atau mengulangi kejahatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu, melalui forum praperadilan ini juga dipenuhi syarat keterbukaan (transparancy) dan akuntabilitas publik (public accountability) yang merupakan syarat-syarat tegaknya sistem peradilan yang bebas dan tidak memihak serta menjungjung tinggi hak asasi manusia. Dengan adanya transparansi dan akuntabilitas publik ini maka dapat dicegah timbulnya praktek-praktek birokrasi yang tertutup dan sewenang-wenang dalam menahan orang ataupun memperpanjang penahanan seperti terjadi pada masa HIR sebagaimana diuraikan di atas. Juga dapat dicegah terjadinya praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) dalam proses membebaskan penahanan. Melalui forum terbuka ini masyarakat juga dapat ikut mengontrol jalannya proses pemeriksaan dan pengujian kebenaran dan ketepatan tindakan penyidik maupun penuntut umum dalam menahan seseorang ataupun dalam hal pembebasan, mengontrol alasan-alasan dan dasar hukum hakim praperadilan yang memerdekakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan dan Kekurangan Sistem Peradilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun secara prinsip, sistem praperadilan tersebut diterima dan diberlakukan dalam UU No. 1 tahun 1981 tentang KUHAP, namun sangat disayangkan tugas dan wewenang praperadilan sangat terbatas. Hal ini disebabkan bukan saja karena keterbatasan wawasan yang dimiliki saat itu, mengingat praperadilan adalah barang baru sama sekali, melainkan juga karena situasi dan kondisi politik yang amat represif saat itu, sehingga tidak memungkinkan dikabulkannya jaminan hak asasi yang lebih luas. Praperadilan yang dirumuskan saat itu harus dilihat sebagai hasil optimal yang bisa dicapai, antara lain juga mengingat konstelasi kekuatan-kekuatan politik baik pihak kepolisian maupun kejaksaan dimasa itu yang umumnya masih kuat berorientasi pada kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Pasal 1 butir ke-10 KUHAP, Praperadilan adalah wewenang pengadilan negeri untuk memeriksa dan memutus menurut cara yang diatur undang-undang ini tentang (a) sah atau tidaknya suatu penangkapan dan atau penahanan atas permintaan tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasa tersangka; (b) sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan atas permintaan demi tegaknya hukum dan keadilan; (c) permintaan ganti kerugian atau rehabilitasi oleh tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasanya yang perkaranya tidak diajukan ke pengadilan. Dengan demikian Praperadilan hanyalah menguji dan menilai tentang kebenaran atau ketepatan tindakan upaya paksa yang dilakukan penyidik atau penuntut umum dalam hal yang menyangkut penangkapan dan penahanan, penghentian penyidikan dan penuntutan, serta hal ganti rugi dan rehabilitasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian harus diakui bahwa praperadilan memiliki berbagai kelemahan dan kekurangan, karena: Pertama, tidak semua upaya paksa dapat dimintakan pemeriksaan untuk diuji dan dinilai kebenaran dan ketepatannya oleh lembaga praperadilan, misalnya tindakan penggeledehan, penyitaan dan pembukaan serta pemeriksaan surat-surat tidak dijelaskan dalam KUHAP, sehingga menimbulkan ketidakjelasan siapa yang berwenang memeriksanya apabila terjadi pelanggaran. Disini lembaga praperadilan kurang memperhatikan kepentingan perlindungan hak asasi tersangka atau terdakwa dalam hal penyitaan dan penggeledehan, padahal penggeledahan yang sewenang-wenang merupakan pelanggaran terhadap ketentraman rumah tempat tinggal orang (privacy), dan penyitaan yang tidak sah merupakan pelanggaran serius terhadap hak milik seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, praperadilan tidak berwenang untuk menguji dan menilai sah atau tidaknya suatu penangkapan atau penahanan, tanpa adanya permintaan dari tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasa tersangka. Sehingga apabila permintaan tersebut tidak ada, walaupun tindakan penangkapan atau penahanan nyata-nyata menyimpang dari ketentuan yang berlaku, maka sidang praperadilan tidak dapat ditiadakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, lebih parah lagi sebagaimana ternyata dalam praktek selama ini dalam pemeriksaan praperadilan, hakim lebih banyak memperhatikan perihal dipenuhi tidaknya syarat-syarat formil semata-mata dari suatu penangkapan atau penahanan, seperti misalnya ada atau tidak adanya surat perintah penangkapan (Pasal 18 KUHAP), atau ada tidaknya surat perintah penahanan (Pasal 21 ayat (2) KUHAP), dan sama sekali tidak menguji dan menilai syarat materiilnya. Padahal syarat materiil inilah yang menentukan apakah seseorang dapat dikenakan upaya paksa berupa penangkapan atau penahanan oleh penyidik atau penuntut umum. Tegasnya  hakim pada praperadilan seolah-olah tidak peduli apakah tindakan penyidik atau jaksa penuntut umum yang melakukan penangkapan benar-benar telah memenuhi syarat-syarat materiil, yaitu adanya “dugaan keras” telah melakukan tindak pidana berdasarkan “bukti permulaan yang cukup”. Ada tidaknya bukti permulaan yang cukup ini dalam praktek tidak pernah dipermasalahkan oleh Hakim, karena umumnya hakim praperadilan mengganggap bahwa hal itu bukan menjadi tugas dan wewenangnya, melainkan sudah memasuki materi pemeriksaan perkara yang menjadi wewenang hakim dalam sidang pengadilan negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dalam hal penahanan, hakim tidak menilai apakah tersangka atau terdakwa yang “diduga keras” melakukan tindak pidana berdasarkan “bukti yang cukup” benar-benar ada alasan yang konkrit dan nyata yang menimbulkan kekhawatiran bahwa yang bersangkutan “akan melarikan diri, menghilangkan barang bukti ataupun mengulangi perbuatannya”. Para hakim umumnya menerima saja bahwa hal adanya kekhawatiran tersebut semata-mata merupakan urusan penilaian sebjektif dari pihak penyidik atau penuntut umum, atau dengan lain perkataan menyerahkan semata-mata kepada hak dikresi dari pihak penyidik dan penuntut umum. Akibatnya sampai saat ini masih banyak terjadi penyalahgunaan kekuasaan dan kesewenang-wenangan dalam hal penangkapan dan penahanan terhadap seorang tersangka ataupun terdakwa oleh pihak penyidik ataupun penuntut umum, yang tidak dapat diuji karena tidak ada forum yang berwenang memeriksanya. Padahal dalam sistem habeas corpus act dari negara Anglo Saxon, hal ini justru menjadi tonggak ujian sah tidaknya penahanan terhadap seseorang ataupun boleh tidaknya seseorang ditahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Amerika peranan hakim, tidak hanya terbatas pada pengawasan terhadap tindakan penangkapan dan penahanan yang sudah terjadi, melainkan pada waktu sebelumnya, yaitu sebelum diadakan penahanan, bahkan sebelum dikeluarkannya surat dakwaan. Hakim berwenang memeriksa dan menilai apakah ada alasan dan dasar hukum yang kuat tentang terjadinya peristiwa pidana dan bukti-bukti permulaan yang cukup untuk mendakwa bahwa tersangka memang pelakunya, walaupun pemeriksaan tentang bersalah tidaknya berdasarkan bukti-bukti yang ada baru dilangsungkan kemudian dalam sidang pemeriksaan perkara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakim Komisaris bukan Istilah Baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah hkaim komisaris sebenarnya bukan barang baru di Indonesia, sebab pada saat diberlakukannya Reglement op de Strafvoerdering, hal itu sudah diatur dalam title kedua tentang Van de regter-commissaris berfungsi pada tahap pemeriksaan pendahuluan sebagai pengawas (examinating judge) untuk mengawasi apakah tindakan upaya paksa (dwang middelen), yang meliputi penangkapan, penggeledahan, penyitaan dan pemeriksaan surat-surat, dilakukan dengan sah atau tidak. Selain itu, dalam Reglement op de Strafvoerdering tersebut Hakim Komisaris atau regter-commissaris dapat melakukan tindakan eksekutif (investigating judge) untuk memanggil orang, baik para saksi (Pasal 46) maupun tersangka (Pasal 47), mendatangi rumah para saksi maupun tersangka (Pasal 56), dan juga memeriksa serta mengadakan penahanan sementara terhadap tersangka (Pasal 62). Akan tetapi setelah diberlakukan Herziene Indische Reglement (HIR) dengan Staatsblad No. 44 Tahun 1941, istilah regter-commissaris tidak digunakan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya istilah Hakim Komisaris mulai muncul kembali dalam konsep Rancangan Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang diajukan ke DPR pada tahun 1974, pada masa Prof. Oemar Seno Adjie, S.H., menjabat sebagai Menteri Kehakiman. Dalam konsep ini, Hakim Komisaris memiliki wewenang pada tahap pemeriksaan pendahuluan untuk melakukan pengawasan pelaksanaan upaya paksa (dwang middelen), bertindak secara eksekutif untuk ikut serta memimpin pelaksanaaan upaya paksa, menentukan penyidik mana yang melakukan penyidikan apabila terjadi sengketa antara polisi dan jaksa, serta mengambil keputusan atas keberatan-keberatan yang diajukan oleh pihak-pihak yang dikenakan tindakan. Latar belakang diintrodusirnya Hakim Komisaris adalah untuk lebih melindungi jaminan hak asasi manusia dalam proses pidanan dan menghindari terjadinya kemacetan oleh timbulnya selisih antara petugas penyidik dari instansi yang berbeda. Penangkapan dan penahanan yang tidak sah merupakan pelanggaran serius terhadap hak asasi kemerdekaan dan kebebasan orang. Penyitaan yang tidak sah merupakan pelanggaran serius terhadap hak milik orang, dan penggeledahan yang tidak sah merupakan pelanggaran terhadap ketentraman rumah tempat kediaman orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika diteliti lebih jauh, dasar pemikiran adanya hakim komisaris dalam sistem Eropa Kontinental, antara lain Belanda, sebenarnya tidak bisa dilepaskan daripada fungsi hukum acara pidana yang bertujuan mencari dan menemukan kebenaran sejati serta menjalankan atau melaksanakan hukum pidana materiil. Hukum pidana materiil memiliki asas fundamental bahwa tidak ada suatu tindak pidana tanpa ada undang-undang yang mengatur sebelumnya (nullum delictum nulla poena praviae siena lege poenali). Assa ini yang dimuat dalam pasal 1 Wetbook van Straftrecht Belanda, mempengaruhi keseluruhan proses hukum acara pidana, baik di dalam penyidikan, penuntutan maupn penggeledahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk seseorang yang dinyatakan sebagai tersangka atau terdakwa, maka hukum acara mensyaratkan harus adanya dugaan keras bahwa orang tersebut bersalah melakukan suatu tindak pidana. Begitu pula seseorang yang ditahan harus dipenuhi syarat bahwa ada cukup bukti bahwa orang tersebut bersalah terhadap tindak pidana yang dilakukannya. Demikian juga didalam hal memasuki rumah seseorang (menggeledah), harus ada dugaan keras bahwa telah terjadi tindak pidana. Sebab, jika tidak dipenuhi syarat-syarat tersebut maka pihak tersangka dapat melakukan perlawanan (verzet) yang dapat dibenarkan hakim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dapat dimengerti munculnya fungsi hakim komisaris dalam sistem Eropa Kontinental seperti Belanda bertujuan mengawasi jalannya proses hukum acara pidana khususnya pelaksanaan wewenang pihak eksekutif, dalam hal ini pihak penyidik dan penuntut umum yang dalam rangka mencari bukti pada pemeriksaan pendahuluan melakukan tindakan-tindakan upaya paksa berupa penangkapan, penahanan, penggeledahan, penyitaan dan pembukaan surat-surat. Dengan demikian pengawasan hakim komisaris ini pada dasarnya merupakan hak kontrol dari pihak yudikatif (control van rechterlijkemacht) terhadap eksekutif. Karena itulah hakim diberi wewenang yang demikian luas mencampuri bidang tugas penyidik maupun penuntut umum dalam hal pemeriksaan pendahuluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun demikian di Negeri Belanda sendiri sampai sekarang, masih menjadi persoalan sampai sejauh mana batasan wewenang hakim komisaris dalam mengawasi pemeriksaan pendahuluan, karena dianggap mencampuri bidang eksekutif yaitu bidang penyidikan yang merupakan wewenang penyidik dan atau kejaksaan selaku penuntut umum. Sebab, misalnya dikhawatirkan pada saat seorang hakim komisaris memasuki bidang eksekuif dan harus berhadapan dengan masalah kebijakan, maka hakim tidak akan bisa lagi bersikap netral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakim Komisaris menurut RUU KUHAP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakim Komisaris menurut RUU KUHAP memiliki kewenangan yang lebih luas dari Praperadilan. Menurut Pasal 75 RUU KUHAP Hakim Komisaris memiliki tugas dan kewenangan untuk (a) menentukan perlu tidaknya diteruskan penahanan yang dilakukan oleh Penyidik atau Penuntut Umum; (b) menentukan perlu tidaknya penghentian penyidikan atau penuntutan yang dilakukan oleh Penyidik atau Penuntut Umum; (c) menentukan perlu tidaknya pencabutan atas penghentian penyidikan atau penuntutan yang dilakukan oleh Penyidik atau Penuntut Umum; (d) menentukan sah atau tidaknya suatu penyitaan, penggeledahan tempat tinggal atau tempat yang lain yang bukan menjadi milik Tersangka; (e) memerintahkan Penyidik atau Penuntut Umum membebaskan tersangka atau terdakwa dari tahanan sebelum berakhir masa penahanan tersebut, jika terdapat dugaan kuat adanya penyiksaan atau kekerasan pada tingkat penyidikan atau penuntutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas dan wewenang Hakim Komisaris tersebut dilakukan dengan permohonan atau tanpa permohonan oleh tersangka atau terdakwa, keluarga, atau kuasanya kepada Hakim Komisaris. Dengan demikian tindakan Hakim Komisaris pada tahap pemeriksaan pendahuluan bersifat aktif, dan berfungsi baik sebagai examinating judge maupun investigating judge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar dan Kritik terhadap model Hakim Komisaris dibandingkan dengan Lembaga Praperadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui, tugas dan wewenang HakiM Komisaris sebagaimana dirumuskan dalam RUU KUHAP ternyata lebih luas daripada wewenang Hakim Praperadilan. Karena tidak hanya terbatas pada penangkapan dan penahanan ataupun penghentian penyidikan dan penuntutan melainkan juga perihal perlu tidaknya diteruskan penahanan ataupun perpanjangan penahanan, perlu tidaknya penghentian penyidikan   atau penuntutan, perlu tidaknya pencabutan atas penghentian penyidikan atau penuntutan, sah atau tidaknya penyitaan dan penggeledahan, serta wewenang memerintah penyidik atau penuntut umum untuk membebaskan tersangka atau terdakwa jika terdapat dugaan kuat adanya penyuiksaan ataupun kekerasan pada tingkat penyidikan ataupun penuntut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun demikian menurut hemat saya model hakim komasaris yang pada dasarnya mengambil model pengawasan yang menjadi tradisi sistem peradilan Eropa Kontinental seperti halnya Belanda, mengandung beberapa kelemahan mendasar dibandingkan dengan lembaga praperadilan. Pertama, dilihat dari konsep dasarnya, kedua sistem tersebut memiliki konsep yang berbeda, seklaipun tujuannya sama yaitu sama-sama melindungi hak asasi manusia terhadap tindakan upaya paksa yang dilakukan oleh penyidik dan penuntut umum. Dalam kekuasaan negara, yakni hak kontrol dari kekuasaan kehakiman (yudikatif) terhadap jalannya pemeriksaan pendahuluan yang dilakukan pihak eksekutif berdasarkan wewenangnya. Sedangkan lembaga praperadilan bersumber pada hak habeas corpus yang pada dasarnya memberikan hak kepada seseorang yang dilanggar hak asasinya untuk melakukan perlawanan (redress) terhadap tindakan upaya paksa yang dilakukan oleh penyidik atau jaksa dengan menuntut yang bersangkutan dimuka pengadilan agar mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan membuktikan bahwa upaya paksa yang dilakukan tersebut tidak melanggar hukum (ilegal) melainkan sah adanya. Disini tekanan diberikan pada hak asasi yang dimiliki tersangka atau terdakwa sebagai manusia yang merdeka, yang karena itu tidak dapat dirampas secara sewenang-wennag kemerdekaannya (menguasai diri orang, “that you have the body”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan hakiki tersebut membawa konsekuensi bahwa dalam konsep hakim komisaris, kemerdekaan seseorang amat digantungkan pada “belas kasihan” negara, khususnya kekuasaan kehakiman untuk melaksanakan fungsi pengawasannya terhadap pihak eksekutif (penyidik dan penuntut umum) dalam  menjalankan pemeriksaan pendahuluan. Sedangkan dalam konsep praperadilan, kemerdekaan orang itu memberikan hak fundamental padanya untuk melawan dan menuntut negara, dalam hal ini pihak eksekutif yaitu penyidik dan penuntut umum, untuk membuktikan bahwa tindakan upaya paksa yang dilakukan negara benar-benar tidak melanggar ketentuan hukum yang berlaku dan hak asasi manusia, dan jika yang bersangkutan tidak berhasil membuktikannya maka orang tersebut harus dibebaskan dan mendapatkan kembali kebebasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, sistem pemeriksaan oleh Hakim Komisaris pada dasarnya bersifat tertutup (internal) dan dilaksanakan secara individual oleh hakim yang bersangkutan terhadap penyidik, penuntut umum, saksi-saksi bahkan juga terdakwa. Sekalipun pemeriksaan itu dilakukan secar objektif dan profesional, namun karena sifatnya yang tertutup maka tidak ada transparansi dan akuntabilitas publik, sebagaimana halnya  proses pemeriksaan sidang terbuka dalam forum praperadilan. Akibatnya masyarakat (publik) tidak dapat turut mengawasi dan menilai proses pemeriksaan pengujian serta penilaian hakim terhadap benar tidaknya, atau tepat tidaknya upaya paksa yang dilakukan oleh penyidik ataupun jaksa penuntut umum. Dalam kondisi sekarang, syarat transparansi dan akuntabilitas publik ini amat diperlukan, terutama dalam menghadapi korupsi, kolusi dan nepotisme yang sudah melanda bidang peradilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, pengawasan oleh hakim komisaris dalam sistem peradilan Eropa Kontinental, antara lain Belanda, merupakan bagian integral dari keseluruhan sistem pengawasan hierarkis, yang dilakukan Hakim (justitie), terhadap Jaksa (Openbaar Ministrie) dan Kepolisian. Dalam sistem tersebut, hakim mengawasi jaksa, dan selanjutnya jaksa mengawasi polisi sebagai satu kesatuan sistem pengawasan integral yang harmonis dan serasi. Maka apabila konsep ini mau diterapkan, syaratnya ketiga fungsionaris tersebut (Hakim, Jaksa dan Polisi), sekalipun masing-masing merupakan instansi yang berdiri sendiri, namun didalam bidang peradilan atau proses poemeriksaan perkara dari tingkat penyelidikan, penyidikan, penuntutan sampai dengan pemeriksaan dimuka persidangan pengadilan secara fungsional adalah merupakan satu rangkaian hierarki kesatuan fungsi yang berbagi tugas dan wewenang namun saling melengkapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem ini dahulu pernah dimiliki oleh negara kita sebagai bekas jajahan Belanda sesuai asas konkordansi. Namun sejak Dekrit 5 Juli 1959 sistem tersebut sudah dirobah (retool), sesuai dengan tuntutan Demokrasi Terpimpin, dimana ketiga instansi tersebut masing-masing menjadi berdiri sendiri-sendiri dan terpisah secara tajam. Masing-masing instansi menolak campur tangan instansi lainnya, seperti Kejaksaan menolak campur tangan hakim, dan Kepolisian juga menolak campur tangan hakim, dan Kepolisian juga menolak campur tangan Kejaksaan. Hal ini dapat kita lihat pada waktu diajukannya model hakim komisaris dalam konsep RUU KUHAP tahun 1974, dimana timbul keberatan-keberatan dari pihak kepolsian maupun kejaksaan, karena menganggap bahwa pengawasan dalam tingkatan pemeriksaan pendahuluan adalah wewenang masing-masing instansi penyidik yaitu kepolisian dan kejaksaan. Akibatnya sistem kontrol secara hierarkis dan terpadu hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, menurut hemat saya, dalam kondisi seperti sekarang ini, amatlah sulit diharapkan berjalannya sistem pengawasan dengan menggunakan model Hakim Komisaris, sekalipun misalnya diberikan kewenangan berdasarkan undang-undang. Andaikatapun model hakim komisaris ini hendak diterapkan kembali sesuai RUU KUHAP maka implikasinya adalah merombak kembali seluruh tatanan sistem peradilan kita sekarang ini, untuk dikembalikan pada sistem tradisi Eropa Kontinental seperti pernah berlaku dahulu di jaman berlakunya Strafvordering (Rs.V). hal ini berarti bahwa semua perundang-undangan yang berlaku sekarang ini yang menyangkut sistem peradilan harus diubah kembali, baik UU Pokok Kekuasaan Kehakiman (UU No. 14 tahun 1970), UU Pokok Kejaksaan (UU No. 5 Tahun 1991) dan maupun UU Pokok Kepolisian (UU No. 28 tahun 1997).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya saya tidak keberatan diterapkan model Hakim Komisaris dalam Hukum Acara Pidana kita, asalkan kita sanggup melakukan tugas berat tersebut. Mengingat  situasi dan kondisi politik sekarang ini saya sendiri menyangsikan bahwa perombakan total sistem peradilan tersebut dapat kita lakukan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan dan Rekomendasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan segala sesuatu yang diuraikan di atas, penerapan Hakim Komisaris dalam sistem peradilan kita, khususnya dibidang pemeriksaan pendahuluan kiranya belum saatnya untuk diterapkan, mengingat sistem peradilan yang berlaku sekarang ini masih berjalan sendiri-sendiri dan belum terpadu. Oleh karena itu, saya berpendapat bahwa dilihat secara praktis lembaga praperadilan lebih feasible untuk dipertahankan dengan menambahkan semua tugas dan wewenang baru tersebut, yang berarti memperluas kewenangan hakim praperadilan, maka dapat diharapkan lembaga praperadilan sebagai forum yang terbuka dan accountable mampu melakukan pengawasan secara lebih efektif terhadap jalannya proses peradilan khususnya pemeriksaan pendahuluan di negara kita dan pada gilirannya lebih menjamin hak-hak asasi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 27 November 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Newsletter KHN, April 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;&lt;h2 align="center"&gt;Daftar program iklan di blok anda, klik banner di bawah!&lt;/h2&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--&lt;br /&gt;google_ad_client = "pub-0322482754711325";&lt;br /&gt;google_ad_width = 180;&lt;br /&gt;google_ad_height = 60;&lt;br /&gt;google_ad_format = "180x60_as_rimg";&lt;br /&gt;google_cpa_choice = "CAAQzfWy0gEaCGOEGCY-FTmsKL3D93MwAA";&lt;br /&gt;//--&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-1755978886091127104?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/1755978886091127104/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=1755978886091127104' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/1755978886091127104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/1755978886091127104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2008/02/praperadilan-versus-hakim-komisaris.html' title='PRAPERADILAN VERSUS HAKIM KOMISARIS'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-5196141083639908127</id><published>2008-11-08T19:26:00.002+07:00</published><updated>2009-07-07T18:21:04.974+07:00</updated><title type='text'>Legitimasi dan Manajemen Eksekusi Mati di Indonesia</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Heru Susetyo *)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pertengahan Juli 2008 publik Indonesia kembali tersentak. Eksekusi hukuman mati, yang diduga hanya sekedar gertakan, dan tak benar-benar dilaksanakan, ternyata betul-betul terjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 19 Juli 2008, tiga terpidana mati, (Sumiarsih dan Sugeng) dieksekusi di Jawa Timur, dan satu lagi (Tubagus Maulana Yusuf alias Dukun Usep) dieksekusi di  Lebak Banten. Uniknya, ketiga terpidana mati sebelumnya dipenjara dengan durasi yang sangat jauh berbeda.  Sumiarsih dan Sugeng, Ibu dan Anak yang terlibat pembunuhan keluarga Letkol Purwanto pada 13 Agustus 1988, telah menjalani nyaris dua puluh tahun penjara, sebelum akhirnya dieksekusi. Sebaliknya, Dukun Usep, yang terbukti membunuh delapan orang klien-nya pada 2006 – 2007, baru menjalani satu tahun penjara saja sebelum akhirnya dieksekusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, eksekusi mati terhadap Fabianus Tibo, Dominggus Da Silva, dan Marinus Riwu, terpidana mati dalam kasus kerusuhan Poso pada bulan September 2006 lalu,  mengagetkan dunia penegakan hukum Indonesia.  Pasalnya, hukuman mati dan eksekusi mati biasanya terjadi untuk terpidana kasus narkoba seperti kasus Ayodhya Prasad Chaubey, terpidana mati kasus narkoba, yang telah dieksekusi pada 5 Agustus 2004 dan pembunuhan berencana, seperti kasus Ny. Astini, terpidana mati kasus pembunuhan dengan mutilasi, yang telah dieksekusi pada 20 Maret 2005.  Namun,  dalam kasus Tibo dkk, berlaku juga untuk pelaku kekerasan dalam konflik bernuansa SARA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula, banyak pihak menduga bahwa hukuman mati hanya sekedar gertakan demi menimbulkan efek jera, dan tak pernah benar-benar dilaksanakan. Ada kesan telah tercipta moratorium (jeda eksekusi mati). Apalagi, banyak sudah terpidana mati di Indonesia namun tak semua benar-benar dieksekusi. Ada yang dirubah hukumannya menjadi seumur hidup, ada yang mendapat grasi presiden, ada yang kemudian bebas setelah menjalani hukuman penjara puluhan tahun.  Sebaliknya, ada pula yang layak dihukum mati, semisal para koruptor kelas berat, namun masih saja bebas berkeliaran bahkan menghilang tak tentu rimbanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksekusi mati terhadap Sumiarsih dan Sugeng setelah mereka nyaris dua puluh tahun menjalani penjara dan terhadap Dukun Usep yang baru setahun dipenjara, menimbulkan pertanyaan legitimasi maupun manajemen (baca: hukum acara)  eksekusi mati di Indonesia.  Apakah eksekusi mati memang harus dilakukan dan memiliki legitimasi dalam sistem hukum Indonesia maupun hukum internasional? Pertanyaan kedua adalah, apakah memang terpidana mati harus menunggu sangat lama (death row) sebelum akhirnya benar-benar dieksekusi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menolak Eksekusi Mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalangan yang tidak setuju dengan pidana mati beralasan bahwa hukuman mati adalah hukuman yang sangat kejam,  di luar perikemanusiaan dan melanggar hak asasi manusia (HAM),  utamanya hak hidup. Juga, sebagai salah satu bentuk pidana, hukuman mati dianggap tak menimbulkan efek edukatif terhadap masyarakat. Lalu, apabila di kemudian hari ditemukan kesalahan dalam penjatuhan vonis, hukuman tersebut tak dapat dikoreksi karena sang terpidana telanjur dieksekusi.  Hal ini sangat mungkin terjadi mengingat pengadilan di Indonesia belum terbukti benar-benar bersih, independen, dan profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada contoh menarik terkait eksekusi mati terhadap terpidana mati. Timothy McVeigh,  mantan tentara AS veteran perang teluk, melakukan pemboman gedung FBI (Alfred P. Murrah Federal Buiding) di Oklahoma City-USA pada 19 April 1995. Ia kemudian dipidana mati dan akhirnya dieksekusi mati pada 11 Juni 2001.  Kendati ia telah terbukti bersalah dan dituntut di sebelas negara bagian yang berbeda sebagai pelaku kejahatan yang menewaskan 168 jiwa,  namun tak sedikit kalangan yang membelanya supaya dia tak dijatuhi hukuman mati.  Menariknya,  dari kalangan yang membela tersebut ada juga keluarga dari para korban pengeboman.  Mereka mengatakan :”Dia (Tim Mc Veigh) memang telah melakukan kejahatan dengan membunuh orang-orang yang tak berdosa.  Namun, jangan sampai kita mengulangi kesalahan yang dilakukannya dengan mengambil nyawanya juga”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan dasar hukum, legalitas penolakan terhadap hukuman mati datang dari beberapa instrumen HAM internasional antara lain: (1) Second Optional Protocol to the International Covenant on Civil and Political Rights, (2) Protocol to the American Convention on Human Rights to Abolish the Death Penalty, (3) Protocol No 6 to the European Convention for the Protection of Human Rights and Fundamental Freedoms 1982 (European Convention on Human Rights), dan (4) Protocol No 13 to the European Convention for the Protection of Human Rights and Fundamental Freedoms 2002 (European Conventon on Human Rights).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari empat instrumen di atas, hanya instrumen pertama yang bersifat internasional. Sedangkan ketiga instrumen berikutnya bersifat regional. Second Optional Protocol to the International Covenant on Civil and Political Rights (SOP) yang memiliki kekuatan secara hukum (entry into force) sejak 11 Juli 1991 hingga kini telah diratifikasi oleh 50 negara dan ditandatangani oleh 7 negara lainnya (UNHCHR, 2006). Protokol ini mewajibkan bagi negara-negara yang telah meratifikasinya (state parties) untuk menghapuskan eksekusi dan hukuman mati dalam legislasi maupun dalam praktiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Second Optional Protocol mendalilkan perlunya hukuman mati dihapus, dengan merujuk pada pasal 3 Deklarasi Universal HAM (Universal Declaration of Human Rights) yang berbunyi: "Setiap orang memiliki hak untuk hidup, hak atas kebebasan, dan hak atas keamanan (life, liberty, and security of person), juga pada pasal 6 Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights ICCPR) yang berbunyi: "Setiap orang mempunyai hak yang tak terpisahkan dan dilindungi oleh hukum, yaitu hak untuk hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amnesty International (2006) menyebutkan bahwa sampai saat ini ada 129 negara yang telah menghapuskan hukuman mati (death penalty). Dari jumlah tersebut, 88 negara menghapus hukuman mati secara total, 11 negara memberlakukannya secara sangat spesifik, yaitu hanya untuk kejahatan di waktu perang (war time), dan 30 negara masih mempertahankannya dalam hukum nasionalnya namun tak pernah lagi melaksanakannya dalam praktik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, 68 negara sampai kini masih memberlakukan hukuman mati dalam hukum nasionalnya. Di antaranya adalah Amerika Serikat (pada 37 negara bagiannya), Jepang, Korea (utara dan selatan), India, Singapura, Malaysia, dan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut catatan Amnesty lagi,   selama tahun 2005 minimal 2148 terpidana telah dieksekusi di 22 negara dan 5186 lainnya telah divonis mati di 53 negara.   Dari jumlah tersebut,  94% dari total eksekusi terjadi di empat negara saja, masing-masing China, Iran, Saudi Arabia, dan USA.  Satu perkiraan kasar dari Mark Warren (Amnesty, 2006) menyebutkan bahwa total terpidana mati yang tengah menanti eksekusi di dunia berkisar antara 19.474 – 24.546 jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempertahankan Eksekusi Mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati hukuman mati telah ditolak oleh nyaris dua pertiga negara di dunia, tak urung masih ada sekitar 68 negara yang masih mempraktekkannya.  Dari 68 negara tersebut,  hanya Amerika bersama Jepang, Korea Selatan, dan Singapura yang tergolong negara 'maju', di samping beberapa negara petrodollar di Timur Tengah.  Karena, selebihnya adalah negara-negara 'dunia ketiga.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak 1977, saat hukuman mati dihidupkan kembali di AS, tak kurang dari 820 jiwa telah dieksekusi. Pada 2002, sebanyak 71 jiwa telah dieksekusi. Kemudian, per 1 Januari 2002, sekitar 3.700 jiwa telah dijatuhi hukuman mati (belum dieksekusi). Hukuman mati masih berlaku di 37 negara bagian di AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jepang bahkan memiliki kasus yang menarik.  Bahwa seorang terpidana dijatuhi hukuman mati hanya karena menculik dan membunuh seorang gadis kecil bernama, Kaede Ariyama (7 tahun) pada November 2004 di daerah Nara.   Kaoru Kobayashi, sang terpidana,  divonis mati karena hakim berpendapat bahwa kejahatannya sangat sadis dan ia tak mungkin dapat direhabilitasi.  Maka,  tak mungkin menghentikan kejahatannya kecuali ia harus dipidana mati sebagai kompensasi kejahatannya ((Daily Yomiuri, 27 September 2006). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia sendiri,  legalitas hukuman mati paling tidak berasal dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) untuk pasal pembunuhan berencana, Undang-Undang tentang Narkotika dan Psikotropika 1997, UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi 1999 &amp; 2001, UU Pengadilan HAM 2000 dan UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di level masyarakat Indonesia sendiri,  hukuman mati tidak pernah menjadi isu yang sangat serius. Minimal sampai eksekusi mati Tibo dkk.  Masih banyak praktek adat dan kebiasaan  di beberapa masyarakat di Indonesia yang memang  ‘mentolerir pengadilan jalanan’  sebagai bagian dari nilai budaya yang hidup. Juga,  masih lekat pengaruh dari hukum agama,  sebutlah hukum pidana Islam yang memang mengatur hukuman mati untuk jenis kejahatan tertentu (Hadd/Qishas).  Kendati hukum pidana Islam bukanlah bagian dari hukum positif di Indonesia (terkecuali untuk Nanggroe Aceh Darussalam untuk sebagian wilayah pidana), namun  sebagian masyarakat muslim menganggapnya sebagai bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan muncul ketika pascareformasi 1998 Indonesia banyak melahirkan Undang-Undang bernuasan HAM, antara lain UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM, dilanjutkan dengan ratifikasi terhadap dua Kovenan Internasional,  masing-masing International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) dan International Covenant on Economic Social and Cultural Rights (ICESCR) pada tahun 2005.    Mandat dari instrumen HAM tersebut (ICCPR)  antara lain adalah negara harus menghargai hak hidup dan mewajibkan negara memiliki policy dan legislasi yang benar-benar melindungi hak hidup dan martabat kemanusiaan.  Maka,  kendati tidak secara eksplisit menyerukan hukuman mati,   hadirnya instrumen tesebut semakin menegaskan kesenjangan yang terjadi dengan produk perundang-undangan Indonesia yang mengatur hukuman mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen Eksekusi Mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan tugas dari pembuat hukum dan pengambil kebijakan di negeri ini untuk meninjau kembali pelaksanaan eksekusi mati di Indonesia.  Apakah hukuman mati memang masih diperlukan di negeri ini?  Bagaimanakah menyikapi kesenjangan yang terjadi antara perundang-undangan Indonesia yang mengatur hukuman mati dengan instrumen HAM yang cenderung menghapuskan hukuman mati?  Bagaimanakah meningkatkan kinerja, profesionalisme, dan independensi badan-badan peradilan sehingga dapat benar-benar menciptakan keadilan bagi masyarakat?  Dan, akhirnya,  bagaimanakah meningkatkan kesejahteraan rakyat secara umum melalui program-program pembangunan yang berkeadilan, sehingga, potensi rakyat untuk melakukan kejahatan  akibat kemiskinan yang dideritanya dapat terus diminimalisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, yang harus diperhatikan adalah memperbaiki manajemen dan hukum acara eksekusi  mati di Indonesia. Mengapa harus memenjara orang hingga dua puluh tahun kalau akhirnya dieksekusi mati juga?   Dan bukan hanya kasus Sumiarsih dan Sugeng. Sudah cukup banyak terpidana mati yang menunggu bertahun-tahun lamanya (death row) sebelum akhirnya dieksekusi mati.  Harapan-harapan yang sempat dibangun oleh terpidana mati karena diperkenankan hidup puluhan tahun setelah jatuhnya vonis mati, pupus sudah.  Sementara itu, puluhan lainnya yang sudah dijatuhi hukuman mati dan tengah menanti eksekusi mati ataupun tengah mengajukan upaya hukum lain (PK atau Grasi) menjadi semakin gelisah. Mereka telah ‘dieksekusi mati’ sebelum benar-benar dieksekusi mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data Kejaksaan Agung RI tahun 2006 menyebutkan, pasca eksekusi Tibo dkk,  jumlah seluruh terpidana mati di kejaksaan di seluruh Indonesia ada delapan puluh sembilan (89) orang dan yang sudah dinyatakan final serta berkekuatan hukum tetap (legally binding) ada delapan (8).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu ada revisi mendasar terhadap hukum acara pidana mati.  Selama ini, berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHAP) tahun 1981 dikenal adanya proses di pengadilan tingkat pertama (pengadilan negeri atau pengadilan militer), kemudian tingkat banding (pengadilan tinggi), tingkat kasasi di Mahkamah Agung, peninjauan kembali (PK) apabila ada alat bukti baru di Mahkamah  Agung, dan akhirnya permohonan grasi kepada Presiden.  Namun tidak pernah ada kejelasan berapa kali proses peninjauan kembali (PK) maupun permohonan grasi dapat dilakukan.  Maka, perlu ada kejelasan ataupun amandemen terhadap hukum acara sejauh menyangkut pidana mati ini, demi penghargaan terhadap hak-hak terpidana, keluarganya, maupun hak-hak korban kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mengeksekusi mati juga perlu dikaji kembali.  Apakah sudah cukup efektif dengan menggunakan tembakan (senjata api) oleh sekelompok polisi yang selalu terjadi di tempat rahasia setelah sebelumnya kucing-kucingan dengan wartawan?  Ataukah ada cara lain yang lebih efektif dan meringankan penderitaan sang terpidana semisal suntikan mati misalnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para terpidana mati memang barangkali telah berbuat kejahatan. Telah menimbulkan korban dan  penderitaan. Namun jangan sampai negara dan juga masyarakat melakukan pembalasan dan penderitaan berlebihan. Bagaimanapun para terpidana mati masih memiliki hak-hak dan telah menjalani sanksi sosialnya selama menjalani penjara.  Maka, tinjau kembali legalitas hukuman matinya. Kalaupun akhirnya harus dieksekusi mati, pilihlah cara yang paling ringan dan membuat mereka tidak lama menderita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Penulis adalah mahasiswa Program Doktor Human Rights &amp; Peace Studies Mahidol University – Thailand/Staf Pengajar Tetap Fakultas Hukum UI - Depok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : &lt;a href="http://www.hukumonline.com/detail.asp?id=19827&amp;cl=Kolom"&gt;Hukumonline&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wakil-rakyat.html"&gt;Komisioner Pilihan (Wakil) Rakyat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/terorisme-dalam-sistem-peradilan-pidana.html"&gt;Terorisme dalam Peradilan Pidana&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/pergeseran-makna-terorisme.html"&gt;Pergeseran Makna Terorisme&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/kerahasiaan-data-ppatk.html"&gt;Kerahasiaan Data PPATK&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/12/panwas-pemilu-bukan-sekedar-mengawasi.html"&gt;Panwas (dan) Pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/sistem-hukum-indonesia_05.html"&gt;Sistem Hukum Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/09/kegagalan-peradilan-spp-anak.html"&gt;Kegagalan SPP Anak&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/08/tersendatnya-proses-hukum-dalam-pesta_03.html"&gt;proses hukum dalam pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2006/10/kpk-dan-pemberantasan-korupsi.html"&gt;KPK dan Korupsi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-0322482754711325";
/* 336x280, created 1/14/10 */
google_ad_slot = "1724941329";
google_ad_width = 336;
google_ad_height = 280;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31982370-5196141083639908127?l=jodisantoso.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jodisantoso.blogspot.com/feeds/5196141083639908127/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31982370&amp;postID=5196141083639908127' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/5196141083639908127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31982370/posts/default/5196141083639908127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jodisantoso.blogspot.com/2008/11/legitimasi-dan-manajemen-eksekusi-mati.html' title='Legitimasi dan Manajemen Eksekusi Mati di Indonesia'/><author><name>M. Jodi Santoso</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12776303191541471980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_NC-V7Q67SaI/SV9TWX2qD1I/AAAAAAAACHU/f6pkgTOJeWc/S220/jodi+sendiri+2.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31982370.post-6184122942644677502</id><published>2008-11-08T19:22:00.004+07:00</published><updated>2009-11-03T13:02:12.180+07:00</updated><title type='text'>Hukuman Mati Dari Masyarakat Tradisional Sampai Modern</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;                        Oleh &lt;br /&gt;                        Eddy Rifai dan Yusanuli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJATUHAN hukuman mati dengan cara dipancung terhadap tenaga kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi cukup mendapat reaksi keras dari kalangan masyarakat Indonesia, antara lain berkaitan dengan benar tidaknya perbuatan TKI membunuh majikan dan kerasnya sanksi pidana mati yang diterapkan pemerintah Arab Saudi. Padahal dalam sejarah perkembangan masyarakat modern, sanksi pidana mati telah banyak mengalami perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitannya dengan hukum, sejarah adalah fakta hukum. Fakta hukum yang pernah ada dan terjadi di masa lampau, masa kini dan proyeksinya di masa depan. Demikian halnya dengan pidana mati. Ia merupakan reaksi yang paling keras atas delik, karena tidak memberi kesempatan kepada pelaku untuk memperbaiki perilaku pelanggaran norma-norma yang telah disepakati bersama sebagai tatanan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;vPidana mati dapat pula dipandang sebagai bentuk keputusan hukum dalam menghadapi penjahat dan kejahatan. Kejahatan tidak mungkin diberantas habis, yang mungkin bisa dilakukan adalah menguranginya. Salah satu cara yang dipilih hukum untuk mengurangi kejahatan adalah dengan menghilangkan pelaku kejahatan yang dipandang tidak dapat diperbaiki, atau pelaku kejahatan tersebut melakukan perbuatan pidana tertentu yang tidak mungkin diampuni oleh hukum, karena kualitas perbuatannya dipandang mengancam ketertiban, ketenteraman dan rasa kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun banyak negara sampai dengan saat ini masih menerapkan pidana mati, karena adanya pelbagai alasan di atas, tetapi penerapan dan penjatuhan pidana mati mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan masyarakatnya. Hal itu sesuai dengan pendapat Sir Henry James Summer Maine, seorang ahli sejarah Hukum Inggris "Dalam perjalanan sejarah hukum pidana dan pemidanaan menunjukkan ada kaitan antara sistem hukum pidana dan pemidanaan dengan keperluan masyarakat yang ada di sekitarnya" (Encyclopaedia Americana, 1977).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula Indonesia, meskipun sampai sekarang menerapkan pidana mati, tetapi penerapan dan penjatuhannya mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan fase-fase masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                     ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA fase pertama, penjatuhan pidana mati dilaksanakan dengan mengandalkan kekuatan alam sepenuhnya, tanpa bantuan alat tertentu sebagai hasil kebudayaan manusia. Dari catatan inventarisasi cara-cara pelaksanaan penjatuhan pidana mati yang termasuk dalam klasifikasi ini adalah "dibiarkan di tengah terik matahari tanpa makan dan minum", "dibakar pada suatu tiang", atau "ditenggelamkan di laut".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari cara yang digunakan, maka dapat diduga bahwa lingkungan masyarakat di sekitar penjatuhan pidana mati dengan cara-cara di atas terjadi pada masyarakat yang memiliki ciri ketergantungan pada alam yang besar, terutama karena tingkat teknologi pembuatan alat-alat yang belum berkembang, dan ciri pengorbanan terhadap alam dan kepercayaan akan adanya kekuatan-kekuatan yang tidak nampak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan selanjutnya dari fase pertama ini adalah dijatuhkannya pidana mati terhadap anggota masyarakat karena kesalahannya dianggap sebagai penyebab terganggunya alam, seperti pelanggaran dalam berburu hewan, pelanggaran terhadap upacara-upacara tertentu untuk menghormati dewa matahari dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada fase kedua, ketergantungan manusia pada alam sedikit berkurang. Ia telah mampu menciptakan alat-alat untuk kebutuhan hidupnya, antara lain tembaga untuk berburu, pisau untuk menguliti daging hewan, sementara pola pertanian bercocok-tanam sudah dikenal, walaupun masih berpindah-pindah.&lt;br /&gt;Dalam fase ini, pelaksanaan pidana mati dilakukan dengan alat-alat tertentu yang selama ini dipandang sebagai sarana yang efektif untuk menimbulkan kematian, seperti yang dipakai untuk membunuh hewan. Beberapa cara yang dapat diinventarisasi adalah "dibunuh dengan lembing", "daging badan terpidana dipotong", atau "kepala terpidana ditombak".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini tergambar bahwa cara melaksanakan pidana mati memiliki hubungan yang erat dengan perkembangan budaya manusia dalam bentuk alat yang telah diciptakannya serta kemajuan dalam peradaban yang dicapainya. Nilai-nilai atau norma-norma masyarakat yang hendak dilindungi dengan melaksanakan sanksi pidana mati pun tidak bergeser dari perkembangan peradaban manusia pada saat itu. Penjatuhan pidana mati bukan lagi semata-mata untuk menyeimbangkan keadaan akibat murkanya dewa, tetapi juga ditimpakan pada manusia yang dipandang sebagai penyebab timbulnya kerusakan dan malapetaka pada orang lain. Di sini alasan penjatuhan pidana mati adalah pembalasan&lt;br /&gt;atas perbuatan pelaku, yang untuk selanjutnya pelaku harus juga menderita sama dengan yang telah ditimpakan pada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan berikutnya, kepercayaan pada kekuatan alam mulai bergeser menuju pada kekuatan salah satu di antara mereka yang kuat, yaitu 'sang pemimpin'. Nilai-nilai atau norma-norma hukum yang hendak dilindungi juga bergeser, dari pelanggaran terhadap hubungan-hubungan dengan alam ke hubungan-hubungan dengan pemimpin mereka, yang disebut raja. Perlindungan terhadap kepentingan atau kehormatan raja menjadi sangat penting. Mukah dengan istri raja misalnya, dihukum mati. Mencuri barang milik kerajaan dihukum mati. Juga mencuri barang milik tamu raja dihukum mati. Namun, bila&lt;br /&gt;pelanggaran tersebut tidak dilakukan terhadap kepentingan raja, maka pidana mati bisa diganti dengan pidana lain. (Hamzah, 1985).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Norma-norma tersebut untuk selanjutnya terus berkembang dengan perkembangan kebudayaan peradaban manusia, sehingga nilai-nilai atau norma-norma yang dikembangkan untuk selanjutnya dilindungi dengan hukum juga berkembang, dari melindungi kepentingan-kepentingan raja menuju perlindungan terhadap kepentingan-kepentingan yang sifatnya umum, kepentingan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sinilah untuk selanjutnya dikenal pidana mati bagi mereka yang berzinah dengan istri orang lain (Aceh, Gayo, Minangkabau, Lampung, dan lain-lain).  Nilai-nilai yang bersifat umum ini terus berkembang, menjadi nilai yang harus dijaga agar tidak terjadi pelanggaran dengan menerapkan sanksi pidana yang berat berupa pidana mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                     ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA fase ketiga yang perlu dicatat adalah adanya penetrasi kebudayaan barat yang masuk dalam tata nilai budaya Indonesia. Satjipto Rahardjo (1979) manulis bahwa: "Kontak-kontak antara Indonesia dengan dunia barat merupakan masa perhubungan yang di belakang hari menimbulkan persoalan sosial dan kebudayaan yang besar, yang barang tentu mempunyai hubungan yang erat dengan hukum di negeri ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penetrasi kebudayaan Barat, yang secara langsung mempengaruhi tata hukum Indonesia dalam masalah pidana mati, telah dimulai pada tahun 1808, ketika Daendels mengeluarkan Plakat tertanggal 22 April 1808, di mana diperintahkan bahwa untuk melaksanakan putusan pidana mati, yang diperkenankan hanyalah dua cara, yaitu "dibakar hidup-hidup pada suatu tiang", atau "dimatikan dengan keris". Selanjutnya, penetrasi tersebut tidaklah berhenti sampai di situ. Pada perkembangan berikutnya, Hindia Belanda mengeluarkan peraturan hukum pidana yang terkenal dengan nama Intermaire Strafbepalingen LNHB Nr 6 Pasal 1 yang intinya menentukan bahwa pidana mati hanya boleh dilakukan dengan cara digantung. (Hamzah, 1985).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berhasil mempengaruhi tata hukum pidana Indonesia, yang dalam hal ini tentunya hukum pidana adat berkaitan dengan pelaksanaan penjatuhan pidana mati, Pemerintah Hindia Belanda selanjutnya pada tahun 1915 memaksakan kehendaknya dengan memberlakukan Kitab Undang-undang Hukum Pidana Belanda (WvSNI) berlaku untuk seluruh wilayah jajahan. Hakim pidana pada pengadilan negara tidak dapat lagi memakai hukum pidana adat dan adat istiadat sebagai strafbaar. Pasal 1 ayat (1) Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), yang diberlakukan oleh Belanda tersebut, tidak memberi&lt;br /&gt;kesempatan hukum yang tidak tertulis, yang tidak terwadahi dalam undang-undang, dalam hal ini hukum pidana adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan pidana mati menurut KUHP yang diberlakukan oleh Belanda tersebut tercantum dalam Pasal 11 yang menyatakan bahwa: "Hukuman mati dijalankan oleh algojo ditempat penggantungan, dengan menggunakan sebuah jerat di leher terhukum dan mengikatkan jerat itu pada tiang penggantungan dan menjatuhkan papan tempat orang itu berdiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                     ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA fase keempat Indonesia dikuasai oleh pemerintah bala tentara Jepang. Pada masa ini ada dua peraturan hukum pidana yang berlaku, yaitu WvSNI dan peraturan hukum pidana yang dikeluarkan oleh bala tentara Jepang. Dalam Pasal 6 Osamu Gurei No. 1 ditetapkan bahwa hukuman mati harus dilaksanakan dengan bedil (Han Bing Siong, 1960).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian ada dua cara pelaksanakan hukuman mati yaitu dengan cara digantung dan ditembak. Pertanyaan yang timbul adalah kapan pidana mati dilakukan dengan cara digantungkan dan kapan pula pidana mati dilakukan dengan cara dibedil. Berkaitan dengan hal ini Han Bing Siong menyatakan bahwa: "Tergantung dari persoalan, peraturan hukum pidana mana yang dilanggar. Jika peraturan hukum pidana dari dahulu (WvSNI) maka hukuman mati dilakukan dengan cara digantung, akan tetapi jika tindak pidana itu merupakan pelanggaran terhadap suatu peraturan dari pemerintah bala tentara Jepang, maka hukuman mati harus dilaksanakan dengan cara ditembak mati".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pemerintah bala tentara Jepang mengeluarkan Gunsei Keizerei atau Undang-undang Kriminal Pemerintah Bala Tentara Jepang pada tanggal 1 Juli 1944 yang keberadaannya tidak meniadakan WvSNI, sehingga cara pelaksanaan pidana mati setelah dikeluarkannya Gunsei Keizerei tetap ada dua cara, yaitu dengan ditembak dan digantung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, menurut Pasal II Aturan Peraturan Peralihan UUD 1945 jo Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 1945 dikatakan bahwa "peraturan lama dipandang tetap berlaku", dalam hal ini WvSNI dan peraturan hukum pidana pemerintah bala tentara Jepang, sehingga cara pelaksanaan hukuman mati sama dengan cara yang berlaku pada masa pendudukan Jepang, yaitu ditembak atau digantung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanda pada tahun 1945 datang lagi ke Indonesia dengan membonceng pada tentara sekutu, selanjutnya menguasai dan menduduki beberapa wilayah Indonesia. Melalui Stb. 1945 No. 123 dalam Pasal 1 dikatakan bahwa hukuman mati dilaksanakan dengan cara ditembak. (Salmi, 1985). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1946 pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan UU No. 1 Tahun&lt;br /&gt;1946, Pasal 1 mengatakan bahwa peraturan hukum pidana yang berlaku sekarang&lt;br /&gt;ialah peraturan hukum pidana yang ada pada tanggal 8 Maret 1942.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memperhatikan dan mempelajari latar belakang lahirnya Undang-undang&lt;br /&gt;No. 1 Tahun 1956 dapat diketahui bahwa peraturan tentang pelaksanaan pidana&lt;br /&gt;mati yang berlaku adalah peraturan peninggalan Belanda WvSNI yang selanjutnya disebut dengan WVS yang diterjemahkan sebagai KUHP. Ketentuan Pasal 11 KUHP mengharuskan hukuman mati dilaksanakan dengan cara digantung&lt;br /&gt;dan di daerah yang masih dikuasai Belanda berlaku Stb. No. 123 yang mengharuskan pelaksanaan hukuman mati dengan cara ditembak, keadaan ini&lt;br /&gt;berlangsung sampai tahun 1958.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan UU No. 73 Tahun 1958 yang&lt;br /&gt;isinya menyatakan berlakunya UU No. 1 Tahun 1945 untuk seluruh Indonesia,&lt;br /&gt;maka cara pelaksanaan pidana mati dilakukan dengan digantung, sesuai dengan&lt;br /&gt;ketentuan Pasal 11 KUHP. Pelaksanaan pidana mati dengan cara digantung&lt;br /&gt;berlaku sampai dengan tahun 1964.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui Penetapan Presiden No. 2 Tahun 1964 Pasal 1 pelaksanaan penjatuhan&lt;br /&gt;pidana mati di Indonesia tidak lagi dilaksanakan dengan cara digantung,&lt;br /&gt;karena dipandang tidak sesuai lagi dengan jiwa bangsa Indonesia, untuk&lt;br /&gt;selanjutnya pidana mati dilaksanakan dengan cara ditembak sampai mati, yang&lt;br /&gt;berlaku sampai hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat perkembangan penjatuhan pidana mati yang ada dalam fase ini, yaitu&lt;br /&gt;selama kurun waktu kemerdekaan sampai tahun 1946, sebelum dikeluarkannya&lt;br /&gt;Penetapan Presiden No. 2 Tahun 1964 terlihat bahwa pemerintah Indonesia&lt;br /&gt;melaksanakan putusan pidana mati dengan cara melegalisir penetrasi kebudayaan asing. Indonesia baru menentukan sikapnya di antara beberapa cara pelaksanaan pidana mati yang sesuai dengan perkembangan jiwa bangsa Indonesia, rasa kemanusiaan bangsa Indonesia, atau lebih lanjut perkembangan peradaban bangsa Indonesia melalui Penetapan Presiden No 2 Tahun 1964 dengan cara ditembak sampai mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas, dapat diprediksi gambaran dari tata hukum Indonesia di masa akan datang masih akan tetap menggunakan cara melaksanakan pidana mati dengan ditembak sampai mati, mengingat cara ini di samping kelebihannya tanpa menggunakan algojo juga masih selaras dengan "rasa kemanusiaan" yang ada dalam rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( * Eddy Rifai, peserta Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Indonesia;&lt;br /&gt;Yusanuli, peserta Magister Hukum Universitas Diponegoro, Semarang. ) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : Kompas dalam http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1997/10/30/0003.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=CurtarqjUuI%3D&amp;cid=1mKE6FR8OXo%3D&amp;chan=HZ48896eFAw%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=000000&amp;url=2BA94F" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel Lain &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/10/korupsi-uang-hasil-korupsi.html"&gt;Korupsi-uang-hasil-korupsi &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/09/raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak.html"&gt;Raisya-dan-agenda-perlindungan-hak-anak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* &lt;/span&gt; &lt;a href="http://jodisantoso.blogspot.com/2007/08/komisioner-pilihan-wak
